KUNINGAN (MASS) – Pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geotermal tidak bisa sepenuhnya lepas dari dampak terhadap lingkungan. Bahkan penjelasan dari salah satu ahli geologi sebut kedalaman pengeboran sampai 3000 meter (kurang lebih setinggi Gunung Ciremai). Aktivitas pembangunan mulai dari pembukaan akses hingga mobilisasi alat berat, berpotensi mengubah kondisi lingkungan di sekitar lokasi.
Ahli geologi di Kabupaten Kuningan, Dr H Jumhari, ST, MT, dalam sebuah podcast yang baru-baru ini tayang di YouTube kuninganmass. Ia membahas mengenai dampak pembangunan geotermal terhadap lingkungan, termasuk aktivitas pengeboran yang membutuhkan peralatan berukuran besar.
Menurutnya setiap pembangunan pada dasarnya akan menimbulkan gangguan terhadap lingkungan. Hal tersebut tidak hanya terjadi pada proyek geotermal, tetapi juga pada pembangunan infrastruktur pendukung seperti jalan.
“Sebenarnya ketika terjadi pembangunan, maka ada yang terganggu, tapi dampaknya itu kan bisa diminimalisir,” tuturnya.
Jumhari menjelaskan, salah satu aktivitas utama dalam pengembangan geotermal adalah pengeboran. Proses tersebut membutuhkan mobilisasi peralatan berukuran besar menuju lokasi pengeboran. Yang membuat adanya area yang harus d dibuka untuk menunjang kegiatan pembangunan.
“Geothermal kan melakukan pengeboran. Untuk mobilisasi alatnya saja kan butuh areal yang luar biasa, untuk memobilisasi alatnya saja pasti ada daerah yang dibuka,” jelasnya.
Ia menambahkan, peralatan yang digunakan dalam pengeboran geotermal memiliki ukuran yang besar. Bahkan, pengeboran dapat dilakukan hingga kedalaman sekitar 3.000 meter atau 3 kilometer (setinggi gunung ciremai), sehingga peralatan yang digunakan bukan merupakan alat pengeboran berukuran kecil.
“Untuk sampai pada tingkatan pengeborannya saja itu butuh mobilisasi yang luar biasa. Jadi bukan bor kecil, tapi bor yang memiliki kemampuan sampai 3.000 meter kedalaman,” pungkasnya. (raqib)
