KUNINGAN (MASS) – Cigugur, wilayah Desa sekaligus Kecamatan di Kabupaten Kuningan, dipilih Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai lokasi Hari Anak Merdeka 2026 karena dianggap memiliki nilai histori sebagai ruang harmoni keberagaman yang menjadi miniatur Indonesia.
Penetapan itu diumumkan saat Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, dalam perayaan HUT ke-81 RI bertema Hari Anak Merdeka 2026, di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kabupaten Kuningan, Rabu (19/8/2026).
Dalam kegiatan yang mengusung tajuk “Rukun Sama Teman, Merdeka Bermain, Merdeka Bertumbuh, Merdeka Bermimpi”, Kemendikdasmen mengajak anak merayakan kemerdekaannya yang dekat dengan dunia mereka yakni bermain, bernyanyi, bermimpi, dan belajar hidup rukun bersama teman.
Kegiatan kolaborasi lintas sektor tersebut sekaligus menggaungkan kampanye Gerakan Rukun Sama Teman yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) serta membangun kebiasaan saling menghargai.
Wamendikdasmen Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa keberagaman perlu dihayati sebagai fakta sekaligus anugerah. Menurutnya, pendidikan karakter yang dibangun melalui pembiasaan hidup rukun menjadi salah satu kunci menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam acara itu, Wamen Atip nampak dekat dan akrab dengan anak-anak. Ia langsung menyapa anak-anak, berdialog langsung dengan mereka, menanyakan minat, kemampuan, dan cita-cita.
“Tidak ada anak-anak yang bodoh. Tidak ada. Hanya berbeda bentuknya. Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda. Karena itu, tugas sekolah bukan menyeragamkan anak, melainkan mengembangkan kecerdasan yang sudah mereka miliki. Semuanya pintar. Tidak ada yang tidak pintar,” papar Atip.
Ketua III Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Prof Dr Chandra Setiawan, MM, PhD, yang juga hadir dalam acara tersebut bilang, setiap anak adalah juara dengan caranya masing-masing. Keberagaman bukan hanya soal agama, budaya dan identitas. Akan tetapi, anak-anak juga memiliki keberagaman kecerdasan, bakat dan cara berekspresi.
Ia menegaskan, Hari Anak Merdeka di Cigugur dirancang bukan sebagai kompetisi yang menghasilkan juara dan pecundang, melainkan sebagai ruang ekspresi dan perjumpaan lintas perbedaan. Karena itu, pendidikan kerukunan harus dimulai dari pengalaman sehari-hari anak.
“Bermain bersama, belajar bersama, berkarya bersama dan menghargai kemampuan masing-masing. Anak adalah juara dengan caranya masing-masing. Keberagaman bukan hanya soal agama, budaya dan identitas. Anak-anak juga memiliki keberagaman kecerdasan, bakat dan cara berekspresi,” ujar Chandra.
Hari Anak Merdeka itu sendiri diikuti sebanyak 502 pelajar dengan 94 pendamping dari 35 sekolah. Kegiatan yang digagas ICRP bersama Yayasan Tri Mulya Triwikrama tersebut tidak menempatkan anak sekadar sebagai peserta atau penonton. Anak-anak diberi ruang untuk menjadi pelaku utama, mulai dari menyambut tamu, memimpin kegiatan, berdoa, berolahraga, memainkan musik, menari, mengikuti flashmob, mengisi pertunjukan, hingga memperkenalkan berbagai kecerdasan yang mereka miliki.
Semangat itu tercermin sejak pagi. Anak-anak menyambut kedatangan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Atip Latipulhayat, Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. serta Ketua III ICRP Prof. Dr. Chandra Setiawan. Para tamu kemudian dijemput dengan Tarian Pangbage dari Sanggar Keris Paramenak yang dibawakan anak-anak.
Pembukaan juga menghadirkan doa dari anak-anak lintas iman, dilanjutkan dengan mengheningkan cipta dan doa bersama untuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti agar mendapatkan jalan pemulihan terbaik, serta keprihatinan atas korban gempa Nusa Tenggara Timur.
Anak Bukan Objek, Tetapi Subjek
Ketua Panitia Hari Anak Merdeka 2026, Susilowati, yang juga Kepala SMP Tri Mulya, mengatakan sejak awal panitia memang Facebook sengaja memberikan porsi yang lebih besar kepada anak-anak.
Bagi panitia, lanjutnya, keberhasilan kegiatan bukan diukur dari seberapa megah acara berlangsung, tetapi dari seberapa jauh anak memperoleh pengalaman untuk berpartisipasi secara bermakna.
“Mereka berlatih selama berminggu-minggu untuk menghafalkan Ikrar Pelajar Indonesia, mempersiapkan Senam Anak Indonesia Hebat, berlatih Flashmob “Rukun Sama Teman”, membuat instrumen angklung, hingga menyiapkan berbagai karya dan pertunjukan. Hari ini adalah hari kalian, “papar Susilowati.
Sementara, Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., mengingatkan bahwa anak tidak sekadar penerus pembangunan, tetapi merupakan pemilik masa depan. Karena itu, menurutnya, pembangunan daerah harus memberi ruang agar anak tumbuh aman, bahagia, berkarakter, berbudaya, berani bermimpi, berekspresi dan berkarya.
Gerakan Rukun Sama Teman sendiri diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan menjadikan nilai persahabatan serta gotong royong sebagai DNA bangsa.
Acara tersebut ternyata mendapat respon yang bagus dari berbagai pihak termasuk dukungan sponsor dari Kino Indonesia, Kapal Api Group, Garudafood, Tanoto Foundation, Artha Graha Peduli. Juga didukung oleh Persekutuan Gereja-gereja Indonesia, Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Masyarakat AKUR Sunda Wiwitan, dan Majelis Nasional Bahai Indonesia. (eki)