Disorot Pegiat Alam, Kuwu Desa Penyangga Bukit Mayana Beberkan Alasan Adanya Jalan Tembusan Sindangjawa-Nangka

KUNINGAN (MASS) – Bukit Mayana di Kecamatan Kadugede tengah disorot pegiat alam yang khawatir akan eksploitasi berlebihan. Bukan tanpa sebab, kekhawatiran itu bermula dari draft reviasi RTRW yang menempatkan Bukit Mayana sebagai kawasan budidaya, bukan kawasan lindung. Kekhawatiran mereka meningkat, karena sudah ada akses jalan beton disana, serta ada potensi wisata.

Tanpa menapikan kekhawatiran pegiat alam, kuwu dari desa penyangga Bukit Mayana meluruskan soal akses jalan tersebut. Kepala Desa Sindangjawa Kecamatan Kadugede Oom Komariah, didampingi Kepala Desa Nangka Kecamatan Kadugede Sukmana, mengatakan bahwa jalan yang menyambungkan Sindangjawa–Kadugede–Nangka itu dibangun oleh TNI, atas permintaan desa.

Jalan dibangun dalam program TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa) pada tahun 2025 kemarin. Khusus soal jalan, pihak desa tidak hanya mendukung, bahkan dalam pelaksanaan pembangunan, baik Pemdes maupun warga, ikut berkontribusi dalam berbagai bentuk, suguhan, tenaga bahkan bambu.

“Dari awal, jalan yang butuh itu ibu (Bu Kuwu) dari Sindangjawa, sehubungan dengan taraf ekonomi pertanian yang memetik cengkeh kopi kapol, (tapi) jalannya susah. Jadi ibu ngobrol ke Pak David (Dandim saat itu),”ucapnya, Senin (20/7/2026).

Meski awalnya diajukan tahun 2024, akhirnya jalan direalisasi tahun 2025 dengan panjang 1.200 meter. “Alhamdulillah manfaatnya sekarang, masyarakat Sindangjawa (menaganggap jalan) bermanfaat sekali. Pertama dari tanah jadi mahal, dari 200 ribu sekarang 750 ribu per bata. Dari taraf ekonomi, untuk jalan, masyarakat bisa mengambil hasil bumi seperti cengkeh kopi kapol bisa dibawa ku motor atau mobil, teu sangsara ku  (tidak susah karena) jalan,” ujarnya.

Selain untuk ekonomi masyarakat, lanjut Kuwu, jalan juga memudahkan untuk ahli ziaroh ke makam syekh Mansur di Bukit Mayana. Peziarah bisa datang siang malam juga bisa. Biasany, kata Kuwu, ahli ziarah ramai pada malam Jumat Kliwon. Sekali ziarah bisa mencapai 100 orang. Dengan ada jalan ini, masyarakat dan peziarah sangat terbantu. Akses Kecamatan Kadugede dan Ciniru juga jadi lebih dekat.

Kuwu juga ditanya soal status tanah-tanah di Bukit Mayana. Ternyata, kepemilikannya tersebar mulai dari GG Desa Kadugede, Sindangjawa, serta peroangan. Kuwu kemudian disinggung soal kekhawatiran pegiat alam tentang kekurangan air dengan kondisi Bukit Mayana saat ini. Kuwu Oom bilang, tidak melimpahnya air di Sindangjawa memang begitu adanya sejak lama. Dimana sumber air bisa dibilang hanya cukup saja, bukan berlebih.  Apalagi jika dihantam 3-4 bulan kemarau, air semakin sulit. Kuwu bilang persoalan air bukan karena keberadaan jalan sekarang.

Jika yang dikeluhkan lagi adalah pembukaan lahan alias gundul, Kuwu tidak menampik masyarakat ada yang hanya suka panennya saja, tapi malas menanam. Padahal, Kuwu juga mengutarakan cita-citanya jika wisata bisa tercipta di Mayana, haruslah yang berbasis menjaga alam, misal wisata religi yang tetap adem dan teduh, jangan yang gersang. “Untuk tahun ini, kalo bisamah Bupati bisa merealisasi penanaman gebyar di Gunung Mayana, tapi pohon yang bisa menyimpan air, karena pohon itu kan ada yang menyerap air, menyiman air dan mengeringkan air,” tuturnya.

Senada, Kepala Desa Nangka Sukmana juga menjabarkan hal serupa. Bedanya, Kuwu Nangka itu membeberkan  bahwa mayoritas warganya memang hidup dari hasil kayu hutan. Namun, masyarakat Nangka selalu melakukan tebang sekaligus tanam,. Hanya saja, untuk menanam pohon itu, di Desa Nangka ada kebiasannya, yakni waktu Kapat, kisaran September – Oktober.

“Memang usahanya Nangka hampir 100% dari kayu. Tanaman dari kecil sampai 4-5 meter ada, pohon Afrika ada yang 60 tahun baru ditebang kemarin, itulah kebanggan saya sebagai orang Nangka,” ucapnya.

Selain menegaskan praktek di desanya adalah tebang tanam, tidak membabat semua pohon, ia juga memastikan bahwa pohon yang ditebang dari lahan-lahan pribadi, bukan pembalakan area terlarang misalnya. Dengan mayoritas warga mencari nafkah dari hutan, adanya jalan yang dibangun tentara, sangat membantu.

“Ada jalan kebantu, operasaional, daya angkut biasanya (butuh biaya) 10-15 juta, sekarang 5-7 juta udah sampai pabrik,” jelasnya.

Disinggung soal kekhawatiran pegiat alam tentang revisi RTRW, Kuwu bilang Desa Nangka dulu punya hutan hijau yang bahkan diganjar penghargaan dari tingkat nasional. “Mudah-mudahan sampai sekarang terjaga,” terangnya sembari menerangkan bahwa Desa Nangka yang luasnya mencapai 197 ha, lahannya masih produktif, tapi hanya untuk tanaman pohon. Karenanya, tebang pilih atau tebang tanam, masih dijaga oleh warga. (eki)