KUNINGAN (MASS) – Saya tidak memiliki kepentingan pribadi terhadap geothermal Ciremai. Saya tidak berkepentingan agar proyek ini diterima, juga tidak berkepentingan agar ditolak. Bagi saya, persoalannya sederhana: bagaimana memastikan keputusan yang diambil benar-benar menguntungkan masyarakat, bukan justru merugikan mereka.
Sebab, dalam kebijakan publik, pengkhianatan terhadap masyarakat tidak hanya terjadi ketika kita mendukung sesuatu yang ternyata membawa kerusakan. Pengkhianatan juga bisa terjadi ketika kita menolak sesuatu yang sebenarnya bermanfaat, hanya karena terlanjur dikuasai ketakutan, prasangka, atau kepentingan tertentu.
Bayangkan jika hari ini saya ikut menolak geothermal dengan alasan ancaman terhadap lingkungan. Namun, kelak terbukti bahwa proyek tersebut memenuhi seluruh ketentuan hukum, aman berdasarkan kajian ilmiah, mampu mengendalikan risikonya, dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Jika penolakan itu ternyata menghalangi peluang yang baik bagi masyarakat, bukankah saya ikut bertanggung jawab atas hilangnya peluang tersebut?
Sebaliknya, jika hari ini saya mendukung geothermal karena tergiur janji investasi, lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan daerah, tetapi kelak terbukti merusak sumber air, mengganggu kehidupan petani, dan meninggalkan kerusakan lingkungan, bukankah dukungan itu juga berpotensi menjadi pengkhianatan terhadap masyarakat?
Menolak sesuatu yang terbukti baik tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan bisa merugikan masyarakat. Menerima sesuatu yang terbukti buruk dengan mengabaikan risikonya juga merupakan bentuk pengkhianatan terhadap kepentingan mereka.
Itulah sebabnya saya tidak ingin menentukan kesimpulan sebelum memeriksa fakta.
Jangan Menjadikan Ketakutan sebagai Kesimpulan
Kekhawatiran terhadap geothermal Ciremai bukan sesuatu yang boleh diremehkan. Ciremai berkaitan erat dengan sumber air, ekosistem, lahan pertanian, dan kehidupan masyarakat Kuningan. Setiap potensi ancaman terhadap unsur-unsur tersebut harus diuji secara serius melalui kajian ilmiah yang spesifik terhadap lokasi proyek.
Namun, membicarakan risiko tidak berarti kita boleh mengabaikan manfaat. Geothermal berpotensi menyediakan energi listrik secara relatif stabil dengan emisi gas rumah kaca yang umumnya lebih rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil. Pengembangannya juga berpotensi membuka lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian.
Tentu, semua itu masih harus dibuktikan dalam konteks proyek yang direncanakan di Ciremai. Berapa manfaat yang benar-benar diterima masyarakat? Seberapa besar kontribusinya terhadap pendapatan daerah? Bagaimana perlindungan terhadap sumber air? Siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi kerusakan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab secara terbuka.
Kita tidak boleh menyimpulkan geothermal pasti berbahaya hanya karena terdapat potensi risiko. Sebaliknya, kita juga tidak boleh menganggapnya pasti aman hanya karena disebut sebagai energi bersih.
Jangan sampai kita menolak manfaat karena takut terhadap risiko yang belum terbukti. Namun, jangan pula kita mengorbankan keselamatan masyarakat demi manfaat yang belum terjamin.
Saya Memilih Menguji, Bukan Mengikuti Arus
Dalam perdebatan publik, sering kali posisi ditentukan terlebih dahulu, kemudian fakta dicari untuk membenarkannya. Pihak yang menolak cenderung mengumpulkan argumen tentang bahaya, sementara pihak yang mendukung lebih banyak berbicara tentang keuntungan.
Padahal, kepentingan masyarakat tidak boleh dikalahkan oleh kebutuhan kelompok mana pun untuk memenangkan perdebatan.
Posisi saya jelas: saya tidak berada di barisan penerima geothermal, juga tidak berada di barisan penolaknya. Saya berdiri pada kewajiban untuk menguji keduanya berdasarkan fakta, hukum, risiko, dan manfaat bagi masyarakat.
Jika hasil kajian membuktikan proyek ini tidak layak secara hukum, mengancam lingkungan secara serius, atau memiliki risiko yang tidak dapat dikendalikan, saya tidak memiliki alasan untuk membelanya.
Sebaliknya, jika hasil kajian membuktikan proyek ini layak, memenuhi ketentuan hukum, risikonya dapat dikendalikan, dan manfaatnya nyata bagi masyarakat, saya juga tidak memiliki alasan untuk menolaknya hanya demi mempertahankan sikap yang telanjur diambil.
Bagi saya, mengubah pendapat karena bukti baru bukanlah kelemahan. Justru mempertahankan pendapat yang sudah terbukti keliru hanya demi gengsi, kelompok, atau kepentingan tertentu merupakan sikap yang patut dipertanyakan.
Sebab, yang harus kita pertahankan bukanlah pendapat pribadi, melainkan kepentingan masyarakat.
Ciremai Tidak Boleh Menjadi Taruhan Kepentingan
Untuk menentukan masa depan geothermal Ciremai, pemerintah harus membuka informasi mengenai status hukum lokasi, kajian lingkungan, dampak terhadap sumber air dan pertanian, skema manfaat ekonomi, serta mekanisme pertanggungjawaban apabila terjadi kerugian.
Pengembang wajib membuktikan kelayakan proyeknya, bukan sekadar menjanjikan keuntungan. Pihak yang menolak berhak menyampaikan kekhawatiran, tetapi kekhawatiran itu juga perlu diuji berdasarkan bukti. Pihak yang mendukung harus bersedia menerima kenyataan apabila hasil kajian menunjukkan adanya risiko yang tidak dapat ditoleransi.
Tidak boleh ada kepentingan investasi yang mengalahkan keselamatan masyarakat. Namun, tidak semestinya pula peluang yang terbukti bermanfaat ditutup hanya karena ketakutan yang tidak pernah diuji.
Jika proyek ini ditolak, harus jelas apa dasar penolakannya dan apa konsekuensinya bagi masyarakat. Jika diterima, harus jelas bagaimana risiko dikendalikan dan bagaimana manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat Kuningan.
Keputusan yang baik bukan keputusan yang memuaskan semua kelompok, melainkan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, ilmiah, moral, dan sosial.
Jangan Berkhianat kepada Masyarakat karena Salah Mengambil Sikap
Pada akhirnya, saya tidak ingin masyarakat Kuningan menjadi korban dari keputusan yang lahir karena kita terlalu cepat mendukung atau terlalu cepat menolak.
Saya tidak ingin ikut menutup peluang kesejahteraan jika ternyata peluang itu benar-benar ada dan layak diwujudkan. Saya juga tidak ingin ikut membuka jalan bagi kerusakan yang harus ditanggung masyarakat hanya karena kita terlena oleh janji keuntungan.
Karena itu, bagi saya, keberanian bukan sekadar berani menolak. Keberanian juga bukan sekadar berani mendukung. Keberanian yang sesungguhnya adalah bersedia memeriksa fakta, mengakui risiko, mengakui manfaat, dan menerima kesimpulan yang mungkin berbeda dari dugaan kita sendiri.
Menolak yang terbukti baik tanpa alasan yang kuat dapat menjadi pengkhianatan terhadap masyarakat. Menerima yang terbukti buruk dengan mengabaikan akibatnya juga merupakan pengkhianatan.
Saya tidak ingin menjadi bagian dari salah satunya.
Sebab, dalam persoalan geothermal Ciremai, yang harus kita perjuangkan bukan kemenangan kubu pro maupun kontra. Yang harus kita pastikan adalah jangan sampai masyarakat menanggung kerugian akibat keputusan yang salah, sementara pihak-pihak yang mengambil sikap berlindung di balik keyakinan masing-masing.
Saya tidak membela geothermal. Saya tidak pula memusuhi penolakannya. Saya membela hak masyarakat untuk mendapatkan keputusan yang benar. Sebab, ketika kepentingan masyarakat dikorbankan demi prasangka, gengsi, atau kepentingan kelompok, di situlah pengkhianatan sesungguhnya bermula.
Oleh: Dadan Satyavadin
Pemerhati Kebijakan Publik, Tokoh Masyarakat
