Yang Disembelih Bukan Ismail, Tapi Rasa Memiliki Kita

KUNINGAN (MASS) – Kita semua hafal kisah Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.

Nabi Ibrahim AS diperintah menyembelih anaknya sendiri. Seorang ayah yang baru saja diberi keturunan setelah puluhan tahun menanti. Ismail, anak yang shalih, yang tumbuh di hadapannya dengan lemah lembut. Perintah itu datang saat cinta seorang ayah kepada anaknya sedang paling dalam.

Tapi di atas bukit Mina, pisau itu tidak benar-benar jatuh.

Karena Allah tidak pernah ingin darah Ismail. Allah ingin hati Ibrahim. Allah ingin tahu: siapa yang paling dicintai? Anak yang dinanti, atau Tuhan yang memberi?

Nabi Ibrahim tidak diminta menyembelih anaknya, tapi diminta menyembelih ‘rasa memiliki’ yang berlebihan terhadap dunia.”
Inilah inti kurban.

Kita sering salah paham. Kita kira kurban itu tentang hewan yang disembelih. Padahal itu hanya simbol. Yang sebenarnya disembelih adalah rasa memiliki kita yang berlebihan.

Rasa memiliki pada anak, sehingga kita takut menyekolahkannya di jalan Allah.

Rasa memiliki pada harta, sehingga berat rasanya untuk disedekahkan. Rasa memiliki pada jabatan, sehingga kita rela menghalalkan segala cara untuk mempertahankannya. Rasa memiliki pada diri sendiri, sehingga sulit berkata “Aku siap, ya Allah” ketika diminta berkorban.

Kisah Ibrahim dan Ismail adalah cermin untuk kita semua. Apa “Ismail” kita hari ini? Apa sesuatu yang paling kita cintai di dunia, sampai-sampai ia menjadi penghalang antara kita dan Allah?

Bisa jadi itu kariermu. Bisa jadi itu pasanganmu. Bisa jadi itu gengsi dan nama baikmu. Selama ia lebih kamu cintai daripada perintah Allah, selama itu pula hatimu belum merdeka.

Kurban sejati adalah ketika kita mampu berkata seperti Ismail: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”[QS. Ash-Shaffat: 102].

Pasrah. Tunduk. Ikhlas.

Di hari raya ini, mari kita bertanya pada diri sendiri. Apa yang perlu aku sembelih tahun ini agar hatiku kembali bersih untuk Allah?
Karena kurban yang diterima bukan yang gemuk dan mahal harganya. Tapi yang lahir dari hati yang sudah menyembelih cintanya yang berlebihan pada dunia.

Maka sembelihlah. Sembelihlah rasa memiliki itu, sebelum ia menyembelih iman kita.

KH Imam Nur Suharno, SPd SPdI MPdI

Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat