KKN di Desa Bojong, Mahasiswa Edukasi Pencegahan Stunting ke Masyarakat, Demo Masak MP-ASI dan Beri Tips Hadapi GTM

KUNINGAN (MASS) – Mahasiswa KKN 03 Desa Bojong UNISA Kuningan melaksanakan program kerja Gerakan Pangan Lokal dalam Upaya Pencegahan Stunting pada Sabtu (15/8/2026) kemarin. Kegiatan ini dilaksanakan melalui pemaparan edukasi mengenai pencegahan stunting yang berkolaborasi dengan Bidan Desa Bojong dan ahli gizi dari Puskesmas Cilimus, serta disertai dengan kegiatan demo memasak makanan pendamping ASI (MPASI).

Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mahasiswa KKN 03 dalam memberikan pengetahuan kepada masyarakat, khususnya para ibu, mengenai pentingnya pemenuhan gizi anak sejak usia dini. Melalui kegiatan demo memasak, peserta tidak hanya memperoleh informasi mengenai kebutuhan gizi, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai pengolahan MPASI yang tepat.

Koordinator Desa (Kordes) KKN 03, Husni Malik menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi ibu-ibu di Desa Bojong.

“Dengan adanya proker pemaparan pencegahan stunting dengan demo memasak yang berkolaborasi dengan bidan desa beserta ahli gizi dari Puskesmas Cilimus, dapat memberikan dampak yang baik untuk seluruh ibu di Desa Bojong. Harapan dari proker ini yaitu para ibu dapat menerapkan ilmu yang telah disampaikan dan juga harapannya angka stunting bisa berkurang,” ujar Husni Malik.

Sementara itu, Bidan Desa Bojong, Iis Siti Aisyah, A.Md.Keb., menyampaikan apresiasinya kepada mahasiswa KKN atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Terima kasih kepada Mahasiswa KKN telah mengadakan acara demo masak, karena sangat penting bagi masyarakat Desa Bojong, terutama bagi ibu-ibu yang punya balita. Semoga bisa bermanfaat,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Ahli Gizi Puskesmas Cilimus, Reni Mariani, A.Mg., menjelaskan bahwa MPASI diberikan ketika anak memasuki usia 6 bulan, setelah sebelumnya memperoleh ASI pada usia 0–6 bulan. Ia juga menjelaskan pentingnya memperhatikan tekstur makanan yang sesuai dengan perkembangan anak serta mengenalkan berbagai bahan makanan secara bertahap untuk mengetahui kemungkinan adanya alergi, termasuk melalui konsep empat bintang yang mencakup bintang pertama dikenalkan 1 bahan makanan, bintang kedua dikenalkan dengan 2 bahan makanan, dan seterusnya.

“Dengan adanya konsep empat bintang ini adalah untuk mengetahui apakah anak memiliki alergi pada protein hewani maupun nabati,” paparnya.

Selain itu, Reni juga menekankan bahwa pemberian makanan pada anak usia 6–8 bulan perlu memperhatikan keamanan dan kebersihan makanan. Penggunaan gula, garam, serta penyedap juga perlu dihindari pada usia tersebut karena organ pencernaan anak masih dalam tahap perkembangan.

Ia turut menjelaskan mengenai Gerakan Tutup Mulut (GTM) yang dapat terjadi ketika anak mengalami pengalaman kurang menyenangkan saat makan, salah satunya akibat pemaksaan untuk menghabiskan makanan. Untuk mencegahnya, orang tua dapat menyesuaikan jadwal dan porsi makan anak, memberikan makanan dalam porsi kecil tetapi lebih sering, mengajak anak makan bersama keluarga, serta memastikan kebersihan bahan dan proses pengolahan makanan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN 03 Desa Bojong berharap edukasi yang diberikan dapat diterapkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan jumlah makanan yang diberikan, tetapi juga perlu memperhatikan porsi, tekstur, waktu makan, kebersihan, serta keamanan makanan agar kebutuhan gizi dan tumbuh kembang anak dapat terpenuhi dengan baik. (eki)