KUININGAN (MASS) – Salah satu misi paling mendasar dalam membangun keluarga muslim adalah menjalankan peran dakwah dan kepemimpinan umat.
Berumah tangga bagi seorang muslim bukan hanya pemenuhan fitrah untuk hidup berpasangan. Lebih dari itu, rumah tangga adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah, dakwah, dan kepemimpinan.
Islam tidak mengajarkan kita menjadi muslim yang individualis. Setelah beriman dan beramal saleh, pengaruh Islam dalam diri seseorang adalah kepedulian. Dan kepedulian itu diwujudkan dalam aktivitas dakwah: mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Dakwah: Kewajiban, Bukan Pilihan
Dakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan. Taufiq Yusuf Al-Wa’iy dalam _Fiqih Dakwah Ilallah_ menyebutkan dalil-dalilnya: perintah lugas dalam QS Al-Maidah ayat 67, tanda keimanan dalam QS Ali Imran ayat 110, bahkan disebut sebagai jihad dalam HR Abu Dawud.
Nabi SAW sendiri memulai dakwah dari yang terdekat. Allah berfirman: _“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”_ (QS Asy-Syu’ara: 214).
Setelah kewajiban pada diri sendiri, kewajiban berikutnya adalah menjaga keluarga. _“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”_ (QS At-Tahrim: 6).
Artinya, rumah bukan hanya tempat tinggal. Rumah adalah pos pertama penjagaan iman, tempat kaderisasi, dan ladang dakwah. Oleh karena itu, agar keluarga mampu menjadi “markaz dakwah”, ia harus berdiri di atas tiga pilar keluarga dakwah.
Pertama, Ibadah. Keluarga harus menjadi teladan dalam ibadah. Shalat berjamaah, tilawah, dzikir bersama. Ibadah adalah sumber energi dai. Allah menciptakan jin dan manusia tidak lain agar mengabdi kepada-Nya (QS Adz-Dzariyat: 56). Keluarga yang hidupnya ibadah, akan mudah menyelesaikan masalah karena semua tunduk pada aturan-Nya.
Kedua, Ilmu. Ilmu paling utama di rumah adalah ilmu mengenal Allah. Rasulullah bersabda: _“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama.”_ (Muttafaqun ‘alaihi). Tanpa ilmu, nasihat menjadi kosong. Tanpa ilmu, keteladanan tidak punya arah.
Ketiga, Ekonomi. Banyak rumah tangga retak karena masalah ekonomi. Keluarga dakwah butuh kecukupan agar para dai tidak sibuk dengan perut, tapi bisa fokus berdakwah. Ekonomi yang halal dan cukup adalah penopang dakwah yang istiqamah.
Selain tiga pilar di atas, ada lima hal yang harus dipahami oleh setiap anggota keluarga dakwah agar mampu menjadikan keluarga sebagai ladang dakwah.
Pertama, sadar bahwa dakwah itu wajib._“Sampaikanlah dariku, meskipun satu ayat.”_ (HR Bukhari). Tidak ada muslim yang tidak hafal satu ayat. Maka tidak ada alasan untuk diam.
Kedua, memahami pentingnya dakwah. Tanpa dakwah, manusia tersesat. Dakwah bukan kebutuhan pendakwah, tapi kebutuhan seluruh umat agar selamat dunia akhirat (QS Ali Imran: 85).
Ketiga, mengimani janji Allah bagi pejuang dakwah._“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah…”_ (QS Fushshilat: 33). Ini gelar termulia.
Keempat, melibatkan keluarga dalam aktivitas dakwah. Ajak anak ke majelis ilmu, libatkan istri dalam kepanitiaan PHBI. Dari sinilah mental kepemimpinan ditempa.
Kelima, memperbanyak doa. Kita hanya bisa berusaha. Yang membolak-balikkan hati adalah Allah. Mintalah: _“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”_ (QS Al-Furqan: 74).
Deangan demikian, jika keluarga mampu menjadi tempat kaderisasi dai, maka dari rumah-rumah itulah akan lahir para pemimpin umat di masa depan. Pemimpin tidak dicetak di panggung orasi. Ia ditempa di meja makan, di atas sajadah, dalam nasihat ayah dan pelukan ibu.
Mari kita mulai. Jadikan rumah kita bukan hanya istana yang indah, tapi juga madrasah yang melahirkan pejuang. Karena bangsa yang kuat, bermula dari keluarga yang kokoh. Dan kepemimpinan umat, bermula dari kepemimpinan di dalam rumah.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kemampuan menjalankan peran keluarga dalam dakwah dan kepemimpinan umat. Amin._
Oleh: Imam Nur Suharno
Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat