Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass

Inspiration

Kisah Inspiratif Penderita Skoliosis yang Terus Berkarya dalam Keterbatasan

KUNINGAN (MASS) – Taqdir memang selalu membawa jalannya masing-masing. Kadang hidup sangat berat untuk dijalani, atau memang tak ada hidup yang mudah untuk dijalani. Hanya semangat dan pantang menyerah dan serta syukur yang membuat hidup lebih indah.

Semangat hidup dan motivasi itu, bisa dilihat dari Diny Kartini, perempuan kelahiran tahun 1990 itu, sejak lahir mengidap kelainan pada tulang belakang. Skoliosis itulah sebutnya., dimana tulang punggungnya berbentuk S, mengakibatnya punduk sebelah kirinya memiliki benjolan dan bengkak.

Diny mengaku, awalnya perempuan yang terlahir kembar itu tidak tahu apa-apa soal keadaanya. Sejak SD, meski sudah terlihat, dirinya tidak pernah tahu kenapa benjolan di punduk sebelah kirinya tersebut.

“SD itu udah banyak yang nanya, SMP makin bengkak, SMA juga. Temen-temen udah banyak yang nanya, ya gimana aku juga belum tau apa,” ujarnya pada kuninganmass.com Sabtu (1/5/2020) sore.

Ia bercerita, mulai merasa minder ketika masuk SMA. Dirinya yang sedari dulu ceria, seketika berubah menjadi pendiam. Bengkok di punggungnya juga semakin parah dan terlihat. Dirinya juga menjadi perempuan yang tak banyak bergaul.

“Lulus SMA aku kerja di klinik. Aku merantau tuh di Pekalongan,” cerita Diny lebih lanjut.

Di tempat kerjanya itulah dirinya diberi tahu kalau punggungnya mengalami kelainan tulang punggung. Diny memutuskan untuk pergi rontgen dan harus menerima kenyataan bahwa dirinya mengidap skoliosis dengan kemiringan yang sudah cukup parah, 90 derajat.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Abis itu, mulailah aku cari-cari informasi, apa itu skoliosis. Pas tahu, aku sampe nangis gitu di warnet,” ceritanya.

Perempuan yang kini tinggal di Cigugur tersebut mengaku setelah mengetahuinya sempat menambahnya tidak percaya diri da drop. Bahkan, bebebrapa kali dirinya sering membatalkan niat perjalanan hanya karena di jalan ada orang yang berkumpul.

“Ke dokterlah, aku nanya-nanya ternyata skoliosis bisa sembuh tanpa operasi kalo kemiringannya dibawah 40 derajat. Tapi kan udah lebih tuh, kalo operasi biayanya Rp100 juta. Dulu kan belum ada BPJS ya, dan kondisi itu aku belum cerita juga orang tua,” terangnya.

Kondisi hatinya mulai berubah, ketika rekan-rekannya di tempat kerja memberinya motivasi dan treatmen untuk lebih tangguh menjalani hidup. Dalam 6 bulan selanjutnya, Diny merasa terlahir kembali. Menerima keadaan diri sendiri, percaya pada diri sendiri dan lebih ceria.

“Aku mulai berani nulis di blog, berbaur sama yang lain. Pokoknya berubah lah meskipun punggung belum diobati. Tapi jadi lebih percaya aja. Aku sampe menantang diri sendiri, pindah ke Subang buatcari kerja baru. Berbaur dengan orang baru yang lebih banyak,” imbuhnya.

Namun keadaan masih saja tak mudah. Beberapa kali Diny gagal masuk perusahaan karena masalah tinggi. Sempat masuk, lalu dipecat karena masalah tingginya ketahuan bos luar negeri. Meski begitu, Diny tak menyerah dan terus mengirimkan lamaran-lamaran ke perusahaan, hingga akhirnya diterima di salah satu perusahaan garmen.

Awalnya, diakui Diny, banyak diantara pegawai lama yang ‘ngomongin’ karena kondisi punduknya. Namun, karena Diny saat itu sudah lebih supel dan terbuka, dirinya merasa sangat enjoy dan berbaur sehingga sedikit demi sedikit semakin membaik.

“Kerja udah dua tahunan, aku juga udah diangkat. Pas itu, aku sering sakit migrain. Gak enak kan banyak alfa. Kebetulan aku juga waktu di kostan lagi baca buku 7 keajaiban rezeki buat yang mau usaha, kek punya dorongan aja buat resign, padahal belum tau mau usaha apa,” ceritanya ketika mulai terjun di dunia usaha.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Diny bercerita awalnya sempat membuka warung di tempat kost. Sempat juga berganti-ganti usaha secara offline dengan kemampuannya menjahit dan merakit kain flanel. Sebelum akhirnya konsisten di penjualan secara online, busy book buku mainan anak yang berbahan kain flanel.

“Aku udah coba segala ya kalo offline. Aku inget di buku itu ada kata-kata, daripada memperbaiki kekuranganmu, lebih baik mengasah kelebihanmu. Kebetulan aku emang suka dunia online, yaudah aku fokusin sampe sekarang,” terangnya.

Usahanya yang dirintis sejak 2015 itu mulai menuai lonjakan hasil yang signifikan setelah melewati tahun 2018. Hingga kini omsetnya dalam sebulan mencapai jutaan rupiah hanya dari menjahit dan meproduksi busybook. Seluruh karyanya bisa dilihat di ig @bintangkecilbusybook dengan follower belasan ribu.

“Akhir 2017 aku pulang karena Allah kasih jalan buat operasi lewat BPJS. Usaha busy book di rumah tetap jalan sambil nunggu jadwal operasi pertengahan 2018. Singkat cerita Juli 2018 aku operasi. Si tulang bengkok itu diluruskan, tapi engga bisa lurus banget karena drajatnya udah besar kemudian disangga oleh pen/Titanium dan baut baut,” tuturnya.

Ternyata kesehatannya masih belum membaik, 1 minggu setelah operasi ternyata ada baut longgar di punggung atas dan membuat benjolan sebesar telur puyuh.

“Rasanya sakit banget. Tadinya aku udah bisa jalan jadi engga bisa apa apa. Lalu dijadwalkan operasi ke 2 , 2 minggu setelah operasi pertama. Selama nunggu itu kaya bener bener lumpuh, bangun juga ngga bisa, sholat berbaring cuma pake isyarat kedipan mata. Sempet putus asa dan kayanya mustahil banget bisa normal lagi,” sebutnya.

Recovery operasi ke-2 ternyata cukup lama, sekitar 1 bulan sebelum akhirnya bisa berjalan. Beberpaa pesanan dalam masa recovery pun terpaksa dicancel dan refund cukup besar, jutaan untuk beberapa pesanan.

Singkat cerita, Diny merasa sehat dan usaha kembali lancar. Namun punggungya kembali terasa, ada benjolan ujung pen. Selain rasanya yang menyakitkan, punggungnya pun terus memerah. Namun, dirinya masih melakukan produksi.

Advertisement. Scroll to continue reading.

”Akhir 2019 itu aku kontrol ke Bandung, dan ternyata bener si ujung pen udah mau tembus kulit, dijadwalkan operasi lagi. Tapi belum ada kepastian karena antri. Ya udahlah aku milih pasrah aja. Aku menyibukkan diri untuk melupakan rasa sakit dengan menulis, bikin busybook, main gitar, ikut bukusam. Sampai tiba tiba si ujung pen itu udah tembus kulit sekitar 5 cm, di punggung atas,” ceritanya.

Diny hanya berdoa cuma berdoa supaya cepet dapat jadwal. Jadwal yang sebelumnya diperkirakan akhir tahun 2020, ternyata jadi lebih cepat dan bisa melakukan operasi ke-3 pada tanggal 24 Maret lalu.

“Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Sekarang lagi masa recovery tapi aku tetep menjahit dan menulis. Ngga pernah terbayangkan juga aku harus masuk operasi sampe 3 kali. Tapi karena Allah kasih aku skoliosis makanya ada niat yang kuat supaya aku bisa mandiri , aku bisa berkarya dengan keterbatasanyang ada,” ujarnya di akhir wawancara. (eki)

 

Advertisement
Advertisement
Advertisement

You May Also Like

Advertisement