KUNINGAN (MASS) – Menjaga kawasan konservasi tidak selalu berarti menjauhkan masyarakat dari alam. Di Lamping Kidang, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, persoalan kotoran hewan atau kohe justru menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran lingkungan.
Di kawasan yang memiliki aktivitas peternakan sapi tersebut, limbah ternak menjadi persoalan yang perlu dikelola. Kondisi itu kemudian mendorong masyarakat untuk mengolah kohe menjadi pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.
Hal itulah yang diamati lima mahasiswa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam yang menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) pada 14-19 September 2026. Mereka melihat bagaimana persoalan lingkungan di sekitar kawasan konservasi ditangani bersama masyarakat.
Penyuluh Kehutanan BTNGC, Yoesry Hilmi, S Hut, mengatakan pendekatan konservasi tidak cukup hanya dengan menyampaikan aturan kepada masyarakat. Menurutnya, masyarakat perlu dilibatkan agar memahami potensi lingkungan sekaligus memiliki peran dalam menjaga kawasan.
“Kami tidak hanya bicara soal menjaga kawasan, tetapi bagaimana masyarakat juga bisa melihat bahwa potensi di sekitar kawasan dapat dikelola dengan baik. Ketika masyarakat terlibat dan merasakan manfaatnya, di situ konservasi bisa berjalan bersama dengan pemberdayaan,” ujarnya.
Pengelolaan kohe bukan tanpa tantangan, Badan Pengawas Lamping Kidang, Sakum, mengatakan kondisi cuaca menjadi salah satu kendala dalam pengelolaan limbah ternak, terutama ketika musim hujan tiba.
“Masalah kohe sebetulnya masih terus perlu dorongan. Mungkin kalau musim kemarau masih bisa satu sampai dua tangki menampung selama seminggu, tapi kalau sudah musim hujan susah, karena limbahnya akan terus terbawa ke bawah,” tuturnya.
Karena itu, pengelolaan limbah membutuhkan sistem yang terus berjalan, bukan hanya mengandalkan penampungan. Ketika volume limbah meningkat, masyarakat harus memiliki cara agar kohe tetap dapat dimanfaatkan dan tidak menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan.
Hal itu juga menjadi catatan bagi mahasiswa PPL PMI yang ikut melihat langsung aktivitas di Lamping Kidang. Tim PPL menilai keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kunci agar program pemberdayaan tidak berhenti pada kegiatan sesaat.
“Partisipasi aktif masyarakatlah yang menunjukkan bahwa pemberdayaan itu betul-betul ada. Dalam pengelolaannya, masyarakat bukan hanya sebagai subjek, tetapi juga menjadi bagian utama dalam penanganannya,” ujar salah satu mahasiswa Hamdan. (raqib)