Miliki Sekitar 130 Santri, Ponpes Roudlotul Ummah Tampung Santri dari Berbagai Daerah

KUNINGAN (MASS) – Pondok Pesantren Roudlotul Ummah yang beralamat di Desa Gandasoli, Kecamatan Kramatmulya, terus berkembang sebagai lembaga pendidikan Islam yang diminati masyarakat dari berbagai daerah. Saat ini, pesantren yang dipimpin Kiai Dede Nadif Ar-Rasyid tersebut memiliki sekitar 130 santri mukim yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

Tidak hanya berasal dari Kuningan dan daerah sekitar Jawa Barat, para santri juga datang dari Jakarta, Bandung, Tangerang, Karawang, Ciamis, hingga daerah yang lebih jauh seperti Klaten dan Sulawesi. Keberagaman asal santri tersebut menjadi bukti meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan yang diterapkan di Pondok Pesantren.

Pimpinan Pondok Pesantren Roudlotul Ummah, Kiai Dede Nadif Ar-Rasyid, menjelaskan pesantren yang dipimpinnya dirintis sejak tahun 2011. Awalnya hanya beberapa santri yang belajar mengaji, sebelum akhirnya pada tahun 2013 resmi diberi nama Pondok Pesantren Roudlotul Ummah.

“Pada 2011 itu saya mulai kedatangan santri, awalnya santri-santri kalongan paling berapa orang, enggak banyak. Di tahun 2013 saya resmikan, saya beri nama Pondok Pesantren Roudlotul Ummah,” ujar Kiai Dede, Jumat (12/6/2026).

Seiring berjalannya waktu, pesantren terus berkembang. Pada tahun 2019 didirikan SMP IT, kemudian pada tahun 2021-2022 berdiri SMA IT sebagai bagian dari pengembangan pendidikan formal di lingkungan pesantren.

Menurut Kiai Dede, seluruh pembangunan sarana dan prasarana pesantren dilakukan secara bertahap dengan mengandalkan kemandirian. Berbekal pengalaman dan keterampilan di bidang konstruksi, ia terlibat langsung dalam proses pembangunan, mulai dari desain bangunan hingga pengerjaan berbagai fasilitas pesantren.

“Semua dirintis dari nol. Saya belajar membangun secara mandiri, mendesain sendiri bangunan, hingga mengembangkan berbagai usaha untuk menopang kebutuhan pesantren,” katanya.

Selain pendidikan agama, Pondok Pesantren Roudlotul Ummah juga membekali santri dengan berbagai keterampilan praktis. Santri diajarkan sejumlah keahlian seperti konstruksi bangunan, pengelasan, pembuatan furnitur, desain, hingga kewirausahaan. Menurutnya, pendidikan pesantren harus mampu mencetak generasi yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam bidang akademik, pesantren memiliki program pembelajaran Al-Qur’an, kitab kuning, bahasa Arab, dan bahasa Inggris. Bahkan sejumlah lulusan pesantren ada yang melanjutkan pendidikan ke Mesir.

Kiai Dede menambahkan, seluruh santri yang mondok di Roudlotul Ummah mengikuti sistem pendidikan berasrama penuh. Para santri tinggal di lingkungan pesantren selama 24 jam dan hanya pulang ke rumah pada waktu-waktu tertentu sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami menerapkan sistem pendidikan penuh di dalam pesantren. Orang tua dapat berkunjung sesuai jadwal yang telah ditentukan agar proses pendidikan dan pembinaan santri dapat berjalan maksimal,” ungkapnya.

Ke depan, Pondok Pesantren Roudlotul Ummah berencana terus mengembangkan lembaga pendidikan yang ada, termasuk mendirikan jenjang sekolah dasar (SDIT). Namun demikian, menurut Kiai Dede, pengembangan lembaga membutuhkan sumber daya manusia yang profesional dan memiliki loyalitas tinggi agar mampu menjaga kualitas pendidikan yang diberikan kepada para santri.

Dengan jumlah santri yang terus bertambah, Pondok Pesantren Roudlotul Ummah optimistis dapat terus berkembang sebagai lembaga pendidikan yang memadukan penguatan ilmu agama, pendidikan formal, serta keterampilan hidup bagi generasi muda. (didin)