Jangan Mimpi Jadi Rising Giant, Tanpa Nilai Tambah Indonesia Sekedar Gudang Bahan Mentah?

Benarkah Indonesia bisa menjadi rising giant hanya karena kaya sumber daya alam?

KUNINGAN (MASS) – Pertanyaan ini layak diajukan setelah Presiden Prabowo, saat meresmikan fasilitas perakitan kendaraan komersial listrik PT VKTR Sakti Industries di Magelang, menegaskan optimisme bahwa Indonesia akan bangkit sebagai kekuatan besar dunia karena memiliki resources yang sangat kuat dan sangat banyak.

Optimisme itu tentu tidak muncul dari ruang kosong. Indonesia memang memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Cadangan nikel, bauksit, tembaga, batubara, dan panas bumi menempatkan Indonesia dalam posisi strategis, baik untuk menopang pertumbuhan ekonomi maupun menjadi fondasi industrialisasi baru.

Namun pertanyaan yang lebih penting adalah ini: apakah kekayaan alam itu sudah benar benar diubah menjadi nilai tambah, atau baru sebatas menjadi bahan baku bagi pertumbuhan negara lain?

Kekayaan alam adalah modal awal

Sumber daya alam harus dipahami sebagai modal, bukan tujuan. Ibarat gabah di lumbung, ia tidak otomatis menciptakan kemakmuran.

Kemakmuran baru lahir ketika gabah itu diolah menjadi beras, makanan, usaha, lapangan kerja, dan pendapatan yang berputar di dalam negeri.

Begitu juga dengan nikel, bauksit, tembaga, dan komoditas lain. Jika hanya dijual mentah atau setengah jadi, Indonesia tetap akan berada dalam posisi lama, yaitu pemasok bahan baku.

Padahal data menunjukkan basis modal kita sangat kuat. Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel 19,16 miliar ton dengan cadangan 5,9 miliar ton. Sumber daya bauksit mencapai 7,79 miliar ton dengan cadangan 2,86 miliar ton.

Tembaga dan batubara juga sangat besar. Di sektor energi, panas bumi Indonesia termasuk salah satu yang terbesar di dunia.

Dengan kapasitas sebesar ini, Indonesia sebenarnya punya cukup bahan untuk membangun hilirisasi yang serius dan menurunkan ketergantungan pada ekspor mentah.

Hilirisasi sudah berjalan, tetapi belum naik kelas

Dalam beberapa tahun terakhir, arah kebijakan hilirisasi mulai menunjukkan hasil. Ekspor Indonesia kini tidak lagi sepenuhnya didominasi bahan mentah.

Porsi ekspor nonmigas yang berasal dari industri pengolahan sudah besar. Hilirisasi nikel juga mendorong lonjakan nilai ekspor secara signifikan. Ini menunjukkan Indonesia mulai bergerak dari sekadar menambang ke tahap mengolah.

Namun persoalannya, banyak produk olahan Indonesia masih berhenti pada tahap awal.

Dalam rantai mineral misalnya, kita masih kuat di feronikel, nikel matte, alumina, atau katoda tembaga.

Itu tentu lebih baik daripada ekspor bijih mentah, tetapi nilai tambah tertinggi belum dinikmati di dalam negeri. Indonesia baru naik satu lantai, belum sampai ke puncak bangunan industrialisasi.

Karena itu, saya melihat Indonesia belum sepenuhnya lepas dari ketergantungan pada komoditas.

Yang berubah baru bentuknya. Dahulu kita menjual bahan mentah, sekarang kita mulai menjual barang olahan awal berbasis komoditas.

Ini kemajuan, tetapi belum cukup. Ketergantungan akan tetap besar selama struktur ekonomi masih sangat sensitif terhadap harga komoditas dunia.

Mengapa pemanfaatannya belum maksimal

Masalah utamanya bukan pada kurangnya sumber daya, melainkan pada kualitas pemanfaatannya. Indonesia selama ini kuat di tahap ekstraksi dan mulai tumbuh di tahap pengolahan awal, tetapi belum konsisten membangun industri lanjutan.

Hubungan antara tambang, manufaktur, riset, pendidikan, pembiayaan, dan teknologi belum menyatu secara kokoh.

Hilirisasi bukan sekadar melarang ekspor bahan mentah lalu membangun smelter.

Hilirisasi adalah proyek besar yang membutuhkan listrik yang cukup, logistik yang efisien, pelabuhan yang memadai, kepastian regulasi, dan sumber daya manusia yang mampu masuk ke industri yang lebih kompleks.

Tanpa itu, Indonesia akan terus berhenti di produk antara, bukan naik ke produk akhir bernilai tinggi.

Tantangan lain adalah soal arah transisi ekonomi. Kita masih sangat bergantung pada komoditas yang mudah dijual hari ini, seperti batubara, sementara potensi energi bersih seperti panas bumi justru belum dimanfaatkan maksimal.

Ini menunjukkan bahwa strategi industrialisasi kita masih sering berorientasi jangka pendek, belum sepenuhnya diarahkan pada daya saing jangka panjang.

Rising giant harus dibuktikan dengan nilai tambah

Karena itu, narasi rising giant hanya akan bermakna jika Indonesia berani naik kelas.

Ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada banyaknya smelter atau besarnya ekspor hasil olahan awal.

Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh Indonesia mampu membangun industri antara, industri akhir, transfer teknologi, dan lapangan kerja berkualitas di dalam negeri.

Nikel tidak boleh berhenti di feronikel atau matte. Bauksit tidak boleh berhenti di alumina. Tembaga tidak boleh berhenti di katoda.

Semua komoditas strategis harus punya peta jalan yang jelas dari hulu sampai hilir, hingga menjadi produk akhir yang memperkuat struktur industri nasional.

Di situlah letak ujian sesungguhnya. Indonesia memang memiliki resources yang sangat kuat dan sangat banyak.

Tetapi kekuatan sejati bangsa ini tidak lahir dari banyaknya isi bumi semata. Kekuatan itu lahir dari kemampuan mengubah kekayaan alam menjadi kedaulatan industri.

Jika itu berhasil, Indonesia tidak hanya keluar dari jebakan eksportir komoditas mentah, tetapi benar benar berdiri sebagai rising giant yang disegani.

Jika gagal, kita hanya akan tetap menjadi gudang besar yang ramai didatangi pembeli, tetapi tidak pernah sungguh sungguh menjadi pemilik masa depan sendiri.

Penulis : Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta