KUNINGAN (MASS) – Disclaimer dilakukan penulis sebelum melanjutkan penulisan ini. Tulisan ini merupakan opini atau pendapat penulis terkait fenomena akademik yang terjadi di dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi. Tidak ada maksud untuk menyinggung personal atau lembaga. Tulisan ini merupakan pandangan penulis yang diberikan sebagai bentuk empati dan tentunya beberapa solusi akan diberikan guna tulisan ini bermanfaat.
Mundur ke masa lalu, kehidupan di dunia belum ditunjang sepenuhnya oleh teknologi. Dalam kehidupan sehari-hari aktivitas kerja dilakukan secara tradisional (konvensional) dengan alat sederhana. Dalam kehidupan rumah tangga, proses memasak nasi masih menggunakan tungku dengan kayu bakar sebagai bahan bakarnya dan dengan tahapan proses memasak yang berlapis. Kebutuhan akan air pun demikian, untuk memperoleh air , manusia harus menimba air dari sumur dengan menggunakan tali yang dilengkapi katrol (kerekan). Pompa manual sudah ada namun belum menggunakan listrik sebagai tenaga penggeraknya. Tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat masih menggunakan cara sederhana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pada aspek lain khususnya dalam dunia akademik, penggunaan teknologi pun masih minim digunakan. Contohnya, dalam membuat karya ilmiah, proses menulis masih menggunakan alat sederhana, seperti mesin ketik. Keterbatasan ini membuat penulis harus mengetik ulang tulisannya jika ada revisi atau salah ketik dari tiap kata yang diketiknya. Tidak hanya itu, penulis memiliki keterbatasan referensi dalam menuangkan ide tulisannya dikarenakan sumber atau bahan tulisan sulit diperoleh. Saat teknologi mulai ditemukan dan berkembang dan masa beralih ke teknologi, semua hal yang disebut di atas menjadi ringan dan manusia terbantukan dengan teknologi. Beberapa penemuan seperti Rice Cooker, Kompor Listrik, Jet Pump, dan Komputer menjadi bagian yang tidak terpisahkan dan memudahkan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Di dunia akademik, inovasi teknologi mulai tercipta baik hardware atau software dalam bentuk aplikasi dengan fitur-fitur yang memudahkan akademisi dalam mengembangkan kreativitasnya dalam menulis karya ilmiah, seperti skripsi, tesis, disertasi, artikel ilmiah, dan buku. Seorang penulis dapat memperkaya ide tulisannya karena kendala referensi sudah teratasi. Khusus di perguruan tinggi, salah satu syarat kelulusan adalah bagi mahasiswa S1, S2, dan S3 wajib melakukan penelitian dan hasil penelitiannya dilaporkan dalam bentuk tertulis. Penelitian pada umumnya dilaksanakan di semester genap yaitu semester 8 (S1), semester 4 (S2), dan semester 6 (S3). Tentunya tidak mudah untuk menyelesaikan tugas tersebut, karena menulis merupakan skill atau keahlian tertinggi dalam berbahasa, sehingga tidak mudah bagi mahasiswa untuk melakukan itu. Perlu adanya alat bantu atau media yang membantu penulisan yang sesuai dengan kaidah penulisan yang baik.
Berdasarkan hasil penelitian, kesulitan yang umum ditemukan mahasiswa dalam menulis adalah menuangkan ide ke dalam tulisan ilmiah serta menarasikan hasil penelitian dengan bahasa yang informatif ( Agustina dan Ikhlas, 2022). Temuan lain adalah berupa kesulitan mencari referensi, penggunaan bahasa baku, serta tanda baca (Hosniyeh, 2025). Permasalahan ini harus dicari solusinya, bersahabat dengan teknologi merupakan keniscayaan dan solusi terbaik bagi mahasiswa untuk mengembangkan tulisannya. Namun, apakah dibenarkan jika mereka menggunakan media atau aplikasi dalam membuat karya tulis ilmiah? Pada kenyataannya sistem sosial mengenai penggunaan misalnya ChatGPT di bidang akademik belum terbentuk dan saat ini sebagian besar pendidik masih menganggap penggunaan ChatGPT tidak etis (Studi et al., 2024). Lalu, Software apa saja yang dapat menunjang terciptanya karya ilmiah?.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut berdasarkan fenomena empiris dimana saat ini ada kecenderungan penulisan karya ilmiah seperti skripsi diselesaikan dalam waktu singkat bahkan hitungan hari dengan bantuan aplikasi tersebut. Miris karena karya yang dihasilkan minim ide murni dari sang penulis. Hal ini merupakan fenomena efek dari penggunaan teknologi. Fenomena lain adalah maraknya plagiarisme yang dilakukan oknum mahasiswa dalam menyelesaikan karya tulisnya, 48% kasus plagiarisme terjadi di perguruan tinggi (Kompas.com) . Pada kasus lain terjadi plagiarisme lintas perguruan tinggi. Berdasarkan informasi yang tertuang di tempo.com ditemukan oknum mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palembang berinisial DSA melakukan plagiarisme skripsi mahasiswa Universitas Sriwijaya Palembang. Data empiris tersebut menjadi dasar atas ulasan berikut ini dan akan membahas pokok-pokok pertanyaan di atas.
Menggunakan media atau aplikasi apakah dibenarkan? Pertanyaan ini berkaitan dengan Peraturan atau perundangan terkait aturan penulisan karya ilmiah yaitu regulasi hukum dan etika akademik (nasional) dan panduan teknis/sistematika (instansi/penerbit). Permendikbudristek No. 39 Tahun 2021 tentang integritas akademik dalam menghasilkan karya ilmiah. Memuat pedoman untuk menjunjung tinggi kejujuran akademik dan sanksi tegas bagi pelaku penjiplakan (plagiarism), fabrikasi data, atau pemalsuan informasi. Diperkuat pula dengan Peraturan BRIN No. 28 Tahun 2022: mengatur kode etika peneliti serta pedoman publikasi karya tulis ilmiah bagi kalangan periset nasional. Kedua regulasi tersebut menjadi dasar bagi penulis dalam menuangkan ide tulisannya tanpa melanggar aturan yang ditetapkan.
Dibenarkan bagi penulis untuk mengembangkan ide –idenya dalam bentuk karya tulis ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai contoh mahasiswa (S1) diperbolehkan untuk menyelesaikan skripsi atau tugas akhirnya dengan menggunakan aplikasi Chat GPT, Mendelay, Quill Bolt dan sebagainya dengan mengikuti aturan dan kode etik penulisan ilmiah seperti menghindari plagiarisme dan paham cara mengutip tulisan yang beretika sebagai contoh dengan mencantumkan nama penulis dalam pernyataannya. Data yang dicantumkan pun harus merupakan data yang diperoleh dari instrumen pengambilan data yang tervalidasi. Cara kerja aplikasi dapat memberikan data tersebut, namun tetap human intervention harus dipenuhi.
Aplikasi (software) dapat menjadi solusi untuk menghasilkan tulisan yang baik. Ada empat jenis aplikasi yang umum digunakan dan memiliki fungsi serta manfaat guna menghasilkan tulisan yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan yaitu ChatGPT, Mendelay, Quillbolt, dan Turnitin. Penulis sangat terbantukan jika menggunakan beberapa aplikasi ini. ChatGPT (Generative Pre-training Transformer) adalah sistem kecerdasan buatan yang didukung oleh kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan interaksi percakapan berbasis teks (Suharwan, 2023). Penggunaan ChatGPT sangat luas termasuk dalam penelitian. Proses pengambilan data dapat diperoleh secara instan. Dalam laporan penelitian adakalanya diwajibkan menguraikan ringkasan penelitian, aplikasi ini dapat digunakan untuk memenuhi kewajiban tersebut. Manfaat di bidang pendidikan secara kognitif, ChatGPT terbukti mampu membantu siswa dalam memahami materi pelajaran dengan lebih cepat dan berperan dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Dari sisi pedagogis, ChatGPT berkontribusi pada pembelajaran yang lebih personal dan adaptif (Adaptasi, 2025). Terlepas dari pro-kontra yang masih terjadi, kebijakan akademis yang menguatkan penggunaan teknologi ini menjadi kontrol integritas akademik agar penyimpangan seperti plagiarisme tidak terjadi.
Mendeley merupakan aplikasi yang memiliki peranan penting dalam mensitasi untuk mendukung argumen dan analisis (Djamris, Aurino: 2017). Mensitasi atau mengutip hasil penelitian memiliki aturan agar terhindar dari plagiat. Caranya adalah mencantumkan nama penulis dan sumber kutipan yang mana keduanya secara otomatis akan muncul dalam daftar pustaka jika menggunakan aplikasi ini. Mensitasi yang baik dan benar merupakan wujud penghargaan bagi penulis yang kita kutip tulisannya. Hal ini menimbulkan kesalahan pengutipan, ketidakkonsistenan daftar pustaka, serta risiko plagiasi, terutama pada penulisan tugas akhir, artikel, maupun karya ilmiah lainnya.(Asiah et al., n.d.). Dengan adanya Mendeley, penulis dapat lebih mudah mengakses sumber bacaan, mengelola referensi, dan menyusun kutipan dengan lebih terstruktur dan akurat. (Fakhrunnisaa et al., 2024)
Bentuk atau gaya bahasa penulis memiliki ciri khas tersendiri. Dari tulisan yang dihasilkan dapat mencerminkan identitas penulis yang secara implisit dapat diketahui dan makna dari ide yang ingin disampaikan terpahami oleh pembaca, tentunya dengan pendalaman lebih. Namun antisipasi plagiarisme tetap harus diwaspadai yaitu dengan menerapkan aplikasi Quillbolt . Aplikasi Quillbolt adalah aplikasi yang dapat membantu dalam memparafrase tulisan agar terhindar dari plagiarisme. Adapun parafrasa adalah mengungkapkan ide/gagasan orang lain dengan menggunakan kata-kata sendiri, tanpa merubah maksud atau makna ide/gagasan dengan tetap menyebutkan sumbernya (Menulis & Profesional, n.d.). Berikutnya untuk mencek tingkat plagiarisme maka aplikasi Turnitin dapat digunakan untuk men-cek tingkat plagiarisme dalam bentuk persentase tersebut. Turnitin berfungsi untuk mengecek tingkat kesamaan kalimat, kata, paragraf, struktur kata suatu karya tulis dengan karya tulis yang dibuat seseroang atau mahasiswa dengan milik orang lain yang dipublikasikan sebelumnya (Menulis & Profesional, n.d.). Setiap penerbit memiliki standar persentase minimal, ada kalanya kadar persentase kurang dari 25% – 35% masih diambang layak dipublikasikan. Sederhananya adalah, hasil cek turnitin ini menjadi tahap akhir yang dijadikan pedoman apakah sebuah tulisan merupakan hasil plagiat atau bukan, sehingga dapat dipiblikasikan atau tidak.
Bersahabat dengan teknologi merupakan sebuah keniscayaan. ChatGPT, Mendeley, Quill Bolt, dan Turnitin merupakan aplikasi yang diciptakan untuk membantu manusia dalam konteks menghasilkan karya ilmiah, sehingga sulit apabila manusia pada masa ini antipati dan menghindari teknologi. Manfaat teknologi sangat beragam menembus semua lini kehidupan. Manusia akan mudah dalam menjalankan aktivitas dengan catatan teknologi digunakan untuk kemaslahatan dan kebaikan umat. Semoga uraian di atas bermanfaat untuk memecah kebuntuan dalam menghasilkan karya cipta ilmiah.
Penulis: Henni Rosa Triwardani, M.Pd
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Universitas Islam Al-Ihya Kuningan
