Ketika Nasihat Berubah Menjadi Penghakiman Sosial, Mengapa Dakwah Hari Ini Sering Menyakiti ?

KUNINGAN (MASS) – Di zaman serba digital seperti sekarang, dakwah sudah jauh berkembang. Kalau dulu orang harus datang ke masjid atau majelis ilmu untuk mendengarkan ceramah, sekarang cukup buka TikTok, Instagram, YouTube, bahkan status WhatsApp, kita sudah bisa mendapatkan banyak konten keislaman.Sekilas, ini tentu jadi hal yang positif. Ilmu agama jadi lebih mudah diakses siapa saja dan kapan saja. Tapi di balik kemudahan itu, ada satu fenomena yang cukup sering bikin resah: kenapa sebagian dakwah sekarang terasa lebih seperti menghakimi daripada merangkul?

Tidak sedikit orang yang merasa tersindir, malu, bahkan menjauh dari kajian agama karena cara penyampaian dakwah yang terlalu keras, mudah menyalahkan, atau seolah membuat orang merasa paling berdosa. Padahal, bukankah tujuan dakwah seharusnya membuat orang semakin dekat dengan Allah, bukan malah takut untuk belajar agama?

Pertanyaan ini menjadi penting jika dilihat dari perspektif Fiqih Dakwah, yaitu bagaimana cara menyampaikan ajaran Islam dengan tepat, bijak, dan tetap sesuai dengan nilai kasih sayang dalam Islam.

Dakwah itu Gak Cuma “Nomongin Soal Agama”

Kadang kita berpikir dakwah itu simpel: menyampaikan yang benar dan mengingatkan yang salah. Padahal, dalam Islam, dakwah bukan cuma soal apa yang disampaikan, tapi juga bagaimana cara menyampaikannya.Di sinilah pentingnya memahami fiqih dakwah. Secara sederhana, fiqih dakwah adalah pemahaman tentang cara, strategi, etika, dan pendekatan dalam menyampaikan pesan Islam supaya bisa diterima dengan baik oleh orang lain.Karena faktanya, niat baik belum tentu menghasilkan dampak baik kalau caranya kurang tepat.

Allah Swt. berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…”(QS. An-Nahl: 125)
Dari ayat ini jelas banget bahwa Islam mengajarkan dakwah dengan hikmah, yaitu bijaksana dalam melihat kondisi orang lain. Karena tidak semua orang bisa dinasihati dengan cara yang sama.Ada orang yang tersentuh dengan kelembutan, ada yang butuh proses panjang, dan ada juga yang masih belajar pelan-pelan. Jadi, pendekatan dakwah tidak bisa disamaratakan.

“Ketika Dakwah Kehilangan Sentuhan Hikmah”

Kalau kita jujur melihat realita sekarang, memang ada sebagian model dakwah yang terasa terlalu keras. Sedikit-sedikit disalahkan, berbeda sedikit langsung dianggap aneh, bahkan kadang ada yang sampai mempermalukan orang lain di media sosial atas nama amar ma’ruf nahi munkar.Masalahnya, tidak semua orang siap menerima nasihat dengan cara seperti itu.Bukannya sadar atau berubah jadi lebih baik, sebagian orang justru merasa minder, takut, bahkan memilih menjauh dari lingkungan agama karena merasa “tidak cukup baik”.Padahal, kalau ditarik ke inti ajaran Islam, dakwah itu harusnya jadi ruang aman untuk belajar, bukan tempat yang bikin orang merasa kecil.Tujuan dakwah adalah memperbaiki, bukan mempermalukan.

“Rosulullah Gak Pernah Berdakwah denagan Cara Merendahkan”

Kalau bicara soal contoh terbaik dalam berdakwah, tentu jawabannya Rasulullah saw…. Yang menarik, Rasulullah bukan cuma sukses karena isi dakwah beliau, tapi juga karena cara beliau memperlakukan manusia.

Salah satu kisah yang paling menyentuh adalah ketika Rasulullah berdakwah di Thaif. Bukannya diterima, beliau malah dihina dan dilempari batu sampai terluka. Tapi apa respon beliau?Bukan marah. Bukan balas dendam.Rasulullah justru mendoakan agar suatu saat keturunan mereka mendapat hidayah dari Allah Swt.Di sini kita belajar satu hal penting: dakwah yang paling kuat sering kali lahir dari kelembutan, bukan kemarahan.

Rasulullah saw. juga bersabda:“Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini terasa relate banget dengan kondisi sekarang. Karena kadang orang bukan menjauh dari Islam, tapi menjauh dari cara penyampaian agama yang terasa terlalu menghakimi.

“Tantangan Dakwah Di Era Media Sosial”

Harus diakui, media sosial punya pengaruh besar terhadap perkembangan dakwah. Tapi di sisi lain, ada beberapa tantangan yang gak bisa dianggap sepele:

1. Dakwah Serba Instan
Sekarang siapa saja bisa berbicara soal agama di internet. Masalahnya, tidak semua punya bekal ilmu yang cukup.

2. Konten Kadang Lebih Mengejar Viral
Judul yang kontroversial atau gaya bicara keras sering lebih cepat ramai dibanding pembahasan yang adem dan mendalam.

3. Budaya Mudah Menghakimi
Media sosial bikin orang gampang komentar tanpa benar-benar tahu kondisi seseorang.

4. Hilangnya Adab Berbeda Pendapat
Padahal dalam Islam, beda pendapat itu hal biasa. Yang penting tetap saling menghormati.
“Fiqih Dakwah Sebagai Solusi”

Di sinilah pentingnya fiqih dakwah. Ada beberapa prinsip yang menurut Saya sangat penting diterapkan di era sekarang:
1. Berdakwah dengan bahasa yang lembut dan mudah dipahami
2. Memahami kondisi orang yang dinasihati (mad’u)
3. Fokus memberi solusi, bukan sekadar menyalahkan
4. Bijak menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah
5. Tetap menjaga ukhuwah meskipun berbeda pendapat

Karena pada akhirnya, dakwah bukan tentang siapa yang paling benar terlihat, tapi siapa yang paling mampu mengajak orang menuju kebaikan dengan cara terbaik.

Di tengah maraknya dakwah digital, umat Islam perlu kembali memahami bahwa dakwah bukan hanya soal menyampaikan dalil, tetapi juga soal menyentuh hati manusia. Fiqih dakwah mengajarkan bahwa kebenaran tetap harus disampaikan, tetapi dengan cara yang penuh hikmah, kasih sayang, dan mempertimbangkan kondisi orang lain. Sebab pada akhirnyakeberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari seberapa banyak orang mendengar, menonton, atau menyukai sebuah konten, tetapi dari seberapa besar pesan tersebut mampu menyentuh hati, membuka kesadaran, dan mengajak manusia semakin dekat kepada Allah Swt. Karena sesungguhnya, dakwah terbaik bukanlah yang paling keras terdengar, melainkan yang paling mampu mengetuk hati dan menghadirkan perubahan menuju kebaikan.

Oleh: Kartika Yolanda (Mahasiswi STIS HK & Aktivis KAMMI)