Sambut Arahan Prof. Ma’mun Murod, PK IMM Djazman Al-Kindi Ajak Civitas Akademika UM Kuningan Perkuat Sinergi dengan Ortom

KUNINGAN (MASS) – Pernyataan Ketua Umum PP FOKAL IMM, Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si., yang menyoroti adanya hambatan terhadap gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), memicu respons mendalam dari tingkat komisariat.

​Dalam arahannya di Medan pada Sabtu (18/4), Prof. Ma’mun menegaskan pentingnya keberpihakan struktural PTMA terhadap IMM. “Saya sering katakan, apa pun latar organisasi kemahasiswaannya saat menjadi mahasiswa, ketika sudah menjadi pejabat struktural di PTMA, wajib menghidup-hidupi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Faktanya, sering kali IMM justru dipersulit, padahal posisinya adalah organisasi otonom Muhammadiyah,” tegas Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta tersebut.

​Menanggapi hal itu, Ridho Juliano selaku Ketua PK IMM Djazman Al-Kindi Universitas Muhammadiyah Kuningan menegaskan bahwa apa yang disampaikan Prof. Ma’mun bukan sekadar kritik normatif, melainkan pengingat penting bagi seluruh elemen di PTMA, terkhususnya di Universitas Muhammadiyah Kuningan.

​”Pernyataan Prof. Ma’mun menjadi pengingat tulus bagi kita untuk kembali menguatkan sinergi di PTMA. Harapannya, seluruh elemen kampus dapat berjalan beriringan dengan IMM serta seluruh organisasi ortom yang ada, tanpa terhalang oleh sekat-sekat latar belakang organisasi di masa lampau, demi mewujudkan visi besar Muhammadiyah secara kolektif,” tegas Ridho dalam keterangan tertulisnya.

​Ia menjelaskan bahwa IMM, bersama Tapak Suci dan Hizbul Wathan (HW), merupakan pilar strategis yang lahir dari rahim Muhammadiyah untuk merawat nilai perjuangan di kampus. Sebagai keluarga besar, PTMA harus menjadi rumah yang hangat bagi tumbuh kembang kader.

​”Sudah saatnya kita bergandeng tangan menjaga estafet kepemimpinan dan menyelaraskan langkah demi menjaga nyala dakwah Muhammadiyah. Lebih dari itu, kami mengajak seluruh civitas akademika UM Kuningan untuk memperkuat komitmen dalam membersamai tumbuh kembang organisasi otonom (Ortom),” lanjut Ridho.

​Ia menekankan bahwa pengabdian di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) merupakan amanah mulia untuk terus merawat ideologi persyarikatan, yang salah satunya diwujudkan melalui dukungan penuh terhadap proses perkaderan.

​”Kita harus sadar bahwa kekayaan tertinggi sebuah organisasi bukan terletak pada seberapa luas tanah atau seberapa megah gedung yang dimiliki, melainkan seberapa banyak Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas yang dihasilkan. Jika bukan kita yang menghidupkan rumah ini, siapa lagi?”

​Sebagai penutup, harapan besar disematkan agar ke depan tidak ada lagi sekat-sekat subjektivitas yang menghambat ruang gerak kaderisasi di lingkungan universitas.

​”Mari kita lupakan ego sektoral organisasi masa lalu. Saat ini, kita berada di bawah payung besar Muhammadiyah. Menghidupkan Ortom adalah investasi masa depan bagi keberlanjutan Universitas Muhammadiyah Kuningan dan Persyarikatan Muhammadiyah secara luas,” tutup Ridho. (eki)