Jauh Sebelum Tren Mendaki Tek-Tok, Warga Palutungan Sudah Punya Tradisi “Tek-Tok” Ciremai Sejak 1980-an

KUNINGAN (MASS) – Tren pendakian tek-tok yang kini populer di kalangan anak muda ternyata bukan hal baru bagi masyarakat Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Jauh sebelum istilah tek-tok dikenal luas, warga Palutungan telah memiliki kebiasaan mendaki Gunung Ciremai dalam waktu singkat sejak sekitar 1980-an.

Ketua Mitra Pengelolaan Pendakian Gunung Ciremai (MPPGC) Palutungan, Endun Abdullah, mengatakan kebiasaan tersebut lahir dari tradisi warga setempat yang menganggap mendaki Gunung Ciremai sebagai sesuatu yang patut dilakukan oleh masyarakat Palutungan karena berada di lingkungannya.

“Jadi orang tua bilang gini, kalian warga Palutungan masa belum pernah muncak. Kalo dulu namanya bua tek-tok, hanya mendaki saja tapi tidak camping,” kata Endun, Jumat (14/8/2026).

Pada masa itu, warga biasanya mendaki secara berkelompok. Satu keluarga, dua keluarga, hingga beberapa keluarga dapat berangkat bersama-sama menuju puncak Gunung Ciremai.

Waktu keberangkatannya juga berbeda dengan pola tek-tok yang populer saat ini. Warga Palutungan biasanya berangkat setelah melaksanakan salat Isya.

Mereka kemudian mencapai kawasan puncak pada sekitar pagi hari dan setelah itu langsung turun kembali. Endun menyebut kebiasaan tersebut sudah berlangsung sejak dekade 1980-an dan hampir menjadi tradisi masyarakat setempat.

“Kalau warga Palutungan habis Isya langsung berangkat, nyampe puncak sekitar jam 5-an. Itu sudah kebiasaan warga,” ujarnya.

Endun menyebut, istilah tek-tok sendiri baru dikenal sejak sekitar tahun 2000-an. Kini, pola pendakian singkat ini kembali populer dan banyak dilakukan pengunjung dari luar Palutungan.

Namun, pengelola menerapkan pola keberangkatan yang berbeda. Pendaki dari luar daerah biasanya dianjurkan datang sejak sore atau menjelang malam, kemudian beristirahat terlebih dahulu sebelum melakukan registrasi dan memulai pendakian sekitar pukul 23.00 WIB.

Menurutnya, pola tersebut diterapkan agar pendaki memiliki waktu istirahat sebelum melakukan perjalanan panjang.

Pengelola juga memberlakukan batas waktu perjalanan. Apabila pada sekitar pukul 09.00-10.00 WIB pendaki masih berada di Pos 6 atau Pos 7, mereka dapat diminta untuk kembali turun oleh ranger.

Menurut Endun, kondisi di kawasan puncak semakin tidak ideal pada siang hari karena angin yang semakin kencang dan adanya paparan gas belerang.

“Kalau jam 9 atau 10 masih di Pos 6 atau Pos 7, lebih baik balik kanan,” ujarnya.

Aturan tersebut diterapkan untuk menjaga keselamatan pendaki sekaligus memastikan mereka tidak memaksakan diri mengejar puncak ketika kondisi fisik dan waktu sudah tidak memungkinkan. (didin)