Dunia Tanpa Suara: Cerita Karni, Tunawicara yang Hidup Sendiri di Kananga

KUNINGAN (MASS) – Untuk Nenek Karni, dunia ini tak pernah bising. Tak pernah ada kata, tak pernah ada suara. Hanya ada sunyi dan sepi. Ia memang tak bisa bicara, tunawicara.

Usianya sudah 70. Dalam beberapa tahun ini, Karni tinggal sendirian di rumah sederhana dengan dinding setengah bilik di Desa Kenanga, Kecamatan Cimahi.

Meski tak bisa berkata-kata, ekspresi dan senyuman ramahnya selalu menyambut tamu yang datang. Termasuk saat rombongan dari Yayasan Cahaya Sedekah Kebaikan (YSCK) dan Yayasan Cancer Support Kuningaan datang ke kediamannya.

Dengan isyarat menggunakan tangan, Karni tetap tegar dan ceria, serta ramah pada siapapun yang datang. Padahal, beberapa waktu belakangan, atap rumahnya baru saja ambruk.

Nenek Karni, tunawicara Desa Kananga Kecamatan Cimahi.

Keterbatasan dan musibah itulah yang membuat YSCK dan Yayasan Cancer Support Kuningan datang berkunjung langsung ke Karni. Ketua YSCK, Sari Maryati, memberikan paket bantuan sekaligus menjanjikan perbaikan dinding rumah Karni.

Karena tidak ada yang bisa berbincang langsung, Karni seringkali ditemani sang adik, Yayat (45). Ia banyak bercerita tentang kakaknya, termasuk kenapa akhirnya Karni hidup sendirian.

Karni, kata sang adik, sebelumnya tinggal bersama ayah. Namun, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, kini Karni tinggal sendiri. Dikatakan, Karni sendiri merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Kebanyakan dari saudaranya yang lain merantau di luar kota. Sementara Yayat, sudah memiliki rumah sendiri yang untungnya, berlokasi tidak jauh dari rumah Karni.

Meski Karni kesulitan bicara dan hidup sendiri, juga masuk usia senja, Karni memiliki semangat hidup yang tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Karni mengurus lahan sawah milik tetangganya. Bahkan, Karni juga sempat bekerja merantau ikut saudaranya di Jakarta.

“Semenjak ditinggal Abah (sendiri), karena dulu tinggal sama Abah berdua. Dari kecil nggak bisa bicara. Orangnya mandiri. Kadang tandur garap sawah punya orang lain. Paling sehari dapatnya Rp 50 ribu kalau sampai dhuhur. Tapi kalau sampai sore itu Rp 75 ribu atau Rp 100 ribu. Dulu malah sempat ke Jakarta, ikut saudara merantau kerja cuci piring gitu. Suka ke masjid, sehari-hari suka ke masjid,” tutur Yayat.

Meski cukup mandiri, kata Yayat, saat ada kesulitan atau sekedar ingin menghabiskan waktu, Karni sering pergi ke rumahnya. Termasuk saat kejadian atap rumah Karni jebol diterjang hujan angin beberapa waktu belakangan.

“Kemarin rumahnya sempat roboh karena hujan angin kencang. Banyak yang lapuk juga. Biasanya kalau gitu datang ke rumah minta bantuan pakai isyarat gitu, pakai gerakin tangan. Sering datang ke rumah juga orangnya,” tutur Yayat.

Saat ke rumah Karni, tim YCSK didampingi Kasi Pemerintahan Desa Kenaga, Didi. Saat kunjungan itu, Didi mengamini cerita Yayat, dimana atap rumah Karni sempat roboh karena terkena hujan dan angin kencang.

Kata Didi, peristiwa tersebut terjadi pada habis magrib pada Rabu (11/2/2026). Beruntung saat itu Karni selamat dari kejadian tersebut.

“Angin besar waktu habis magrib, hujan gede juga. Pas jam 8 malam. Baru dibereskan rumahnya itu juga pas bulan puasa. Jadi agak lambat perbaikannya. Harapannya kalau dari kami, kalau ada bencana pemerintah cepat tanggap lah dari terutama dari pihak pemerintah daerahnya,” ucapnya.

Ia juga mengaku, Pemdes dan warga setempat membantu Karni untuk perbaikan atap rumah Karni, meskipin secara keseluruhan rumah Karni belum baik. Didi juga berterima kasih pada YSCK yang sudah datang, dan berencana membantu lebih lanjut. (eki)