Perang IRAN vs AS-ISRAEL: Adalah Peringatan Sejarah

Bismillah

KUNINGAN (MASS) – Menurut Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran: bahwa yang disebut blokade yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan/pantai Iran, bukan hanya merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan, tetapi juga tindakan yang ilegal dan kriminal.

Tindakan tersebut melanggar Pasal 2(4) Piagam PBB; dan merupakan tindakan agresi berdasarkan Pasal 3(c) Resolusi Majelis Umum PBB 3314 (1974), yang secara eksplisit mencakup blokade pelabuhan atau pantai suatu negara sebagai salah satu bentuk tindakan kriminal dimaksud.
( Rujukan dari :@IsnewsIndonesia
https://chat.whatsapp.com/EIxwwnHRHigJ88zhLVNMt0?mode=gi_t ).

Perang Iran bukan sekadar pertempuran antara satu negara dan agresi asing. Perang Iran bisa jadi adalah panggilan terakhir.

Panggilan bagi Arab dan Persia untuk melupakan luka lama yang tiada guna.

Panggilan juga bagi Sunni dan Syiah untuk memahami dan melihat musuh umat Islam yang sebenarnya.

Panggilan bagi seluruh umat Islam Indonesia khususnya untuk bangkit dari tidur panjang yang jangan hanya berdo’a tanpa ikhtiar konkret menyelamatkan Bangsa Indonesia kedepan lebih baik dimata negara negara dunia. Berdo’a itu penting, tetapi harus dibarengi dengan langkah ikhtiar stratagis yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa dan jangan sampai terjadi sikap saling hujat menghujat antar sesama anak bangsa, komponen Bangsa Indonesia.

Sejarah tidak akan menunggu selamanya. Sejarah bergerak dengan logikanya sendiri dan ketika pintu kesempatan tertutup, sejarah akan membuka pintu lain, pintu yang lebih keras, lebih berat serta kemungkinan lebih berdarah di banyak tempat di bumi ini.

Inilah momen terbaik, untuk menyelamatkan Bangsa Indonesia khususnya, tentu umat manusia seluruhnya yang memiliki hati nurani untuk damai di bumi, damai di hati. Setelah saat ini, kemungkinan sulit untuk mencari jalan terbaik sebagai pilihan dan harapan.

Fahamilah, Iran bukan dengan mata yang melihat rudal dan tank, tetapi dengan mata yang melihat ruh, meyaqini kedzoliman akhirnya pasti hancur, cepat atau lambat dan oleh karena itu ikhtiar konkretnya komponen para pimpinan dan rakyat Iran: BERDO’A, MEMBUAT STRATEGI dan ketika terus dianiaya Zionis, IRAN SIAP BERPERANG.

Mereka dihujani bom selama 50 hari. Pangkalan mereka hancur. Pemimpin mereka gugur. Ekonomi mereka rumit terantisipasi . Namun mereka masih berdiri. Masih melawan. Masih memainkan peran untuk menutup dan membuka Selat Hormuz, sesuai kebutuhan strategi untuk kepentingan mempertahankan kedaulatan dan kehormatan negara dan rakyat Iran. Tetapi tetap siap siaga satu dan tidak ragu untuk meluncurkan rudal ke target kepentingan AS dan Israel.

Kemudian? Apa yang membuat mereka kuat?

Bukan senjata. Bukan teknologi. Bukan aliansi. Tetapi spirit; spirit yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dihancurkan, tidak bisa ditundukkan oleh kekuatan manapun.

Spirit yang lahir dari keyakinan bahwa mereka sedang berperang di jalan kebenaran, bahwa kematian adalah syahadah, bahwa kekalahan tidak akan pernah dialami oleh mereka yang berjuang di jalan Allah.

Negara-negara Teluk gemetar menyaksikan. Bukan hanya karena takut pada rudal Iran, tetapi karena mereka sadar: mereka tidak memiliki spirit itu.

Mereka memiliki minyak. Mereka memiliki uang. Mereka memiliki senjata canggih. Namun mereka tidak memiliki apa yang membuat Iran tidak bisa dihancurkan.

Spirit tidak bisa dibeli dengan dolar.

Spirit tidak bisa dihasilkan oleh kilang minyak.

Spirit tidak bisa dipesan dari pabrik senjata.

Spirit adalah anugerah. Dan anugerah itu hanya turun kepada mereka yang berpegang teguh pada tali Allah, yang tidak bercerai-berai, yang bersatu di atas kalimat yang sama.

Dua Narasi yang Bertarung

Sejak Karbala, ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Bukan karena lukanya terlalu dalam, tetapi karena ada tangan-tangan yang sengaja menggaruknya kembali, setiap kali akan menutup.

Narasi sektarian adalah senjata paling ampuh musuh. Lebih ampuh dari rudal. Lebih mematikan dari bom. Karena rudal hanya membunuh tubuh. Narasi sektarian membunuh persaudaraan.

“Mereka Sunni, kita Syiah.”

“Mereka Persia, kita Arab.”

“Mereka pengikut Yazid, kita pengikut Husain.”

Lalu lupa: Zionis teroris yang membantai anak-anak, pemuda warga Gaza Palestina, memperkosa dengan biadab, tidak peduli siapa Sunni siapa Syiah.

Begitupun Rudal yang membombardir di Beirut lebanon, tidak memilih target berdasarkan mazhab.

Bom yang menghancurkan rumah sakit di Iran tidak bertanya “apakah ini rumah sakit Sunni atau Syiah?”

Zionis tidak peduli.

Zionis hanya ingin menghancurkan.

Zionis hanya ingin membunuh.

Zionis teroris hanya ingin dunia Islam lenyap dari peta kekuatan global.

Dan sementara mereka bersatu di atas kebencian yang sama, kita terpecah oleh perbedaan yang tidak pernah selesai.

Perang Iran telah membuka ruang yang tidak pernah ada sebelumnya.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, negara-negara Arab dihadapkan pada pilihan yang jelas: bersama Iran melawan agresi Zionis, atau bersama Zionis melawan Iran?

Tidak ada jalan tengah. Tidak ada netralitas yang aman.

Beberapa memilih untuk diam. Beberapa memilih untuk mendukung secara diam-diam. Beberapa memilih untuk tetap menjadi klien Zionis yang setia.

Namun rakyat di Kairo, di Riyadh, di Amman, di Rabat, tidak diam. Mereka bertanya: di mana pemimpin kami? Mengapa mereka diam ketika saudara-saudara kami dibantai dengan Biadab?

Tekanan itu tidak akan hilang.

Ia akan terus membesar.

Dan ketika meledak, ia akan meledak dengan dahsyat.

Inilah kesempatan. Kesempatan untuk merekonsiliasi luka lama. Kesempatan untuk membangun persatuan di atas musuh yang sama. Kesempatan untuk membuktikan bahwa Islam bukan sekadar identitas, tetapi kekuatan peradaban.

Jika tidak sekarang, kapan lagi?

Jika tidak di sini, di mana lagi?

Jika tidak oleh kita, oleh siapa lagi?

Arah Sejarah Akan Memaksa

Ada hadits yang jarang kita renungkan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kalian akan perangi jazirah Arab sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Persia sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Ruum sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Dajjal sehingga Allah menangkan kalian atasnya.”
(HR. Muslim, 5161).

Hadits ini sering dibaca sebagai kabar gembira: kemenangan demi kemenangan akan diraih.

Namun ada cara membaca lain: jika umat Islam tidak bersatu dengan kesadaran, maka sejarah akan memaksa mereka bersatu dengan pedang.

Fase penaklukan Jazirah Arab dan Persia bisa terjadi dengan damai, melalui kesadaran kolektif bahwa musuh mereka sama. Bisa juga terjadi dengan keras, melalui konflik internal yang dipaksakan oleh sejarah.

Pilihan ada di tangan Arab dan Persia.

Pilihan ada di tangan Sunni dan Syiah.

Pilihan ada di tangan seluruh umat Islam.

Sejarah sedang mengetuk pintu. Sejarah tidak akan menunggu selamanya. Jika pintu tidak dibuka, sejarah pasti akan mendobraknya.

Sudah banyak suara-suara dari berbagai penjuru.

Dari berbagai latar belakang.

Dari berbagai mazhab.

Semua mengatakan hal yang sama: bersatulah Sunni dan Syiah, sebab jika tidak bersatu, pasti menjadi makanan lezat binatang buas Zionis Teroris Netanyahu !

Ini adalah momentum kembar terakhir.

Setelah ini, jika pintu masih tertutup, sejarah akan bergerak ke fase yang lebih keras.

Perang Iran mengandung dua momentum kembar yang tidak bisa dipisahkan.

Momentum pertama: rekonsiliasi. Kesempatan bagi Arab dan Persia, Sunni dan Syiah, untuk melupakan luka lama dan bersatu di atas
musuh yang sama.

Ini adalah jalan yang lebih ringan, jalan yang dipilih dengan kesadaran, jalan yang tidak memerlukan pertumpahan darah di antara sesama.

Momentum kedua: berhenti berdebat tentang rantai sanad Imam Mahdi. Selama kita sibuk mempersoalkan apakah hadits-hadits tentang Imam Mahdi shahih atau dhaif, selama itu pula kita kehilangan fokus pada musuh sebenarnya.

Padahal, para ulama Ahlussunnah telah sepakat bahwa keyakinan akan kemunculan Imam Mahdi adalah bagian dari akidah. Sebagian ulama bahkan menyimpulkan bahwa hadits-hadits tentang Imam Mahdi telah mencapai derajat mutawatir maknawi, mengingat puluhan hadits dari berbagai jalur periwayatan yang saling menguatkan.

Imam Asy-Syaukani menyebutkan bahwa hadits mutawatir tentang al-Mahdi berjumlah 50 buah.

Fakta ini sering diabaikan oleh mereka yang sibuk memperdebatkan kelemahan sanad tertentu, tanpa melihat bahwa secara keseluruhan, riwayat-riwayat ini membentuk kepastian ilmiah akan kebenaran kemunculan Imam Mahdi.

Sebagian intelektual kita bahkan secara terbuka menyatakan bahwa hadits-hadits tentang Imam Mahdi kontradiktif, lemah, dan mengandung banyak cerita Israiliyat.

Di saat yang sama, di saat masih berkutat pada perdebatan sanad, Barat justru bergerak dengan sangat serius. Mereka tidak meremehkan nubuwah. Mereka justru sangat takut pada nubuah yang akan terjadi.

Jika Imam Mahdi hanyalah mitos, jika kemunculannya hanyalah dongeng, mengapa mereka begitu takut?

Mengapa mereka menghabiskan miliaran dolar untuk mendeteksinya?
Mengapa mereka menyewa banyak profesor untuk mempelajarinya?

Jawabannya: karena mereka tahu bahwa ini bukan mitos. Mereka tahu bahwa nubuwah itu benar dan pasti terjadi.

Mereka tahu bahwa antitesis Dajjal, Imam Mahdi, bukanlah metafora, tetapi realitas yang pasti akan terjadi. Mereka (Zionis ) hanya tidak ingin mengakuinya secara terbuka. Kemungkinan Netanyahu dan Donald Trump memiliki penyakit gila sudah stadium 4.

Cirinya : berkhianat kalau diberi kepercayaan untuk hadirkan perdamaian, pembohong besar, ucapannya tidak sesuai dengan perbuatannya, seperti kalimat bisa hancurkan Iran paling lama dua minggu, nyatanya sudah 53 hari Iran tegak kokoh kuat.

Kemudian umat Islam Indonesia? Inilah momentum yang harus kita umat Islam Indonesia pahami.

Momentum rekonsiliasi adalah kesempatan terakhir untuk bersatu sebelum sejarah memaksa. Dan momentum berhenti berdebat tentang sanad hadist, saat ini kesempatan untuk membebaskan diri dari belenggu keraguan yang sengaja ditanamkan; keraguan yang membuat umat islam indonesia lalai , sementara musuh islam, islamophobia (Anti Islam) mereka terus bergerak tiada hentinya.

Apakah umat islam indonesia akan terus menjadi alat bagi narasi sektarian yang memecah belah, dan terus terjebak dalam perdebatan sanad hadist yang tidak berkesudahan?

Kapankah kita akan menjadi bagian dari gelombang persatuan yang membangun kesadaran peradaban baru?

Bersatulah umat Islam Indonesia dan berikanlah kepercayaan kepada Prabowo Subianto : Presiden RI ; Dalam melakukan langkah-langkah strategis yang tidak mungkin disampaikan detailnya ke publik, karena langkah-langkah strategis itu, ada bagian bagian urgent, rahasia negara, yang tidak harus semuanya diketahui publik.

Terpenting adalah jauhkan pemikiran buruk sangka( Apabila ada),kendati hati hati dan waspada itupun perlu dimiliki.

Namun demikian , kedepankan baik sangka kepada Presiden RI: Prabowo Subianto.

Karena setelah pintu kesempatan tertutup, sejarah tidak akan lagi menawarkan pilihan. Sejarah pasti akan terus bergerak, dan KITA Pasti akan terpaksa mengikutinya, mau tidak mau , dan itulah yang harus difahami bahwa : Demi masa/waktu… Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian.(Terjemahan : QS : Al ‘Asr : 1 – 2.)

والله اعلم
Hasan Allahu Waiyyakum Ajma’in.

Awang Dadang Hermawan

*) Pemerhati Intelijen, Sosial Politik dan SARA

21 April  2026