KUNINGAN (MASS) – Bertempat di Teras Pendopo Kuningan, Selasa (12/5/2026) kemarin, jajaran pengurus dan Dewan Pakar Dewan Kebudayaan Kuningan (DKK) resmi dilantik untuk masa bakti 2026-2030 mendatang.
Salah satu sosok yang turut dilantik adalah Dadan Aminudin Latif, praktisi budaya sekaligus pengusaha Kopi Hawu. Ia menegaskan dewan Kebudayaan memiliki tugas berat untuk mengembalikan serta merevitalisasi nilai-nilai luhur Kuningan di tengah derasnya arus teknologi.
“Kalau berbicara nilai adiluhung Kuningan tentunya harusnya Kuningan mampu atau harusnya Dewan Kebudayaan yang saat ini baru dilantik insya Allah mampu untuk mengembalikan lagi atau merevitalisasi atau mengembangkan yang sudah ada,” tuturnya dihadapan awak media pasca pelantikan.
Dadan sependapat dengan pernyataan Bupati bahwa kebudayaan merupakan indeks pembangunan dan benteng peradaban. Baginya, modernisasi tidak boleh melunturkan identitas lokal, melainkan harus bisa diimbangi dengan pengembangan budaya yang relevan dengan zaman.
“Kebudayaan juga salah satu indeks pembangunan, artinya kebudayaan adalah benteng peradaban yang tentunya harus bisa mengimbangi modernisasi ini,” tambahnya.
Namun, Dadan menekankan tugas ini tidak bisa dipikul oleh Dewan Kebudayaan sendirian. Dibutuhkan kerja sama lintas sektor atau multi-stakeholder, mulai dari pemerintah daerah, berbagai dinas terkait, hingga masyarakat luas untuk menjaga kelestarian budaya.
“Berbicara kebudayaan saat ini kan itu multi stakeholder ya. Ada lintas sektor yang memang harus bekerjasama, termasuk pemerintah daerah, lintas dinas, ya masyarakat dan kebudayaan itu sendiri untuk mencapai kelestarian kebudayaan Kuningan,” paparnya.
Menanggapi pesan Bupati mengenai “seni harus dengan sangu” (seni yang menghasilkan), Dadan berbagi pandangan dari sisi entrepreneur budaya. Ia memegang prinsip Suci Pamrih, Rancage Gawé, yakni bekerja dengan hati bersih sebagai bentuk bakti, yang nantinya akan mendatangkan jalan rezeki.
“Sebetulnya kalau berbicara kebudayaan kan ada bahasa sepuhnya, namanya Suci pamrih, Rancage, Gawé. Jadi artinya kita dengan bersih hati kita melakukan itu sebagai dharma bhakti,” pungkasnya. (raqib)