KUNINGAN (MASS) – Dalam rangka memperingati haul Presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid sapaan akrabnya Gus Dur, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Universitas Islam Al-Ihya (Unisa) menggelar kajian di Sekretariat HMI Unisa, Kecamatan Cigugur, Jumat (19/12/2026).
Kegiatan itu merupakan bagian dari peringatan wafatnya Gus Dur yang diperingati setiap bulan Desember. Kajian diikuti oleh kader HMI sebagai upaya mengenang sekaligus merefleksikan pemikiran Gus Dur yang dinilai masih sangat relevan dengan kondisi sosial, nasional, hingga internasional saat ini.
Ketua HMI Komisariat Unisa, Bintang, menjelaskan haul Gus Dur tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai ruang refleksi kritis terhadap berbagai fenomena yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, pemikiran dan karya Gus Dur masih menjadi rujukan penting dalam menghadapi tantangan zaman.
“Peringatan haul ini menjadi refleksi bagi kami untuk melihat fenomena-fenomena nasional dan internasional dengan mengkaji kembali pemikiran Gus Dur yang hingga kini tetap relevan,” ujar Bintang.
ia menambahkan, mengkaji pemikiran tokoh bangsa sangat penting bagi mahasiswa, salah satunya agar memiliki fondasi intelektual yang kuat. Menurutnya dengan memahami pemikiran tokoh, mahasiswa diharapkan mampu membangun kerangka berpikir yang tertata, termasuk dalam menyampaikan gagasan dan beretorika secara kritis.
Selain Gus Dur, kajian tersebut juga mengangkat pemikiran Nurcholish Madjid atau yang dikenal dengan sebutan Cak Nur. Keduanya dinilai memiliki kesamaan pandangan mengenai keindonesiaan, ketauhidan, kemodernan, serta nilai-nilai kebangsaan yang inklusif dan progresif.
“Kajian ini salah satu bentuk penghormatan kepada Gus Dur sebagai pemikir dan pembaharu Islam di Indonesia,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, kegiatan haul menghadirkan dua narasumber, yakni Komisioner KPU Kabupaten Kuningan, Aof Ahmad Musyafa MH, dan Dosen Universitas Al-Ihya Kuningan, Sopand MPd.
Aof dalam pemaparannya menyoroti persoalan kesetaraan gender yang masih menjadi masalah sosial hingga saat ini. Ia menegaskan ketidaksetaraan gender merupakan persoalan serius yang harus diatasi demi mewujudkan keadilan sosial.
“Di zaman sekarang masih banyak terjadi ketidaksetaraan gender. Ini merupakan masalah besar dalam kehidupan sosial. Untuk menanggulanginya dibutuhkan kesetaraan, karena dengan kesetaraan kita meniscayakan keadilan bagi masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, Sopandi menyoroti fenomena masyarakat modern yang cenderung bersifat hedonis. Menurutnya, gaya hidup tersebut dapat memicu hilangnya rasa syukur dalam kehidupan sosial.
“Masyarakat sosial pada saat ini cenderung bersifat hedonisme, sehingga memicu kurangnya rasa syukur. Maka dari tiu, penting untuk menanamkan nilai kesederhanaan. Dengan hidup sederhana, kita bisa mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Sang Pencipta, sesuai apa yang dikatakan Gus Dur,” tuturnya.
Melalui kegiatan haul tersebut, HMI Unisa berharap mahasiswa dapat terus meneladani nilai-nilai pemikiran Gus Dur dan tokoh-tokoh bangsa lainnya sebagai bekal dalam membangun kehidupan sosial, keagamaan, dan kebangsaan yang lebih adil dan beradab. (didin)









