KUNINGAN (MASS) – Kepedulian masyarakat dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan rawan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) kembali ditunjukkan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning.
Secara gotong royong, puluhan relawan MPA mengaktifkan kembali embung penampungan air di sekitar kawasan Bukit Seribu Bintang, Senin (14/9/2026). Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla di tengah kondisi vegetasi yang mulai mengering akibat kemarau.
Embung yang diaktifkan kembali memiliki kapasitas sekitar 4.000 liter. Selain itu, MPA juga menempatkan toren berkapasitas 1.000 liter di titik yang lebih tinggi agar air dapat dialirkan secara gravitasi ke area di bawahnya.
Ketua MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Juniar Arif, S.Hut., mengatakan embung tersebut sebelumnya tidak aktif selama sekitar dua tahun. Relawan kemudian melakukan pemeliharaan instalasi dan saluran air agar kembali berfungsi.
“Yang kita lakukan hari ini mengaktifkan saluran embung yang terputus. Sudah dua tahun lamanya tidak aktif. Kita mengaktifkan kembali instalasi dan aliran airnya,” ujar Nandar.
Menurutnya, penempatan toren di titik tertinggi menjadi bagian penting dari sistem penyediaan air tersebut. Dengan posisi yang lebih tinggi, air dapat dialirkan ke sejumlah titik di bawahnya untuk memudahkan penanganan apabila terjadi kebakaran.
“Di sana masih banyak ilalang dan tanaman perdu. Tanaman endemik seperti puspa juga masih ada, termasuk tanaman endemik yang ditanam sekitar tahun 2022 dan 2023. Jadi sumber air ini penting untuk antisipasi kebakaran,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, sekitar 20 relawan terlibat langsung. Mereka membersihkan embung sekaligus melakukan pemeliharaan instalasi saluran air sepanjang kurang lebih 5 kilometer yang menghubungkan sumber air dengan titik penampungan.
Sumber air berasal dari mata air Sibagawat. Nandar menyebut debit air dari sumber tersebut masih cukup baik meski kondisi kemarau cukup terik. Bahkan, tekanan air dinilai mampu mengalir menuju titik penampungan yang berada di kontur lebih tinggi.
“Dengan kondisi kemarau seperti ini, airnya tetap ada dan debitnya masih lumayan besar, meskipun kita tarik ke kontur yang lebih tinggi,” ujarnya.
Nandar menambahkan, keberadaan embung tidak hanya dipersiapkan untuk menghadapi ancaman karhutla. Saat musim hujan, fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan konservasi, termasuk persemaian, penyimpanan bibit dan pemeliharaan tanaman endemik ciremai dan tanaman MPTS.
Ia juga bilang, MPA juga berencana menambah instalasi penampungan air di sejumlah titik. Salah satu embung yang disiapkan memiliki ukuran sekitar 6 x 4 meter dengan kedalaman sekitar satu meter dan berpotensi menampung hingga 5.000 liter air setelah dilapisi terpal.
“Kita selanjutnya akan membuat instalasi-instalasi baru untuk mempermudah antisipasi kebakaran. Ketika musim hujan, embung ini juga bisa difungsikan untuk menyimpan bibit atau mendukung persemaian dan pemeliharaan tanaman,” kata Nandar.
Langkah tersebut dilakukan secara sukarela oleh para relawan tanpa upah maupun honor harian. Menurut Nandar, keterlibatan masyarakat menjadi modal penting dalam menjaga kawasan Ciremai, terutama masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan konservasi.
Kegiatan itu juga dikoordinasikan dengan pihak pengelola kawasan TNGC. Bagi MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, lanjutnya, keterlibatan masyarakat secara sukarela menunjukkan semakin tumbuhnya kepedulian terhadap konservasi dan perlindungan kawasan Ciremai dari ancaman kebakaran. (eki)