Geothermal di Gunung Ciremai, Endun Khawatir Hutan Rusak dan Warga Tergusur

KUNINGAN (MASS) – Rencana pengembangan panas bumi atau geothermal di kawasan Gunung Ciremai mendapat perhatian dari masyarakat, terutama terkait potensi dampak lingkungan dan sosial yang mungkin muncul apabila proyek tersebut direalisasikan.

Ketua MPPGC Palutungan, Endun Abdullah, mengatakan pengembangan geothermal memang memiliki sejumlah sisi positif, di antaranya disebut sebagai sumber energi yang relatif ramah lingkungan serta mampu menyediakan pasokan listrik dalam jumlah besar.

Namun, menurut Endun, proses pembangunan fasilitas geothermal, khususnya untuk membuka area pengeboran, berpotensi menimbulkan dampak terhadap kondisi alam. Salah satu yang menjadi kekhawatirannya adalah pembukaan lahan yang dapat menyebabkan pohon-pohon ditebang.

“Kalau dampak positif mungkin pertama ramah lingkungan. Kemudian persediaan listrik juga banyak. Tapi dampak negatifnya ketika proses pembuatan area untuk pengeboran seperti itu. Karena itu, pohon-pohon ditumbangkan,” kata Endun, Senin (7/9/2026).

Selain persoalan pembukaan lahan, Endun juga mengkhawatirkan penggunaan air dalam proses pengembangan geothermal. Ia menilai eksplorasi sumber daya air secara besar-besaran berpotensi memengaruhi ketersediaan air di sekitar kawasan.

“Tidak menutup kemungkinan air juga bisa dieksplor habis-habisan. Bisa jadi kekeringan,” ujarnya.

Kekhawatiran ini, kata Endun, muncul setelah dirinya melakukan studi banding ke kawasan geothermal Kamojang, Kabupaten Garut. Dari kunjungan tersebut, ia mengaku melihat adanya aktivitas pembangunan dan penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pengembangan geothermal.

Menurut Endun, persoalan lain yang menjadi perhatiannya adalah keberadaan masyarakat sekitar kawasan proyek. Ia menyebut masyarakat setempat dapat tersisihkan dan bahkan berpotensi mengalami relokasi apabila pembangunan membutuhkan area yang luas.

“Masyarakat setempat tersisikan semua. Ada relokasi,” katanya.

Endun menilai kemungkinan serupa perlu menjadi perhatian apabila geothermal nantinya dikembangkan di kawasan Gunung Ciremai atau di Cilengkrang. Ia menyebut sejumlah kawasan seperti Pajambon bahkan Palutungan berpotensi terdampak, meskipun dirinya belum dapat memastikan wilayah mana saja yang akan menjadi lokasi pengembangan.

“Bisa seperti itu (kemungkinan Kuningan juga). Itu kekhawatiran kita saja,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembangunan geothermal membutuhkan area yang cukup luas. Namun, Endun mengaku belum mengetahui secara pasti seperti apa bentuk penataan lahan yang akan dilakukan apabila proyek ini masuk ke kawasan Kuningan.

Pengalaman di Kamojang juga menjadi sorotan lain bagi Endun. Ia mengatakan, selain akses menuju kawasan hutan, terdapat fasilitas wisata yang dibangun oleh perusahaan pengelola geothermal.

Menurutnya, fasilitas tersebut memang dapat memberikan alternatif kegiatan bagi masyarakat, tetapi ia mempertanyakan dampaknya terhadap akses masyarakat.

“Tempat-tempat wisata itu dibikinkan oleh perusahaan yang megang geotermalnya. Dan itu pre-ticket semua kalau yang saya tahu waktu di Kamojang,” tuturnya.

Endun tidak menutup kemungkinan pola serupa terjadi apabila geothermal dikembangkan di Kuningan. Namun, ia kembali menegaskan bahwa hal tersebut merupakan kekhawatiran berdasarkan pengalaman yang ia lihat di daerah lain, bukan kepastian mengenai rencana geothermal di Kuningan.

Atas berbagai kekhawatiran itu, Endun menyatakan sikap pribadinya menolak pengembangan geothermal di kawasan Gunung Ciremai.

“Kalo bisa, Kuningan jangan ada Geothermal,” tutupnya. (didin)