Ciptakan Iklan Fiktif, Siswa SMAN 1 Cigugur Belajar Bahasa Inggris Lewat AI dan Canva

KUNINGAN (MASS) – Ratusan siswa kelas X di SMA Negeri 1 Cigugur Kuningan merancang iklan untuk produk-produk fiktif ciptaan mereka sendiri sebagai bagian dari proyek pembelajaran Bahasa Inggris berbasis Project-Based Learning (PjBL). Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diminta menciptakan identitas produk baru menggunakan aplikasi desain Canva, dan dalam pelaksanaannya beberapa kelompok juga memanfaatkan kecerdasan buatan generatif seperti ChatGPT dan Gemini.

Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Cigugur, Dadang Setiawan, yang merancang proyek ini mengatakan aturan utamanya adalah siswa dilarang mengiklankan produk yang sudah ada di pasaran. Produk yang dihasilkan juga cukup beragam, mulai dari camilan, minuman, hingga produk perawatan anak dan jasa layanan seperti transportasi dan pernikahan.

“Siswa harus menciptakan merek yang sepenuhnya baru, mulai dari nama, tagline, hingga desain visual,” ujar Dadang, Jumat (24/7/2026) kemarin.

Menurut pengamatan Dadang, siswa memanfaatkan aplikasi kecerdasan buatan generatif di luar instruksi eksplisit yang diberikan, mulai dari mencari ide kalimat iklan hingga memeriksa ulang tata bahasa Inggris yang mereka tulis. Sebagian siswa mengaku sempat memeriksa hasil tulisannya lewat Google Translate untuk memastikan kalimat yang mereka susun sendiri sudah tepat, alih-alih menerjemahkan teks secara langsung dari Bahasa Indonesia.

Proses pengerjaan poster tidak selalu berjalan mulus. Kata Dadang, Sejumlah siswa mengaku kesulitan pada tahap mencari ide visual dan menyesuaikan elemen desain dengan keterbatasan fitur gratis di Canva.

Meski begitu, Dadang senang karena para siswa menilai pengalaman ini berbeda dari pembelajaran Bahasa Inggris konvensional. Proyek ini dirancang untuk menjawab kesenjangan antara kemampuan siswa memahami teks iklan berbahasa Inggris dan kemampuan mereka memproduksi teks serupa secara mandiri merupakan keterampilan yang menurutnya dituntut secara eksplisit dalam Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka.

Dalam pelaksanaanya, sejumlah kelompok memodifikasi nama produk yang sudah dikenal luas menjadi identitas baru. Kelompok Nazwa, misalnya, mengubah wafer Tango menjadi “Tenggos” setelah berdiskusi tentang camilan favorit anggota kelompok.

“Kita tuh benar-benar se-asbun itu untuk judul produknya,” kata Nazwa, mengenang proses awal yang menurutnya sempat membingungkan sebelum akhirnya menemukan konsep tersebut.

Kelompok lain juga memilih pendekatan serupa. Chira, yang mengusulkan nama “Sumoo” untuk produk berbasis Susu Ultra, mengaku idenya muncul begitu saja. “Dari aku, tapi itu cuma kayak tiba-tiba muncul aja,” katanya, menjelaskan bahwa nama itu merupakan singkatan dari “susu mo”.

Sementara itu, kelompok Andita Nurahmawati dari kelas X.4 mengubah Chitos menjadi “CetaZ”, dengan tagline “boom in your mouth” yang terinspirasi dari rasa keju yang menjadi favorit bersama di kelompok tersebut. Ide nama itu diusulkan oleh salah satu anggota kelompok, Valencia Amanda, dan langsung disepakati karena dianggap sesuai dengan selera bersama.

Bagi Nashwa, yang kelompoknya menciptakan produk minuman “Estooleh” ternyata berasal dari kata “esteler”, proyek ini memberi pengalaman berbeda dari tugas-tugas sebelumnya. “Perasaannya senang, karena pembuatan poster tuh lebih menarik buat aku daripada tugas-tugas yang lain,” ujarnya.

Kelompok Nashwa memanfaatkan ChatGPT untuk menyusun tagline berbahasa Inggris “the perfect wake me up”, yang menurutnya menggambarkan efek segar dari produk tersebut. (eki)