Cerita Fitriani, Mahasiswi Asal Cigugur yang Setia Rawat Kekayaan Bahasa Sunda

KUNINGAN(MASS) – Di era gempuran modernisasi di dunia digital, kepedulian anak muda terhadap kelestarian budaya daerah masih tetap ada. Ini dibuktikan oleh mahasiswi asal Kelurahan Cigugur, Kecamatan Cigugur yang mendedikasikan dirinya untuk mengkaji dan merawat budaya Sunda.

Mahasiswi berusia 19 tahun bernama Fitriani saat ini menempuh pendidikan S1 di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, UMK. Di lingkungan kampus, ia juga aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (Hima Dikbastra).

“Alhamdulillah aktif sebagai mahasiswi di UMK prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah juga aktif di Hima nya,” tuturnya kepada kuninganmass.com Jumat (26/6/2026).

Fitriani mengaku memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan tradisi lokal. Mendalami sastra Sunda bagi anak muda di era sekarang membawa tantangan sekaligus beban tersendiri di dalam hati. Namun, ia melihat Kabupaten Kuningan memiliki keunikan karena rasa cinta masyarakat terhadap raga dan jiwa Sunda masih sangat kokoh.

“Rasa kecintaan pada raga dan jiwa Sunda masih sangat kuat, ini sedikit gambaran atau cerita dari saya mengenai keadaan bahasa dan budaya Sunda, khususnya jika dikaitkan dengan kearifan lokal di Kuningan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, budaya Sunda di Kuningan bukan sekadar materi kuliah di dalam kelas, melainkan sudah menjadi napas kehidupan sehari-hari. Masarakat adat tetap teguh memegang tradisi luluhur sebagai tuntunan hidup, bukan sekadar tontonan visual atau hiburan belaka.

“Bahasa dan budaya Sunda itu bukan hanya sekadar materi kuliah di kelas, tapi merupakan bagian dari napas kehidupan sehari-hari. Masyarakat adat di sini, khususnya yang menjaga tradisi leluhur, memiliki kepercayaan dan cara hidup yang mandiri,” jelasnya.

Sebagai mahasiswa sastra, Ia juga mengaku bangga dengan keunikan dialek atau gaya bicara masyarakat Kuningan. Menurutnya, bahasa Sunda di Kuningan memiliki warna tersendiri dan berbeda dengan Sunda Priangan seperti di Bandung atau Cianjur, baik dari segi kosakata maupun intonasi (lentong).

“Sebagai mahasiswa sastra, saya sangat bangga mendengar dialek atau cara berbicara masyarakat di Kuningan dan sekitarnya. Bahasa Sunda di sini memiliki warna sendiri, berbeda dengan Sunda Priangan,” tambahnya.

Ia menegaskan, kekhawatiran mengenai bahasa Sunda yang mulai jarang terdengar harus menjadi pengingat bagi semua pihak. Melalui catatan kritisnya, ia berpesan budaya daerah tidak akan pernah punah selama tetap digunakan dalam ritual, aktivitas sosial, dan kehidupan sehari-hari.

“Sebetulnya, kesedihan karena ‘Bahasa Sunda sudah mulai jarang didengar’ itu merupakan peringatan bagi kita semua. Kuningan telah memberi contoh: budaya tidak akan hilang jika tetap dipakai dalam ritual, sosial, dan kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (raqib)