Bupati dan Wabup Ibarat Matahari dan Bulan

KUNINGAN (Mass) – Sebagian kalangan menilai sinergitas antara bupati sekarang dengan wabupnya tidak seperti sebelumnya. Kemungkinan besar ini karena keduanya sama-sama memahami tupoksi. Sementara, Wabup Dede Sembada mengibaratkan matahari dan bulan ketika bicara harmonisasi antara bupati dan wabup.

“Wabup Ibarat bulan dan bupati mataharinya. Harus seiring sejalan supaya yang di bumi melihatnya indah,” kata Dede Sembada kepada kuninganmass.com, baru-baru ini.

Ia melanjutkan, matahari tak sepenuhnya mampu menyinari bumi. Cahayanya sampai jam 6 petang. Pada malam hari bulan mengeluarkan sinarnya. Meskipun hanya sepasi atau bulan sabit namun bulan selalu dirindukan.

“Jadi bagaimana kita memerankan. Mindset kita selama ini wabup dipersepsikan ban serep atau pemain cadangan. Padahal seorang pejabat harus berperan sesuai kewenangannya, tak boleh melampaui,” ucapnya.

Sebelum dirinya dilantik jadi wabup Desember 2016, ia mempelajari tupoksi wabup terutama pasal 66 UU 23/2014 tentang pemda. Ternyata di situ ada kewenangan atributif yang melekat pada jabatan wabup. Begitu pula pada UU 30/2014 tentang administrasi pemerintahan.

Kalau melihat kewenangan delegatif dan mandat, seorang wabup menjalankan tugas hanya ketika ditugaskan saja. Tapi saat bicara kewenangan atributif, seorang wabup dapat melangkah meski tidak ditugaskan.

“Yang termasuk kewenangan atributif itu seperti tindaklanjut temuan aparatur pengawasan (Inspektorat dan BPK), memantau penyelenggaraan pemerintahan yang dilakukan perangkat desa dan kelurahan. Kemudian memberi saran dan pertimbangan kepada Bupati baik dipinta maupun tidak,” terang Desem.

Tiap datang ke dinas, Kecamatan, desa atau kelurahan, wabup memposisikan sebagai orang tua. Di keluarga itu menurutnya ada bapak, ibu dan anak. Biasanya anak lebih dekat ke ibu. Namun pengambil kebijakan di keluarga tetap bapak.

“Tapi ketika si ibu ngasih saran ya biasanya nurut, nanti gak dikasih pintu,” guyon Desem seraya tertawa lebar.

Ia menegaskan kembali, matahari dan bulan harus seiring sejalan. Tidak mungkin bisa bertemu dalam satu waktu atau kesempatan. Karena agendanya begitu banyak. Kecuali momentum tertentu seperti hari kemerdekaan.

Pada siang hari, imbuhnya, bulan tak keluar. Sedangkan pada malam hari bulan mulai menyinari. Jika posisi matahari dan bulan  sejajar maka akan terjadi gerhana yang membuat gelap bumi.

Sementara itu, timses dan relawan para bakal calon bupati belakangan ini sudah ramai. Tak terkecuali Desem dengan munculnya Relawan Tumaritis. Kala ditanya keseriusannya untuk maju, dia memberikan jawaban diplomatis.

“Kalau cita-cita tiap orang itu pasti harus punya. Ambisi harus punya. Yang kurang baik itu ambisius,” pungkas Desem. (deden)

 

 

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com