KUNINGAN (MASS) – Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (Hima PAI) Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan menggelar webinar bertajuk “Orientasi Pendidikan 2045” dengan tema “Menjadi Guru Berdampak di Tengah Krisis Literasi, Numerasi, dan Karakter”, Sabtu (18/7/2026).
Kegiatan yang diikuti mahasiswa, guru, calon guru, serta pemerhati pendidikan itu diselenggarakan sebagai upaya mempersiapkan pendidik yang mampu menjawab berbagai tantangan pendidikan menuju Indonesia Emas 2045.
Ketua Hima PAI UNISA Kuningan, Yayat, mengatakan webinar tersebut menjadi bagian dari komitmen organisasi dalam meningkatkan kualitas calon pendidik di tengah berbagai persoalan pendidikan yang dihadapi saat ini.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mempersiapkan pendidik yang mampu menjawab tantangan pendidikan menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Webinar menghadirkan dua narasumber, yakni akademisi sekaligus dosen UNISA Kuningan, Dr Endun Abdul Haq MPd, serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Dr Elon Carlan MPd.
Dalam pemaparannya, Dr Endun menjelaskan guru pada era Pendidikan 2045 dituntut mampu mengembangkan Higher Order Thinking Skills (HOTS) atau kemampuan berpikir tingkat tinggi. Menurutnya, paradigma pembelajaran telah bergeser dari Lower Order Thinking Skills (LOTS) yang berorientasi pada mengingat dan menghafal menuju pembelajaran yang mendorong peserta didik memahami konsep secara mendalam, menganalisis persoalan, mengevaluasi informasi, hingga menghasilkan solusi dan gagasan kreatif.
Karena itu, guru tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai materi, melainkan menjadi fasilitator yang membimbing peserta didik agar memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta mampu memecahkan berbagai persoalan dalam kehidupan nyata.
Ia juga menjelaskan guru berdampak dapat diukur dari sejumlah indikator, di antaranya meningkatnya kemampuan literasi dan numerasi peserta didik, terbentuknya karakter yang kuat, memiliki integritas dan komitmen terhadap profesinya, serta mampu menghasilkan karya nyata yang menjadi warisan positif bagi dunia pendidikan.
“Guru tidak hanya dinilai dari proses mengajarnya, tetapi juga dari dampak yang mampu diwujudkan bagi perkembangan peserta didik dan kemajuan pendidikan,” jelasnya.
Selain itu, Dr Endun menekankan keberhasilan pendidikan tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Menurutnya, pembentukan karakter dan keberhasilan belajar anak memerlukan kolaborasi yang kuat antara sekolah dan keluarga.
Ia menilai masih ada anggapan bahwa tanggung jawab pendidikan sepenuhnya berada di tangan sekolah. Padahal, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Karena itu, komunikasi serta kerja sama antara guru dan orang tua harus terus diperkuat agar pembinaan karakter, literasi, dan numerasi berlangsung secara berkesinambungan.
“Hal ini sejalan dengan konsep Tri Pusat Pendidikan, yakni sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Dr Elon Carlan, menyampaikan bahwa guru yang mampu memberikan dampak positif bagi peserta didik harus memiliki sejumlah karakteristik utama.
Menurutnya, guru perlu memiliki jiwa entrepreneur yang kreatif dan inovatif dalam mengembangkan pembelajaran, bersikap adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, konsisten menjalankan tugas sebagai pendidik, serta menguasai teknologi untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih inovatif, interaktif, dan bermakna.
Dr Carlan juga menegaskan bahwa teori hanya menjadi support system dalam proses pembelajaran. Keberhasilan seorang guru, kata dia, lebih banyak ditentukan oleh keteladanan dalam bersikap dan berperilaku.
“Guru yang mampu memberikan contoh melalui sikap, perilaku, kedisiplinan, integritas, dan etika akan lebih mudah membangun karakter peserta didik dibandingkan hanya menyampaikan materi secara teoritis. Guru harus menjadi sosok yang dapat digugu dan ditiru sehingga pendidikan tidak hanya melahirkan peserta didik yang cerdas, tetapi juga berkarakter mulia,” tegasnya.
Webinar berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Melalui kegiatan tersebut, Hima PAI UNISA Kuningan berharap dapat memperkuat kesiapan calon pendidik dalam menghadapi tantangan pendidikan masa depan sekaligus mendorong lahirnya guru-guru yang mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. (didin)