KUNINGAN (MASS) – Kemarau berkepanjangan mulai dirasakan dampaknya oleh petani di Desa Cijagamulya, Kecamatan Ciawigebang. Salah seorang petani bahkan mengaku sudah sekitar empat bulan tidak bisa bercocok tanam akibat sulitnya mendapatkan air untuk mengairi lahan pertanian.
Kondisi tersebut diketahui Kuninganmass.com saat menemui salah seorang petani, Rohmat, pada Kamis (24/9/2026). Ia mengatakan, lahan pertanian yang biasanya digunakan untuk menanam padi kini terpaksa dibiarkan karena tidak tersedia cukup air.
Menurut Rohmat, kondisi itu sudah berlangsung sejak musim kemarau melanda wilayah tersebut. Bagi petani yang mengandalkan sawah tadah hujan, ketersediaan air menjadi sangat menentukan untuk memulai musim tanam.
“Sudah sekitar empat bulan tidak bisa menanam. Airnya sulit, jadi sawah terpaksa dibiarkan,” tuturnya.
Ia menyebut, persoalan air tidak hanya terjadi di lahan miliknya. Kondisi serupa juga dirasakan di rumahnya. Sumur yang biasanya menjadi sumber air untuk kebutuhan sehari-hari kini mulai mengering.
“Di rumah juga sumur sudah tidak ada air. Kalau butuh air, harus mengambil ke sumur milik tetangga atau ke kebun,” ujarnya.
Menurutnya, sulitnya mendapatkan air turut berdampak terhadap kondisi ekonomi keluarga petani. Tidak adanya aktivitas bercocok tanam membuat petani kehilangan salah satu sumber penghasilan yang selama ini diandalkan.
“Kalau tidak bisa menanam, penghasilan juga ikut terganggu. Kami berharap ada solusi untuk masalah air ini,” tandasnya.
Kondisi itu menjadi tantangan bagi petani sawah tadah hujan. Mereka tidak hanya menghadapi ancaman gagal tanam, tetapi juga harus memenuhi kebutuhan sehari-hari ketika lahan pertanian belum dapat kembali produktif. Ia berharap kondisi kemarau segera berakhir dan sumber air kembali tersedia sehingga petani dapat kembali mengolah lahannya.
“Yang kami butuhkan sekarang air. Kalau air tersedia, kami bisa kembali menanam dan bekerja,” pungkasnya. (raqib)