KUNINGAN (MASS) – Keindahan Gunung Ciremai selalu menghadirkan ketenangan bagi siapa pun yang datang. Maka ketika ada pemandangan yang terasa berbeda di jalur pendakian, wajar jika muncul rasa kaget atau pertanyaan.
Namun, di balik itu semua, ada satu hal penting yang sering luput: tidak semua hutan memiliki fungsi yang sama.
Dalam tata kelola kehutanan di Indonesia, hutan secara umum dibagi menjadi tiga fungsi utama:
Hutan konservasi: perlindungan ekosistem
Hutan lindung: menjaga air dan tanah
Hutan produksi: dimanfaatkan secara terbatas
Kawasan seperti Taman Nasional Gunung Ciremai memang termasuk dalam kategori konservasi. Namun di dalamnya tetap ada pengelolaan yang berlapis dan tidak selalu tampak sederhana dari luar.
Agar lebih mudah dipahami, bayangkan hutan seperti tubuh manusia.
Ketika kita melihat luka kecil di kulit, kesannya mungkin “menyakitkan” atau “tidak baik”. Tetapi dalam kondisi tertentu, luka itu bisa menjadi bagian dari proses, misalnya tindakan medis untuk menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Dari luar terlihat tidak nyaman, tetapi di dalamnya ada tujuan menjaga keberlanjutan hidup.
Begitu pula dengan hutan. Apa yang terlihat berbeda di permukaan, belum tentu berarti merusak. Bisa jadi itu bagian dari proses pengelolaan yang memiliki tujuan tertentu, meskipun tidak selalu langsung dipahami oleh pengunjung.
Di titik ini, kepedulian publik tetap penting. Rasa sayang terhadap alam adalah fondasi utama menjaga keberlanjutan. Namun kepedulian itu akan menjadi lebih kuat jika dibarengi dengan pemahaman.
Alih-alih terburu-buru menilai, langkah yang lebih bijak adalah memberi ruang pada penjelasan yang utuh dan melihat hutan sebagai sistem yang dikelola, bukan sekadar pemandangan.
Pada akhirnya, menjaga Gunung Ciremai bukan hanya soal mempertahankan keindahannya, tetapi juga menjaga cara kita memahaminya tetap jernih.
Penulis: Dadan Satyavadin
(Pemerhati kebijakan publik dan tata kelola daerah)