KUNINGAN (MASS) – Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri. Dalam menjalani kehidupan, manusia saling membutuhkan, saling membantu, dan saling melengkapi satu sama lain. Meski hubungan antarmanusia terkadang menghadirkan tantangan dan perbedaan, keberadaan orang lain menjadi bagian penting dalam kehidupan. Melalui interaksi itulah manusia belajar saling berbagi, memahami, mengingatkan, dan bertumbuh bersama dalam kebaikan.
Dalam Islam, pertemanan bukan sekadar hubungan sosial yang terbentuk karena kesamaan lingkungan, hobi, atau kepentingan tertentu. Lebih dari itu, Islam memandang pertemanan sebagai bagian dari ukhuwah, yaitu ikatan persaudaraan yang dilandasi keimanan kepada Allah Swt. Ikatan ini bukan hanya menyatukan dua individu, tetapi juga menjadi sarana untuk saling menjaga, saling menolong dalam kebaikan, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Islam juga mengajarkan adab dalam berteman agar hubungan terjalin tetap harmonis dan membawa keberkahan. Salah satunya adalah saling menghargai dan menghormati. Seorang muslim tidak diperkenankan mencela, merendahkan, ataupun berburuk sangka kepada saudaranya. Sikap saling menghormati menjadi fondasi yang menjaga kokohnya sebuah pertemanan.
Adab berikutnya adalah menjaga lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kesalahpahaman seringkali muncul akibat informasi yang tidak jelas atau komunikasi yang kurang baik. Oleh karena itu, Islam mengajarkan tabayyun, yaitu memeriksa dan mengklarifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Dengan demikian, kedamaian dan keharmonisan dalam pertemanan dapat tetap terjaga.
Islam juga mengajarkan untuk mendoakan teman dalam ketiadaannya. Mendoakan kebaikan bagi orang lain tanpa sepengetahuannya merupakan salah satu bentuk cinta yang tulus. Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa malaikat akan mengaminkan doa tersebut dan mendoakan kebaikan yang sama bagi orang yang berdoa.
Namun, sebagaimana setiap pertemuan memiliki awal, setiap kebersamaan pada akhirnya akan berhadapan dengan perpisahan. Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Pergantian waktu, pekerjaan, pendidikan, maupun keadaan hidup seringkali membuat jalan manusia berpisah. Dalam kondisi seperti itu, rasa sedih dan kehilangan menjadi hal yang sangat manusiawi.
Islam tidak melarang seseorang bersedih karena perpisahan. Sebaliknya, kesedihan adalah fitrah yang Allah Swt., tanamkan dalam hati manusia. Akan tetapi, kesedihan tersebut perlu diiringi dengan keikhlasan, doa, dan husnudzan kepada Allah Swt., bahwa setiap perpisahan menyimpan hikmah yang mungkin belum dapat dipahami saat ini.
Hari ini, penulis kembali belajar tentang makna pertemanan dari adik-adik mahasiswa. Melihat perjalanan yang mereka lalui bersama, berbagai pengalaman yang mereka hadapi, serta suka duka yang mereka lewati dalam satu fase kehidupan, membuat ikatan emosional di antara mereka tumbuh begitu kuat. Karena itu, ketika mereka harus menghadapi perpisahan dengan salah seorang teman mereka, rasa sedih dan kehilangan menjadi sesuatu yang sangat wajar.
Momen tersebut mengingatkan bahwa pertemanan yang dibangun di atas kebersamaan, perjuangan, dan nilai-nilai kebaikan akan meninggalkan jejak yang mendalam di hati. Semakin tulus sebuah hubungan dijalani, semakin besar pula rasa kehilangan yang dirasakan ketika perpisahan datang menghampiri. Namun, perpisahan bukanlah akhir dari sebuah pertemanan.
Jika perpisahan terjadi karena tuntutan pekerjaan, pendidikan, atau jarak, jangan biarkan jarak memutuskan tali ukhuwah yang telah terjalin. Ingatlah bahwa hubungan yang dibangun karena Allah Swt., tidak akan mudah hilang hanya karena terpisah ruang dan waktu. Tetap saling mendoakan, menjaga komunikasi, dan menyimpan kenangan baik adalah cara untuk merawat pertemanan. Sebab dalam Islam, salah satu bentuk cinta yang paling tulus adalah tetap mendoakan kebaikan bagi teman, bahkan ketika ia sudah tidak lagi berada di dekat kita.
Dengan demikian, pertemanan dalam Islam bukan hanya tentang siapa yang hadir dalam kehidupan kita, tetapi juga tentang bagaimana kita saling membawa kepada kebaikan. Teman yang sejati bukan sekadar menemani perjalanan hidup, melainkan juga membantu kita tetap berada di jalan yang diridhai Allah Swt. Karena itu, pertemanan yang dilandasi iman dan dijaga dengan ketulusan akan menjadi salah satu nikmat yang tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga bernilai hingga akhirat. Semoga.
Oleh Husnul Khotimah
Dosen STIS Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat