Kisah Kepala Sekolah Tunanetra Jadi Inspirasi, UNISA Kuningan Dorong Kampus Lebih Inklusif

KUNINGAN (MASS) – Hambatan penglihatan bukan halangan untuk memimpin, berkarya, dan menorehkan prestasi. Pesan ini mengemuka dalam Pelatihan Peningkatan Kompetensi Dosen dan Tenaga Kependidikan dalam Pemanfaatan Media dan Teknologi Asistif untuk Pembelajaran Inklusif yang diselenggarakan Universitas Islam Al-Ihya Kuningan (UNISA Kuningan) melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD).

Salah satu pengalaman yang menarik perhatian peserta datang dari Kokoy Kurnaeti MPd, seorang kepala sekolah dengan hambatan penglihatan yang tetap mampu menjalankan peran kepemimpinan, mengembangkan kapasitas diri, dan meraih berbagai prestasi di bidang pendidikan.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa disabilitas tidak semestinya menjadi penghalang bagi seseorang untuk memperoleh kesempatan, mengembangkan potensi, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Sebaliknya, lingkungan pendidikan perlu memastikan tersedianya dukungan yang memungkinkan setiap individu berkembang sesuai kemampuannya.

Kegiatan yang berlangsung di UNISA Kuningan itu menghadirkan dua narasumber dari SLBN Taruna Mandiri, yakni Marlinda Ratnasari Sukandi SPd Gr. dan Kokoy Kurnaeti SPd MPd. Keduanya berbagi pengalaman serta praktik baik dalam menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik penyandang disabilitas.

Melalui sesi berbagi pengalaman dan diskusi, para peserta diajak memahami bahwa pendidikan inklusif tidak cukup hanya dengan membuka akses masuk ke lembaga pendidikan. Diperlukan pula metode pembelajaran, media, teknologi, serta layanan akademik yang mampu mengakomodasi kebutuhan setiap mahasiswa.

Rektor UNISA Kuningan, Dr Nurul Iman Hima Amrullah MSi, menegaskan komitmen universitas untuk menjadi kampus ramah disabilitas.

“Pendidikan tinggi harus mampu memberikan ruang bagi setiap mahasiswa untuk belajar, membangun potensi, serta meraih prestasi tanpa terhalang oleh kondisi disabilitas yang di miliki,” ujarnya, Kamis (22/10/2026).

Karena itu, peningkatan kompetensi dosen dan tenaga kependidikan menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan akademik yang inklusif. Pemahaman terhadap kebutuhan mahasiswa perlu diikuti kemampuan menerapkan pendekatan pembelajaran yang tepat, termasuk melalui pemanfaatan teknologi asistif.

Sementara itu, Ketua ULD UNISA Kuningan, Dr Nur Rohmatillah, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 21 mahasiswa penyandang disabilitas di UNISA Kuningan dengan beragam kebutuhan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian ULD dalam mengembangkan pendampingan dan dukungan akademik yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa. Menurutnya, layanan disabilitas tidak hanya berkaitan dengan bantuan individual, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya kampus yang mampu memahami dan menerima keberagaman.

Dalam praktik pembelajaran, media dan teknologi asistif dapat membantu mahasiswa penyandang disabilitas mengakses materi perkuliahan, mengikuti kegiatan akademik, berkomunikasi, serta berpartisipasi secara lebih mandiri. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.

Pelatihan ini sekaligus menjadi ruang refleksi bagi sivitas akademika bahwa keberhasilan pendidikan inklusif membutuhkan keterlibatan bersama. Pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, program studi, dan ULD memiliki peran dalam memastikan layanan pendidikan dapat diakses secara layak oleh seluruh mahasiswa.

“UNISA Kuningan berharap peningkatan kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan dapat mendorong penerapan prinsip inklusivitas secara nyata, baik dalam proses pembelajaran maupun pelayanan akademik,” harapnya. (didin)