KUNINGAN (MASS) – Di tengah zaman yang bising oleh gemerlap dunia, umat hari ini merindukan sosok. Bukan sosok yang viral, tapi sosok yang rabbani.
Generasi yang hatinya terpaut pada Al-Qur’an, lisannya mengajarkan kebenaran, jiwanya kuat, dan langkahnya selalu untuk umat.
Allah sendiri yang menyebut ciri ini dalam Al-Qur’an: “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran: 79).
Lalu seperti apa generasi yang dirindukan itu? Paling tidak ada tujuh indikasi untuk menjadi generasi rabbani:
Pertama, tu’allimunal kitab – Mengajarkan Al-Qur’an. Generasi ini tidak menyimpan ilmu untuk diri sendiri. Ia menjadi agen pembaharuan. Mengubah masyarakat yang tidak mengenal Islam menjadi memahami Islam. Mengubah yang sudah paham menjadi menjadikan Islam sebagai pola pikir, dan menggerakkannya menjadi cinta Islam.
Kedua, tadrusun – Mempelajari Kitab. Generasi ini tidak pernah berhenti belajar. Hatinya haus ilmu. Ia siap berubah kapan saja ketika menemukan sikap hidup yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an. Karena ia tahu, hidup ini proses tarbiyah yang terus berjalan.
Ketiga, mawahanu – Tidak Lemah Mental. Prinsip hidupnya tidak mudah goyah oleh gaya hidup non-Islam. Saat bencana menimpa diri, keluarga, atau dalam gerak dakwahnya, ia hadapi dengan sabar dan istiqamah. Karena ia yakin, janji Allah itu benar.
Keempat, madh’ufu – Tidak Lemah Fisik. Ia menjaga jasmani sebagaimana menjaga rohani. Berolahraga, bela diri yang Islami, agar menjadi umat yang kuat.
Rasulullah SAW bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).
Kelima, mastakanu – Tidak Menyerah. Generasi ini pantang menyerah dalam menegakkan kebenaran. Ada menang dan kalah, tapi tidak ada kata mundur.
Motto para sahabat: “Isy kariman aw mut syahidan” – Hidup mulia atau mati syahid.
Keenam, muhasabah – Mengkaji Ulang.
Setelah berjuang, ia duduk mengevaluasi. Jika berhasil, ia bersyukur. Jika belum, ia perbaiki langkah agar esok lebih baik. Karena rabbani tidak mengulang kesalahan yang sama.
Ketujuh, rajaullah – Penuh Harap kepada Allah. Usaha maksimal selalu diiringi doa. Istighfar saat khilaf. Memohon pertolongan Allah dalam setiap langkah. Karena ia sadar, hasil akhir hanya di tangan-Nya.
Jadilah generasi rabbani di mana pun berada, sehingga hidup akan bermanfaat. RasulullahSAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Thabrani).
Dalam hadits lain: “Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Thabrani).
Semoga Allah membimbing kita kaum Muslimin agar menjadi insan-insan yang rabbani. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Penulis : Imam Nur Suharno
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat