KUNINGAN(MASS) – Dampak bencana hujan badai dan angin kencang yang menerjang Kecamatan Luragung melumpuhkan fasilitas sarana pendidikan. SMPN 1 Luragung menjadi salah satu bangunan sekolah yang mengalami kerusakan parah pada struktur atap dan plafon bangunan.
Kerusakan tersebut berdampak langsung pada kelangsungan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ratusan siswa, mengingat sejumlah ruang kelas kini dalam kondisi membahayakan. Kepala SMPN 1 Luragung, Drs Dadang Sutisna, MPd, Ia membeberkan sapuan cuaca ekstrem itu berdampak pada belasan ruangan di kompleks sekolah yang dipimpinnya.
“Ada 14 ruangan yang kena imbasnya, terutama plafon. Kemudian kontur bangunan juga bergeser,” ujarnya saat ditemui oleh Kuninganmass.com di ruangannya Selasa (3/11/2026).
Dari belasan ruangan tersebut, Dadang merinci ada tujuh ruang kelas utama yang paling mengkhawatirkan sehingga membutuhkan penanganan medis infrastruktur secepatnya. Hasil pengecekan awal menunjukkan lima kelas di antaranya sudah dalam kondisi mutlak tidak aman dan sama sekali tidak layak digunakan untuk proses belajar mengajar.
“Ada 7 kelas yang memang perlu dipikirkan tindak lanjut tentang KBM. Kekuatan kayu barangkali yang 5 sudah mutlak tidak bisa digunakan karena kayunya,” paparnya.
Pihak sekolah kini tengah menyiapkan skenario darurat dan langkah situasional agar proses pembelajaran siswa tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan jiwa. Opsi pengalihan pembelajaran secara dalam jaringan (online) hingga penggabungan ruang kelas tengah digodok bersama jajaran dewan guru.
“Antisipasinya situasional. Kalau ada hujan ya mungkin KBM bisa diberhentikan, karena kelihatan atap yang paling atas itu memang sudah tidak rata lagi,” tuturnya.
Kondisi memprihatinkan ini memicu desakan keras dari pihak orang tua siswa melalui jajaran komite sekolah. Ketua Komite Sekolah SMPN 1 Luragung, Ir H Yayan Irman Suyana, menegaskan hak pendidikan anak-anak tidak boleh terbengkalai akibat musibah ini.
Ia membeberkan pihak komite sebetulnya sudah jauh-jauh hari mengajukan usulan renovasi karena kondisi atap kayu sekolah yang memang sudah tua dan lapuk dimakan usia.
“Berharap kepada pihak sekolah dan pemerintah untuk secepatnya mengatasi pendidikan anak-anak kami, sehingga anak kami jangan sampai terlantar atau tidak mendapat pendidikan haknya,” tegasnya.
Yayan berharap Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan segera merespons serta menerjunkan bantuan perbaikan darurat.
“Sudah lama kami sering menerima laporan keluhan dari sekolah sering bocor, pas hujan pasti ada masalah dan kendala,” pungkasnya. (raqib)
