KUNINGAN (MASS) – Produksi padi di Kabupaten Kuningan terus menunjukkan tren positif dalam dua tahun terakhir. Surplus beras meningkat signifikan dari 93 ribu ton pada 2024 menjadi sekitar 120 ribu ton pada 2025, menjadikan Kuningan sebagai salah satu daerah penopang pangan strategis di Jawa Barat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr Wahyu Hidayah mengungkapkan sepanjang 2025 produksi padi mencapai 396.873 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara 254.435 ton beras. Dengan kebutuhan konsumsi masyarakat sekitar 134.191 ton per tahun, Kuningan mencatat surplus beras sebesar 120.244 ton.
Memasuki awal 2026, capaian sektor pertanian Kuningan juga terbilang progresif. Hingga akhir Maret, sekitar 78 persen lahan sawah atau 20.310 hektare dari total 26.016 hektare telah dipanen. Kata Wahyu angka ini lebih cepat dibanding sejumlah daerah lain yang baru memulai panen pada April.
“Ini menunjukkan Kuningan tidak hanya surplus, tetapi juga lebih progresif dalam mengawal musim tanam dan panen. Kita mengisi pasokan pasokan beras nasional sejak awal tahun,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Meski capaian produksi meningkat, Wahyu mengingatkan adanya tantangan ke depan seperti perubahan iklim, dinamika pasar global, hingga risiko gagal panen. Untuk itu, peran penyuluh pertanian dinilai perlu ditingkatkan.
Menurutnya, penyuluh tidak lagi cukup berfungsi sebagai pendamping teknis, tetapi harus bertransformasi menjadi agen perubahan di tingkat petani.
“Penyuluh harus naik kelas menjadi penggerak. Mampu mengedukasi, memengaruhi, dan memastikan petani siap menghadapi perubahan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti masih adanya keluhan petani terkait minimnya kehadiran penyuluh di lapangan. Hal tersebut, menurutnya, harus menjadi bahan evaluasi serius.
“Kita harus jujur, masih ada petani yang merasa belum pernah didampingi penyuluh. Ini peringatan keras dan tidak boleh terjadi lagi,” ujarnya.
“Tidak boleh ada lagi penyuluhan yang tidak terlihat oleh petani. Penyuluh harus hadir, aktif dan menjadi solusi di lapangan,” tambahnya.
Sebagai langkah konkret, Diskatan mendorong perubahan pola kerja penyuluh agar lebih proaktif, solutif, dan berbasis kebutuhan petani, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi dan pasar.
Wahyu menekankan tiga kekuatan utama yang harus dimiliki penyuluh ke depan, yakni penguasaan pengetahuan, kemampuan membangun kepercayaan petani, serta integritas sebagai teladan.
Ia optimistis, dengan modal surplus yang terus meningkat dan sistem tanam yang semakin baik, Kuningan mampu terus berkontribusi dalam mendukung swasembada pangan nasional. Namun, kunci keberhasilan tetap terletak pada kualitas dan kehadiran penyuluh di lapangan.
“Ini bukan sekadar capaian daerah, tetapi bagian dari tanggung jawab kita dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia,” pungkasnya. (didin)