KUNINGAN (MASS) – Rencana aktivitas Pondok Pesantren Al-Zaytun pimpinan Panji Gumilang di wilayah Kecamatan Ciawigebang menuai penolakan keras. Puluhan tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat bersepakat menolak segala bentuk kegiatan yang berkaitan dengan kelompok tersebut dalam sebuah musyawarah di Aula IPHI Ciawigebang, Jumat (8/5/2026).
Ketua MUI Kecamatan Ciawigebang, H. Muhsin Abdullah, mengungkapkan pertemuan ini didasari oleh keresahan para kyai atas kehadiran Panji Gumilang di wilayah mereka. Informasi yang beredar menyebutkan pihak Al-Zaytun tengah berupaya mencari lahan dalam skala besar di beberapa desa.
“Semula kami mengajak teman teman tokoh agama di wilayah Kecamatan Ciawiebang dengan peristiwa dengan kehadiran Bapak Panji Gumilang di wilayah Ciawigebang. Kami sebagai antisipasi dengan kontroversi yang ada oleh Pesantren Al-Zaytun selama ini yang kita lihat di media sosial beberapa tahun yang lalu,” tuturnya saat ditemui kuninganmass.com pasca musyawarah.
Muhsin menjelaskan, alasan utama penolakan ini adalah rekam jejak Al-Zaytun yang penuh kontroversi dalam beberapa tahun terakhir. Masyarakat khawatir adanya penyalahgunaan syariat serta penafsiran ayat Al-Qur’an yang dianggap tidak sesuai dengan kaidah umum yang berlaku di masyarakat.
“Selama ini kita tahu Al-Zaytun itu kontroversi seperti itu ya. Jadi penyalahgunaan syariat, terus penafsiran penafsiran ayat ayat Alquran sesuai dengan keinginan mereka,” tambahnya.
Kekhawatiran semakin menguat karena Panji Gumilang beserta timnya dilaporkan sudah beberapa kali turun langsung ke lapangan untuk mencari tanah. Meski alasannya untuk ketahanan pangan, warga khawatir lokasi tersebut nantinya akan dijadikan pusat aktivitas yang tertutup bagi publik.
“Bahkan ada yang bilang 4 kali sengaja memang mau mencari tanah di sini. Awalnya memang untuk ketahanan pangan, tapi tidak menutup kemungkinan kekhawatiran kami adalah nanti ke depan untuk menjadi aktivitas aktivitas seperti yang ada di Indramayu,” pungkasnya. (raqib)