CIREBON (MASS) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Kuningan (Uniku) 2026 Kelompok 18 menggelar pelatihan dan praktik langsung pemilahan sampah serta pembuatan ecobrick di lingkungan sekolah dasar (SD) Desa Pasaleman, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon.
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa-Rabu (21-23/7/2026) ini, digagas sebagai upaya mengurangi volume penumpukan sampah plastik sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan sejak dini, melalui demonstrasi interaktif pemadatan sampah plastik ke dalam botol bekas.
Ketua Kelompok KKN Uniku kelompok 18 Desa Pasaleman, Rikza, menyebut persoalan sampah plastik yang kian menumpuk merupakan salah satu tantangan lingkungan yang dihadapi Desa Pasaleman selama ini. Minimnya edukasi mengenai pemilahan dan pengolahan sampah membuat sampah anorganik, khususnya plastik, kerap dibuang begitu saja tanpa dimanfaatkan kembali.
Karena kondisi itu, program pelatihan ecobrick ini menjadi salah satu wujud nyata dari tema besar KKN Uniku 2026 “Akselerasi Berdampak Menuju Desa Mandiri Dan Berdaya Saing Berbasis Inovasi Lingkungan, Digitalisasi, UMKM, dan Literasi Terintegrasi”. Melalui program ini, KKN berupaya mengubah paradigma sampah dari sumber masalah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi bagi warga.
Dalam pelaksanaan di Desa Pasaleman, kegiatan dibagi ke dalam dua sesi utama. Sesi pertama berupa edukasi mengenai cara memisahkan sampah anorganik, khususnya plastik, dari jenis sampah lainnya agar lebih mudah diolah. Sesi kedua berupa praktik langsung pembuatan ecobrick, di mana mahasiswa mendampingi anak-anak SDN 1 Pasaleman dalam mencacah sampah plastik, memasukkannya ke dalam botol bekas, hingga memadatkannya menjadi produk yang siap dimanfaatkan menjadi barang bernilai guna, seperti kursi, atau meja sederhana.
Nampak dalam kegiatan, para siswa belajar dengan antusias. Ketua Kelompok KKN Rikza, berharap antusiasme yang ditunjukkan siswa selama pelatihan dapat terus berlanjut meskipun program KKN telah usai. “Kami berharap kebiasaan memilah sampah dan membuat ecobrick ini tidak berhenti setelah kami meninggalkan desa, tetapi menjadi kebiasaan yang konsisten dilakukan pelajar,” ujarnya.
Pelatihan ecobrik sendiri direspon baik pihak sekolah. Bahkan, pihak sekolah berharap kegiatan tersebut bisa membawa dampak nyata bagi persoalan kebersihan lingkungan yang selama ini dihadapi desa, sekaligus menanamkan nilai peduli lingkungan sejak dini kepada para siswa.
Pun begitu dengan warga dan Pemerintah Desa Pasaleman yang sama-sama merespon baik. Dengan pelatihan kepada anak usia dini, ada paradigm baru bagi generasi berikutnya bahwa sampah anorganik yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini dapat dimanfaatkan kembali atau bahkan dijual, sehingga memberikan nilai tambah ekonomis bagi lingkungan. Program ini diharapkan menumbuhkan kebiasaan baru di kalangan siswa SDN 1 Pasaleman untuk memilah sampah sejak usia dini. (eki)