KUNINGAN (MASS) – Yayasan Husnul Khotimah Kuningan menggelar Pelatihan Pembuatan Modul Kelas 7 dan Kelas 10 Terintegrasi AQIL yang diikuti guru-guru dari berbagai MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Mengusung tema “Sistematisasi Pembuatan Konten Modul Pembelajaran Terintegrasi AQIL untuk Pembelajaran yang Bermutu, Terstruktur, dan Bermakna,” kegiatan ini dibuka oleh Ketua 1 Yayasan, H. Maman Kurman, S.H. dengan menghadirkan KH. Imam Nur Suharno, S.Pd, S..Pd.I, M.Pd.I. sebagai pemateri utama, didampingi Kepala UPMP, Ustzh. Mia Rumia, M.Pd., beserta jajaran.
Dalam sambutannya, H. Maman menegaskan bahwa modul bukan sekadar kumpulan materi, tetapi perangkat strategis yang mengarahkan peserta didik (santri) belajar secara terstruktur, aktif, dan bermakna. Karena itu, pelatihan diarahkan untuk menghasilkan modul yang memiliki standar mutu dan terintegrasi dengan nilai-nilai AQIL.
Ia menekankan tiga hal yang perlu menjadi perhatian peserta, yaitu integrasi AQIL yang substantif dalam tujuan, materi, aktivitas, dan asesmen; menghasilkan produk nyata berupa draf modul yang dapat dikembangkan; serta melakukan coaching, peer review, dan telaah bersama sebagai bagian dari kendali mutu.
Materi mengenai paradigma dan konsep modul pembelajaran terintegrasi AQIL disampaikan oleh KH. Imam Nur Suharno, M.Pd.I. Ia menjelaskan empat pilar AQIL, yaitu Attitude yang menekankan sikap dan akhlak, Qur’anic yang menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan nilai pembelajaran, Intelligence yang mengembangkan kecerdasan secara holistik, serta Leadership yang menumbuhkan kepemimpinan, tanggung jawab, inisiatif, dan kemampuan bekerja sama.
Dalam pemaparannya, Ust. Imam menekankan bahwa integrasi AQIL membutuhkan perubahan paradigma dalam melihat proses pendidikan. Pendidikan tidak cukup dimaknai sebagai aktivitas guru menyampaikan materi dan santri menerima pengetahuan. Lebih dari itu, pendidikan merupakan proses tarbiyah yang menuntut guru hadir sebagai pendidik sekaligus teladan bagi santri. Karena itu, paradigma “guru mengajar” perlu bergeser menjadi “guru mentarbiyah dan menjadi teladan”. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi pembelajaran, tetapi juga mampu menghadirkan keteladanan dalam sikap, akhlak, kedisiplinan, tanggung jawab, dan nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada santri.
Sejalan dengan perubahan peran guru tersebut, Imam juga mengajak para pendidik untuk melihat santri bukan sekadar sebagai penerima materi pembelajaran. Paradigma “santri menerima” perlu diarahkan menjadi “santri berproses dan bertumbuh”. Artinya, santri harus mendapatkan ruang untuk aktif belajar, mengalami proses, menghadapi tantangan, melakukan refleksi, serta mengembangkan potensi dirinya. Pembelajaran diharapkan menjadi proses yang membuat santri terus bertumbuh, baik dalam aspek ilmu pengetahuan, karakter, keterampilan, maupun kepemimpinan.
Pada akhirnya, orientasi pendidikan juga tidak berhenti pada pencapaian nilai atau keberhasilan melewati ujian. Imam menegaskan perlunya perubahan paradigma “lulus ujian” menjadi “lulus menjadi dai berwawasan global”. Dengan paradigma tersebut, keberhasilan pendidikan diukur dari kemampuan santri untuk membawa ilmu dan nilai-nilai yang diperolehnya ke tengah kehidupan nyata. Santri diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki pemahaman agama yang kuat, akhlak yang baik, kompetensi, kepemimpinan, serta wawasan global sehingga mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Keempat pilar AQIL dan perubahan paradigma tersebut diharapkan tidak sekadar tercantum dalam modul, tetapi benar-benar terintegrasi dalam tujuan pembelajaran, materi, aktivitas peserta didik, hingga asesmen. Dengan demikian, modul yang dihasilkan tidak hanya bermutu secara akademik, tetapi juga mampu menjadi instrumen tarbiyah yang membantu membentuk karakter dan kompetensi santri secara utuh.
Melalui pelatihan ini, Yayasan Husnul Khotimah Kuningan berharap para guru mampu menghasilkan modul yang aplikatif, bermutu, mendalam, dan terintegrasi dengan nilai-nilai AQIL, sehingga dapat menjadi bagian penting dalam mewujudkan pembelajaran yang lebih bermakna dan berdampak bagi peserta didik (santri). (deden/AB)