KUNINGAN (MASS) – Bulan Ramadhan akan kembali hadir. Ramadhan ibarat sebuah institusi pendidikan yang tahun ajaran barunya senantiasa dibuka setiap tahunnya dengan masa pendidikan satu bulan penuh. Dalam masa pendidikan, para peserta didiknya ditempa dengan berbagai program dan pelatihan secara profesional dan proporsional yang bersumber dari kurikulum langit.
Hasil akhir dari proses pendidikan selama Ramadhan ini akan melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul, paripurna serta berintegritas tinggi (takwa) (QS Al-Baqarah [2]: 183). Karena orang yang bertakwa memiliki waskat (pengawasan melekat). Yaitu, pengawasan dari Allah SWT, sehingga ada atau pun tidak ada yang mengawasinya, orang yang bertakwa akan selalu profesional dan apik dalam menjalani tupoksi (tugas pokok dan fungsi), bukan ABS (asal bapak senang).
SDM hasil didikan Ramadhan mampu menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas. Dengan kehadiran Allah SWT (muraqabatullah) seseorang akan terjaga integritasnya. SDM berintegritas dalam menjalankan aktivitasnya, apapun itu jabatan dan porfesinya, orientasinya adalah Tuhannya. Sehingga, ada ataupun tidak ada atasan atau pimpinan yang mensupervisinya, SDM yang berintegritas akan tetap profesional dalam bekerja.
Seringkali masyarakat disuguhkan berita kekecewaan dari para pimpinan, baik lembaga swasta maupun pemerintah, ketika melakukan inpeksi mendadak, mendapati oknum pegawai yang kurang disiplin. Hal itu bisa jadi akibat dari salah dalam orientasi bekerja.
SDM dalam bekerja akan sangat dipengaruhi oleh sikap dan orientasinya. Dua hal yang membedakan, orientasi SDM bekerja untuk kerja dan bekerja untuk beribadah. Di manakah posisi orientasi kita selaku bawahan maupun atasan dalam bekerja?
Bekerja untuk Kerja
Orientasi orang yang bekerja untuk kerja akan cenderung menghalalkan segala macam cara untuk tujuan dalam memperoleh hasil sebanyak mungkin. Orang yang bekerja untuk kerja akan lebih cenderung memperhatikan hasil daripada proses. Ia akan melakukan segala macam cara untuk memperoleh yang sekalipun dengan cara yang batil. Padahal hal itu terlarang dalam agama.
Ketahuilah, pertanggungjawaban terkait harta dua kali dibandingkan dengan yang lainnya, terkait umur untuk apa dihabiskan, masa muda untuk apa digunakan, ilmu sudahkan diamalkan. Terkait harta, bagaimana cara memperoleh dan bagaimana cara menggunakannya (HR Tirmidzi dan Thabrani).
Bekerja untuk Beribadah
Orang yang bekerja untuk ibadah akan senantiasa memperhatikan proses dalam memperoleh hasil. Untuk mendapatkan hasil yang baik diperoleh dengan cara yang baik pula. Yakni, cara yang dibenarkan agama. Alquran telah memperingatkan bahwa harta itu adalah ujian. Harta merupakan ujian yang sangat berat, dapat menyibukkan hati ketika menikmatinya, dan dapat pula membuat hati terlena dari mengingat Allah SWT.
Oleh karena itu, orientasi kerja yang harus senantiasa terpatri dalam jiwa adalah motivasi untuk beribadah. Bekerja menjadi sarana ibadah. Untuk itu, kita persembahkan yang terbaik dalam bekerja. Sebagai ibadah, bekerja tidak lagi sebatas dorongan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Tetapi, yang jauh lebih penting adalah meningkatkan kualitas pekerjaan.
Dengan demikian, orang yang berpuasa karena landasan keimanan dan ihtisaban, maka selesai menempuh pendidikan Ramadhan menjadi SDM yang berintegritas. Yaitu, SDM yang orientasinya dalam bekerja hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.
Semoga Allah membimbing kita agar mampu meluruskan orientasi bekerja hanya untuk beribadah kepada-Nya serta memperoleh hasil yang halal dan berkah. Amin.
Imam Nur Suharno
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat








