KUNINGAN (MASS) – Menargetkan swasembada gula nasional, Pemerintah melakukan pengembangan kawasan tebu di berbagai daerah. Salah satunya diwujudkan dalam Gerakan Tanam Serentak Komoditas Tebu yang digelar di lahan Kelompok Tani Juwet, Desa Cibulan, Kecamatan Cidahu, Kamis (2/7/2026).
Kegiatan ini dihadiri Ketua Kelompok Hukum, Layanan Perizinan dan Humas Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI Hadi Dafenta, Direktur Operasional PT PG Rajawali II, General Manager Pabrik Gula Tersana Baru dan Pabrik Gula Sindanglaut, unsur Forkopimcam Cidahu, jajaran Pemerintah Kabupaten Kuningan, penyuluh pertanian, pelaku usaha, serta para petani tebu.
Gerakan tanam serentak ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan produksi gula dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor. Saat ini kebutuhan gula nasional mencapai sekitar 8,1 juta ton per tahun, sedangkan produksi gula nasional baru sekitar 2,66 juta ton, sehingga masih terdapat defisit sekitar 5,44 juta ton.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., mengatakan pengembangan komoditas tebu menjadi salah satu program strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Program ini menjadi momentum untuk membangkitkan kembali kejayaan komoditas tebu di Kabupaten Kuningan. Yang dibangun bukan hanya peningkatan produksi gula, tetapi juga penguatan ekonomi petani dan tumbuhnya kembali semangat bertani,” ujarnya.
Dikatakan Wahyu, pemerintah saat ini menjalankan dua strategi utama dalam meningkatkan produksi gula, yaitu melalui program bongkar ratoon untuk meningkatkan produktivitas tanaman tebu yang telah ada serta perluasan areal tanam baru.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program tersebut, Kementerian Pertanian memberikan stimulan dan fasilitasi kepada petani berupa bantuan benih tebu unggul senilai Rp10 juta per hektare serta bantuan pengolahan lahan sebesar Rp4 juta per hektare. Dukungan ini diharapkan mampu menekan biaya produksi, meningkatkan produktivitas, dan mendorong percepatan perluasan areal tanam tebu di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Kuningan.
Menurut Wahyu, Kabupaten Kuningan memperoleh target pengembangan tebu seluas 250 hektare pada tahun 2026. Namun, Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) yang telah diusulkan mencapai 267 hektare, melampaui target yang ditetapkan pemerintah.
“Capaian ini menunjukkan tingginya antusiasme petani serta kuatnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN gula, penyuluh pertanian, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung percepatan Swasembada Gula Nasional 2026,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Wahyu mengajak para petani menjadikan filosofi tebu sebagai semangat dalam membangun pertanian Indonesia. “Tebu mengajarkan kita bahwa hidup yang manis tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari proses panjang yang penuh kesabaran,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan pertanian tidak pernah lahir secara instan. “Manisnya tebu bukan hadiah alam semata, melainkan hasil doa, kerja keras, dan ketekunan petani yang tidak pernah menyerah,” ucapnya.
“Kalau ingin hidup terasa manis, belajarlah dari tebu: tumbuh dengan sabar, berakar kuat, dan tetap memberi manfaat hingga akhir,” tambahnya di akhir. (eki)