KUNINGAN (MASS) – Di tengah hangatnya diskusi Forum Waroeng Rakyat bertema “Pemuda Kuningan di Tahun 2026, Bisa Apa?”, Kamis (8/1/2026), pemandangan justru hadir dari sudut ruangan. Dua bocah kecil tampak berjalan pelan, membawa keranjang dagangan berisi lupis dan klepon yang mereka jual berkeliling.
Sesekali mereka menawarkan dagangan kepada peserta forum yang tengah serius berdiskusi soal masa depan pemuda, peluang, dan harapan Kuningan ke depan.
Namun, ditengah diskusi itu, keranjang yang mereka bawa masih terlihat penuh. Jajanan tradisional itu dijual dengan harga Rp10.000 per bungkus.
Kehadiran dua bocah itu seolah menjadi potret nyata dari tema yang sedang dibahas. Ketika para peserta forum berbicara tentang potensi dan strategi pemuda Kuningan di tahun 2026, dua anak itu justru sudah bergelut dengan realitas hidup, mereka bekerja di usia belia demi membantu ekonomi keluarga.
Tanpa mikrofon, tanpa forum, dan tanpa konsep besar, mereka menjadi pengingat sunyi bahwa masa depan tidak selalu dimulai dari wacana. Tak sedikit anak-anak sejak dini dipaksa memahami arti tanggung jawab, sementara ruang-ruang diskusi masih mencari jawaban atas pertanyaan “bisa apa”.
Kehadiran dua bocah dengan keranjang lupis dan klepon itu meninggalkan pesan yang lebih kuat masa depan pemuda bukan hanya soal rencana, tetapi juga tentang siapa saja yang hari ini belum sempat bermimpi. (didin)









