KUNINGAN (MASS) – “Dengan muraqabatullah seseorang akan terhindar dari perilaku dan perbuatan yang menyimpang”
Pada suatu hari di sebuah kantor, dalam suasana sepi. Pada saat itu dari kantor sebelah, handphone seorang teman sebelah berbunyi. “Aman, nggak ada yang lihat.”
Saat itulah iman kita diuji. Bukan di depan kelas, bukan saat apel, tapi saat kita sendirian. Di situlah muraqabatullah menjadi benteng terakhir.
Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah. Bukan diawasi CCTV, bukan diawasi guru piket atau atasan, tapi diawasi Zat yang tidak pernah tidur, tidak pernah lengah. Allah yang tahu isi hati sebelum lisan berucap.
Orang yang tertanam dalam dirinya_muraqabatullah_ akan selamat dari perbuatan menyimpang. Kenapa? Karena ia malu bermaksiat kepada Allah, meski semua manusia tidak melihat.
Allah Maha Mengawasi, “Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1). “Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19).
Ayat tersebut tamparan halus untuk kita. Allah tahu story yang kita hide, chat yang kita hapus, dan pikiran kotor yang terlintas.
Tatkala Rasulullah SAW ditanya soal Ihsan, beliau menjawab: “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sekali lagi, jika muraqabatullah ini sudah tertanam kuat dalam diri maka kita dapat terhindar dari perilaku dan perbuatan yang tercela. Termasuk tidak akan berani memanipulasi data meskipun tidak ada orang lain yang melihatnya.
Oleh karena itu, latih dari hal kecil. Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata: “Jika engkau mampu menahan diri dari maksiat di kala sepi, itu tanda Allah mencintaimu.”
Mulai malam ini, sebelum tidur, bisikkan ke dalam diri sendiri: “Allah melihatku.”
Sebelum buka HP, sebelum balas chat pikirkan secara matang. Karena benteng terbaik bukan peraturan sebuah lembaga. Benteng terbaik adalah rasa diawasi oleh Allah SWT.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita agar terhindar dari perilaku dan perbuatan yang tercela. Amin.
Penulis : Imam Nur Suharno
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat