Calon Putri Adipati Kuningan Asal Ciniru; Mahasiswi Biologi, Tapi Justru Tekuni Kidung, Nyinden, Hingga Pop Sunda

KUNINGAN (MASS) – Sosok inspiratif bisa datang dari mana saja, termasuk wilayah ujung selatan Kuningan, tepatnya dari Desa Pinara, Kecamatan Ciniru. Yeyen Fithriyani, seorang mahasiswi yang masih 19 tahun, membuktikan keterbatasan jarak dari pusat kota bukan penghalang untuk mengukir segudang prestasi dan aktif berkontribusi bagi masyarakat.

Gadis yang akrab disapa Yeyen ini memiliki rekam jejak akademik yang sangat mengagumkan. Sejak menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Ciniru, ia secara konsisten meraih predikat juara umum. Kini, ia melanjutkan dedikasinya di bangku perkuliahan sebagai mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Biologi di Universitas Kuningan.

Bagi Yeyen, prestasi bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan hasil dari kedisiplinan dan komitmen untuk terus tumbuh. Tak hanya cemerlang di kelas, ia juga seorang organisatoris. Saat SMA, ia dipercaya menjadi Sekretaris Umum OSIS hingga Koordinator Kesenian dan Budaya di Forum OSIS Kabupaten Kuningan. Di kampus pun, ia tetap aktif di Himpunan Mahasiswa Biologi serta UKM Korps Protokoler Mahasiswa.

“Menurut saya prestasi bukan hanya nilai diatas hertas, tapi lebih jauh dari itu yang mencerminkan perilaku kita mehari hari, alhamdulillah saya bisa memerankan diri di bidang akademik maupun non akademik,” tuturnya saat diwawancara kuninganmass.com Rabu (15/4/2026).

Menariknya, Yeyen memiliki kecintaan yang mendalam terhadap budaya lokal. Di tengah gempuran tren modern, ia justru menekuni seni suara tradisional Sunda, seperti kidung, nyinden, hingga pop Sunda. Bakat seni ini ia padukan dengan kemampuan melukis dan keterampilan public speaking yang mumpuni, menjadikannya sosok generasi muda yang multitalenta.

“Saya berminat besar di bidang seni, khususnya seni suara seperti nyanyian Sunda (kidung, nyinden, dan pop Sunda). Selain itu, saya juga menyukai melukis, public speaking juga memasak,” tambahnya.

Saat ini, Yeyen tengah menempuh tantangan baru dengan mengikuti ajang bergengsi Putera Puteri Adipati Kuningan (PPAK). Baginya, keikutsertaan ini adalah bentuk keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Ia ingin membuktikan anak muda dari desa pun mampu bersaing dan memiliki kapasitas yang luas di berbagai bidang.

“Saya mengikuti ajang Putra Putri Adipati Kuningan sebagai bentuk keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Bagi saya, ajang ini bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang proses belajar, memperluas relasi, dan meningkatkan kapasitas diri,” paparnya.

Dalam proses seleksi PPAK, Yeyen harus melalui berbagai tahapan yang menguji wawasannya mulai dari isu kebudayaan, kesehatan, hingga ekonomi kreatif dan lingkungan. Ia mengaku sangat termotivasi setelah bertemu dengan banyak individu hebat selama tahap wawancara, yang semakin memicu semangatnya untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Dalam prosesnya, saya mengikuti berbagai tahapan seleksi, mulai dari tes yang menguji wawasan kebudayaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, pariwisata, hingga lingkungan sosial,” pungkasnya.(raqib)