KUNINGAN (MASS) – Bagas Fuadi, seorang pemuda asal Kuningan, berbagi kisahnya sebagai mahasiswa yang menempuh pendidikan di Hadramaut, Yaman. Selama lebih dari empat tahun tinggal di tengah negara yang sering dilanda konflik, Bagas mengungkapkan tantangan yang dihadapinya serta dampak yang dirasakannya.
Bagas menjelaskan meskipun Yaman sering dilanda gejolak, dampak yang dirasakannya selama ini terbilang minor, dampak yang terjadi di luar kehancuran massal (seperti korban jiwa masif, runtuhnya pemerintahan total, atau kehancuran total kota). Namun dampak ini bersifat sekunder atau tidak langsung, namun tetap mengganggu kehidupan sehari-hari, struktur sosial, dan ekonomi secara signifikan.
“Contohnya, ketika ada rudal yang mengenai satu daerah, saya disana tidak langsung terdampak secara besar. Namun, kami merasakan imbasnya, seperti kesulitan mendapatkan bensin selama beberapa hari karena pom bensin tidak beroperasi,” ungkapnya saat diwawancara kuninganmass.com Kamis (5/3/2026).
Ia juga mengungkap, bagaimana pemadaman listrik juga menjadi masalah yang sering terjadi hampir sering dirasakan. Meski begitu, Bagas menyatakan pengalaman ini memberinya pelajaran berharga tentang ketahanan dan kesabaran.
“Kalau pembangkit listrik terkena dampak konflik, bisa dua-tiga hari tanpa listrik. Dampaknya, internet juga mati dan semua aktivitas terganggu,” tambahnya.
Baru-baru ini, pada tahun baru 2026, Bagas mengalami situasi yang lebih menantang. Dengan semua pengalaman ini, Bagas merasa bersyukur bisa belajar di luar negeri meskipun dalam keadaan yang kurang kondusif. Ia menyadari bahwa kehidupan di Hadramaut membentuknya menjadi pribadi yang lebih kuat dan adaptif.
“Kami menghadapi situasi sulit di akhir tahun lalu. Meski tidak berdampak langsung pada kami, ketegangan semakin meningkat. Kami harus lebih waspada, Saya belajar banyak tentang kehidupan dan menghargai keamanan, meskipun dalam situasi sulit,” tambahnya.
Bagas juga menyoroti pentingnya pendidikan di tengah konflik. Ia percaya ilmu yang didapatnya akan sangat berharga untuk masa depan. “Iya ingin memanfaatkan pendidikan ini untuk kembali membangun daerah asal saya, Kuningan,” pungkasnya. (raqib)

















