KUNINGAN (MASS) – Seorang laki-laki berkata, ‘Sungguh, malam ini aku akan bersedekah.’ Ia pun keluar membawa sedekahnya, lalu memberikannya kepada seorang pencuri. Keesokan harinya orang-orang membicarakan, ‘Sedekah diberikan kepada seorang pencuri.’ Laki-laki itu berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Aku akan bersedekah lagi.’
Ia kembali keluar membawa sedekahnya, lalu memberikannya kepada seorang perempuan pezina. Keesokan harinya orang-orang membicarakan, ‘Tadi malam seseorang bersedekah kepada seorang perempuan pezina.’ Ia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas seorang perempuan pezina. Aku akan bersedekah lagi.’
Untuk ketiga kalinya, ia keluar membawa sedekahnya, lalu sedekah itu diberikan kepada seorang kaya. Keesokan harinya orang-orang kembali membicarakan, ‘Sedekah diberikan kepada orang kaya.’ Ia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas sedekah yang diberikan kepada pencuri, perempuan pezina, dan orang kaya.’
Kemudian ia didatangi seseorang dan dikatakan kepadanya, ‘Adapun sedekahmu kepada pencuri, mudah-mudahan dengan itu ia menahan diri dari mencuri. Adapun sedekahmu kepada perempuan pezina, mudah-mudahan ia menahan diri dari perbuatan zina.
Sedangkan sedekahmu kepada orang kaya, mudah-mudahan ia mengambil pelajaran sehingga mau menginfakkan sebagian dari apa yang telah Allah karuniakan kepadanya.” (H.r. Bukhari dan Muslim).
Kisah di atas memberikan pelajaran berharga yaitu pentingnya keikhlasan. Dalam Islam, nilai sebuah amal itu tidak hanya diukur dari hasil yang terlihat, akan tetapi juga dari niat ikhlas yang menggerakkannya. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.
“Sesungguhnya setiap amal bergantung kepada niat, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (H.r. Bukhari dan Muslim).
Laki-laki dalam hadis tersebut telah berusaha memberikan sedekah dengan niat yang benar. Ia keluar pada malam hari agar tidak diketahui oleh orang lain. Tidak ada keinginan untuk dipuji, disanjung, ataupun disebut sebagai dermawan. Yang ia cari hanyalah keridhaan dari Allah SWT.
Karena itulah, meskipun secara lahiriah sedekahnya tampak salah sasaran, Allah tetap menerima amal tersebut dan bahkan menjadikannya sebagai sebab datangnya hidayah bagi orang lain. Kebaikan yang dilakukan seseorang terkadang menjadi sebab berubahnya kehidupan orang lain, meskipun ia sendiri tidak pernah menyaksikan perubahan itu.
Pencuri mungkin tersentuh oleh kemurahan hati seseorang hingga memilih meninggalkan pekerjaannya yang haram. Perempuan pezina mungkin menyadari bahwa masih ada kasih sayang dan kebaikan di dunia, lalu bertobat kepada Allah SWT.
Sementara orang kaya yang menerima sedekah bisa jadi merasa malu karena dirinya justru diberi, sehingga hatinya tergerak untuk menjadi dermawan. Semua itu menunjukkan bahwa Allah mampu menjadikan satu amal kecil sebagai pintu lahirnya perubahan besar. Seorang hamba tidak pernah tahu dari mana hidayah itu datang.
Oleh karena itu, jangan meremehkan satu sedekah, satu senyuman, atau satu pertolongan yang diberikan dengan tulus. Bisa jadi, di mata manusia perbuatan itu tampak sederhana, tetapi di sisi Allah ia menjadi sebab terbukanya jalan kebaikan bagi banyak orang.
Semoga Allah membimbing kita agar mampu menjaga keikhlasan dalam setiap amal yang kita lakukan sehingga meraih kebaikan di dunia dan di akhirat. Amin.
Penulis : Imam Nur Suharno (Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat)