Diajak Bupati Audiensi ke ESDM, Pendemo Geothermal Ciremai Teguhkan Sikap, Tetap Menolak!

KUNINGAN (MASS) – Perwakilan massa aksi penolak Geothermal yang sempat melakukan demonstrasi ke Pendopo Bupati Kuningan, akhirnya bertolak ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Senin (12/10/2026) kemarin. Mereka berangkat ke ESDM bersama Pemkab Kuningan, untuk beraudiensi secara langsung tentang wacana Geothermal.

Dalam audiensi yang berlangsung di Gedung Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Jakarta, selain terungkap bahwa Pemkab Kuningan memang belum disurati secara resmi terkait geothermal oleh Pemerintah Pusat, masa penolak geothermal juga menyampaikan sikap secara langsung.

Salah satu pendemo, Ismah Winartono, menegaskan bahwa Serikat Rakyat –wadah masyarakat yang sama-sama menolak Geothermal-, turut ke ESDM memang untuk menyampaikan sikap penolakan serta memastikan ESDM memberikan ruang demokrasi untuk warga Kuningan. Meskipun, diamini Ima, pihak ESDM terus bercerita tentang kebaikan geothermal untuk income daerah.

“Kita mah disana menyampaikan sikap penolakan dan tidak berdiskusi soal mempertaruhkan ruang hidup demi energy,” ucap Ima, sapaan akrabnya, kala dikonfirmasi sehari setelah audiensi, Selasa (13/10/2026).

Selain menegaskan tetap menolak, Ima juga mengajak warga Kuningan untuk “pegangan”. Karena, lanjut Ima, ESDM mengakui Ciremai masuk kedalam 14 gunung yang akan dieksplorasi, hanya saja Gunung Ciremai belum ada “peminangnya”, bahkan sudah memunculkan titik yang “cocok” yakni kawasan Cilengkrang. Artinya, kata Ima, satu tahapan sudah terjadi.

“Mudah-mudahan Ciremai tetap lestari,” tegas Ima.

Terpisah, koordinator aksi penolakan Geothermal Ciremai lainnya, M Hanif, juga menyampaikan hal yang serupa, meski terpaksa mengandai-andai kejadian karena masuk Proyek Strategis Nasional (PSN).

“Tetap menolak kang, cuman memang karena ini PSN andai memang harus terjadi (amit-amit). Harus ada rel yang dibuat agar secara ekologis tidak keluar jalur dan membahayakan ruang lingkup kehidupan,” tegasnya.

Hanif bercerita, dalam audiensi sempat disampaikan contih bahwa tidak semua galian atau sumur yang dicurigai bisa menghasilkan energi panas bumi itu, bisa langsung berhasil. Jutru karena contoh itu, Hanif bertanya-tanya, jika terjadi resiko gagal itu akan seperti apa? Lalu jika ada resiko di masyarakat dan terdampak penanganannya seperti apa. Hal-hal seperti itulah yang menurut Hanif harus ada rel yang tegas.

“Banyak hal yang harus dibuatkan rel  nya, Ciremai itu hirup dan hurip masyarakat banyak. Dan analogi sederhana yang diajarkan para leluhur untuk kita jelas. Bagaimana bahwa gunung digambarkan sebagai ibu. Itu menjadi rem bagi kita semua,” ujarnya. (eki)