KUNINGAN (MASS) – Semangat hidup. Mungkin kalimat itulah yang cocok disematkan bagi mereka pasien cuci darah di RSUD 45 Kuningan, atau yang disebut Hemodialisa.
Meski mereka tergantung pada terapi dengan mesin cuci darah, yang durasinua 3-5 jam persesi dan dilakukan sepekan 2 kali, mereka justru tetap menunjukkan semangat beraktifitas, ceria, gembira, dan rasa kekeluargaan yang erat.
Setidaknya, hal itulah yang terpotret dalam kegiatan Halal Bi Halal Hemodialisa RSUD 45 Kuningan, Sabtu (28/3/2026) kemarin di Saung Karuhun 2, Jl Ir Soekarno – Hatta Kuningan.
Halal bi halal yang digelar keluarga besar pasien cuci darah itu, nampak dihadiri langsung Direktur RSUD 45 Kuningan dr Deki Saepullah, penanggung jawab cuci darah dr Rio Zakaria Sp.PD, serta jajaran dokter, perawat hingga personalia lainnya.

Acara sendiri dikemas sederhana. Selain ramah tamah, acara juga diisi dengan tausiyah Ustadz Dadan Rohmatun Lc, serta ada juga game-game kecil yang melibatkan pasien cuci darah, dan makan bersama.
Ketua KPCDI RSUD 45 Kuningan, Ritta Yunia Pratidina, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih pada semua pihak, termasuk direktur RSUD, dokter, perawat dan keluarga pasien yang selama ini berperan dalam terapi, serta mensukseskan kegiatan.
“Saya kira ini bukan (kegiatan) yang berlebihan, kita dapat bersilaturahmi. Semoga dengan seringnya tatap muka, menambah semangat kita untuk tetap sehat,” kata Ritta.
Direktur RSUD 45 Kuningan, dr Deki Saepullah, dalam kesempatan itu mengungkap bahwa mesin cuci darah di Kuningan yang sebenarnya masih kekurangan, sehingga sebagian terpaksa dirujuk ke Cirebon.

“Alhamdulillah hari ini kami halal hi halal keluarga, mereka tidak merasa sebagai pasien tapi sebagai keluarga. Karena sakit itu bukan halangan menjadi sehat, sehat sendiri karena ada support dari temen-temen keluarga dokter dan perawat,” kata dr Deki.
Saat itulah dr Deki menyebut bahwa mesin cuci darah dj Kabupaten Kuningan masih terbatas, hanya ada sekitar 30-an mesin yang digunakan pagi dan sore. Sehingga jumlah pasien yang dilayani setiap harinya terbatas.
Dikatakan, pasien cuci darah ini ditanggung sepenuhnya BPJS. Kalo umum, biaya yang ditanggung juga sangat besar, sekitar Rp 1 juta per sesi. Atau sekitar 8 juta sebulan.
Penanggungjawab layanan cuci darah di RSUD 45 Kuningan, dr Rio Zakaria Sp.PD, kala diwawancarai soal penyebab gagal ginjal dan mengharuskan cuci darah, mengungkap beberapa hal.

“Faktor resikonya banyak terutama di Indonesia paling tinggi darah tinggi, diabetes. Darah tinggi dan diabetes salah satunya selain karena genetik, ada juga karena gaya hidup yang tidak terkontrol,” ungkapnya.
Selain penyakit tersebut, ada kalanya gagal ginjal juga karena genetik penyakit kista ginjal. Atau infeksi yang tidak terkontrol, serta batu ginjal yang tidak tertangani dengan baik.
Jika sudah kerusakan permanen pada ginjal, maka cuci darah ini harus dilakukan secara rutin dua pekan sekali. Pasalnya, alternatif lain belum cukup populer atau sulit seperti cangkok/donor ginjal.
Terakhir, dr Rio juga mengimbau untuk menerapkan gaya hidup sehat, serta makan-makanan yang baik untuk meminimalisir potensi penyakit-penyakit yang memicu kerusakan ginjal seperti kelebihan gula dan asin. (eki)














