Viral Video Anggota Ormas “Sweeping” Kontrakan, Ketua LMPI Kuningan Buka Suara

KUNINGAN (MASS) – Ketua Laskar Merah Putih Indonesia (LMPI) Kabupaten Kuningan, Ujang Jenggo, memberikan klarifikasi terkait video viral yang memperlihatkan sejumlah anggota LMPI “sweeping” ke kontrakan.

Klarifikasi disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Sekretariat LMPI Kabupaten Kuningan, Jalan M Toha Kedungarum, Senin (1/6/2026). Dalam kesempatan itu, Ujang didampingi empat kuasa hukum, yakni Hari Rosmayadi SH, A Haries SH, Riri Priyono SH dan Anggi Firmansyah SH.

Menurut Ujang, berbagai informasi yang beredar di media sosial terkait peristiwa tersebut dinilai tidak sepenuhnya menggambarkan fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan.

“Menurut pandangan kami, ini semua adalah salah kaprah, Yang terjadi tidak sesuai dengan faktanya. Sehingga ini digiring oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab ke hal-hal yang negatif sehingga menjadi sorotan publik,” ujar Ujang.

Ia menjelaskan, kedatangan sejumlah anggota LMPI ke lokasi bertujuan untuk meminta klarifikasi atas dua persoalan yang dinilai merugikan organisasi.

Pertama, terkait pemberitaan yang menyebut adanya dugaan mark up anggaran ujian sekolah tingkat SMP sebesar Rp 20 ribu. Setelah dilakukan penelusuran dan klarifikasi kepada pihak sekolah, menurut Ujang, biaya yang sebenarnya sebesar Rp 12 ribu sehingga informasi yang beredar dinilai tidak sesuai fakta.

Persoalan kedua yang disebut lebih krusial adalah dugaan pencatutan nama LMPI oleh oknum wartawan yang dicari teraebut, untuk meminta sejumlah uang kepada seorang pengusaha tower di Kabupaten Kuningan.

Menurut Ujang, pihaknya memperoleh informasi dan bukti bahwa oknum tersebut diduga meminta uang sebesar Rp7 juta dengan mengatasnamakan LMPI.

“Saya punya fakta dan bukti terkait hal itu, bahkan bisa dihadirkan pihak yang merasa dirugikan oleh oknum tersebut,” ungkapnya.

Ujang menjelaskan, anggota LMPI sempat mendatangi kediaman oknum wartawan tersebut untuk meminta klarifikasi, namun yang bersangkutan tidak berada di tempat. Mereka juga berupaya mencari kantornya di wilayah Kuningan, namun tidak menemukan keberadaannya.

Ia mengakui sempat terjadi ketegangan saat anggota LMPI mendatangi salah satu lokasi yang diduga berkaitan dengan oknum tersebut. Namun menurutnya, kondisi itu dipicu oleh emosi sesaat anggota yang merasa nama organisasi telah disalahgunakan.

“Yang terjadi sebenarnya adalah miskomunikasi. Emosi anggota kami itu karena memang nama lembaga keluarga besar kami dijual oleh mereka untuk memeras pengusaha,” katanya.

Terkait beredarnya potongan video yang memuat ucapan bernada keras, Ujang menegaskan pihaknya tidak memiliki niat melakukan intimidasi maupun ancaman terhadap siapa pun.

Menurutnya, beberapa ungkapan yang muncul dalam situasi emosional tidak dimaksudkan sebagai ancaman fisik, melainkan bentuk kekecewaan terhadap pihak yang dianggap telah merugikan nama organisasi.

“Tidak ada niat untuk mengancam atau melakukan tindakan kekerasan. Tujuan kami hanya meminta klarifikasi dan mempertanyakan siapa yang telah merusak nama baik LMPI,” tegasnya.

Ujang berharap klarifikasi yang disampaikan dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada masyarakat mengenai kronologi peristiwa yang sebenarnya.

Diketahui sebelumnya, beredar luas video yang memperlihatkan sejumlah anggota LMPI Kabupaten Kuningan dianggap “sweeping” kontrakan mencari seseorang. Video tersebut kemudian viral di media sosial. (didin)