KUNINGAN (MASS) – Kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) tercatat telah mencapai sekitar 50 hektare. Menghadapi musim kemarau yang berlangsung cukup panjang, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat patroli untuk mencegah meluasnya kebakaran.
Kepala BTNGC Toni Anwar SHut MT mengatakan, kondisi kemarau yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, termasuk di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai.
Hal itu disampaikan Toni usai kegiatan sosialisasi dan serah terima bantuan di ruang rapat BTNGC Kuningan, Selasa (22/9/2026).
“Sekarang ini kita mengalami situasi kemarau yang cukup panjang. Per bulan Juni, Juli, Agustus, September ini sampai sekarang sudah banyak kejadian,” ujar Toni.
Menurutnya, BTNGC telah membentuk tim brigade pengendalian kebakaran hutan sejak Juni lalu. Pembentukan tim tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran selama musim kemarau.
Selain menyiapkan tim, BTNGC juga mendirikan posko kebakaran dan meningkatkan kegiatan patroli di kawasan taman nasional. Patroli dilakukan tidak hanya melalui jalur darat, tetapi juga menggunakan drone.
“Termasuk patroli udara yang dilakukan tiap hari melalui drone. Itu dilaksanakan selama seharian. Tiap jam kita naikkan drone, mulai jam 6 sampai jam 6 sore,” katanya.
Sementara pada malam hari, petugas menggunakan drone thermal yang dapat membantu mendeteksi sumber panas di kawasan hutan.
Langkah itu dilakukan untuk mendeteksi lebih awal apabila muncul asap atau indikasi kebakaran. Jika ditemukan titik yang berpotensi menimbulkan kebakaran, petugas akan segera turun ke lapangan untuk melakukan penanganan.
Dalam penanganannya, BTNGC juga melibatkan masyarakat. Apabila kebakaran berkembang menjadi lebih besar, penanganan dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan unsur TNI, Polri, relawan, serta pemerintah daerah.
“Kita sama-sama bersinergi dalam upaya-upaya penanggulangan kebakaran,” jelas Toni.
Toni menyebut, berdasarkan catatan terakhir, luas kawasan yang terdampak kebakaran di Taman Nasional Gunung Ciremai berada di kisaran 50 hektare.
Ia mengatakan, luasan tersebut masih relatif terbatas dibandingkan sejumlah kawasan taman nasional lainnya yang pernah mengalami kebakaran hingga mencapai ribuan hektare. Meski demikian, setiap kejadian kebakaran tetap menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu ekosistem kawasan konservasi.
Terkait penyebab kebakaran, Toni menyebut faktor manusia menjadi salah satu penyebab dominan berdasarkan data nasional.
“Kalau dari data yang ada, ini data nasional, 90 persen-an itu adalah manusia. Sebagian lainnya adalah alam,” ungkapnya.
Faktor manusia tersebut, lanjutnya, dapat berupa tindakan yang disengaja maupun tidak disengaja. Salah satunya adalah aktivitas membakar sampah yang kemudian tidak terkendali dan merembet ke kawasan hutan.
Karena itu, BTNGC terus meningkatkan kewaspadaan sekaligus mengajak masyarakat untuk ikut mencegah terjadinya kebakaran, terutama selama musim kemarau panjang. (didin)