KUNINGAN (MASS) – Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) terus menunjukkan komitmennya menjaga produktivitas pertanian. Salah satunya dengan menggelar Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Padi Penyakit Tungro seluas 5 hektare di Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kelompok Tani Bina Karya III Desa Cikaso sebagai respons cepat atas hasil pengamatan lapangan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Kramatmulya. Dimana, hasil observasi menunjukkan adanya potensi perkembangan penyakit tungro yang perlu segera dikendalikan sejak dini agar tidak meluas dan mengganggu produksi padi.
POPT Kecamatan Kramatmulya dari UPTD Brigade Proteksi, Anas Nasrudin, menyampaikan bahwa pengendalian terpadu menjadi langkah penting untuk memutus siklus penyebaran penyakit.
“Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, diperlukan Gerdal di Desa Cikaso agar penyebaran penyakit tungro dapat ditekan dan produktivitas padi tetap terjaga,” jelas Anas.
Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si, hadir langsung dalam pelaksanaan pengendalian OPT. Ia juga memberikan penyuluhan dan sosialisasi teknis terkait pengendalian OPT. Bahkan, Wahyu bahkan turun ke sawah bersama petani melakukan penyemprotan tanaman padi sebagai bentuk pendampingan dan pengawalan langsung dari pemerintah daerah.
“Pengendalian OPT harus dilakukan secara bersama-sama, tepat waktu, dan sesuai rekomendasi teknis. Kehadiran kami di lapangan untuk memastikan petani memahami dan menerapkan langkah pengendalian yang benar,” ujar Wahyu.

Dalam kesempatan tersebut, Wahyu juga menyampaikan optimisme Diskatan Kuningan dalam meningkatkan capaian produksi padi. Pada tahun 2026, Diskatan Kuningan menargetkan surplus padi meningkat menjadi 125.000 ton, dari capaian sebelumnya 120.000 ton.
Ia juga menjelaskan bahwa penyakit tungro merupakan penyakit pada tanaman padi yang disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui serangga vektor wereng hijau. Gejala serangan ditandai dengan daun menguning hingga oranye, pertumbuhan tanaman kerdil, jumlah anakan berkurang, serta malai yang pendek dan tidak terisi sempurna.
“Dampak penyakit tungro sangat serius. Jika tidak dikendalikan dengan baik, dapat menurunkan hasil panen secara signifikan bahkan berpotensi menyebabkan gagal panen. Karena itu, pengendalian harus dilakukan secara terpadu, mulai dari pengamatan rutin, pengendalian vektor, penggunaan varietas tahan penyakit, hingga penerapan pola tanam serempak,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Cikaso, Hidayat Noor, SE, M.Si, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Diskatan Kuningan atas perhatian dan fasilitasi yang terus diberikan kepada petani di wilayahnya.
“Kami sangat berterima kasih kepada Diskatan Kuningan yang terus hadir mendampingi petani. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut demi kemajuan pertanian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Cikaso,” ungkapnya.
Melalui gerak cepat pengendalian OPT dan pendampingan berkelanjutan kepada petani, Diskatan Kuningan optimistis produksi padi daerah dapat terus terjaga dan menjadi fondasi kuat menuju ketahanan pangan dan surplus padi Kabupaten Kuningan tahun 2026. (eki)









