KUNINGAN (MASS) – Hingga saat ini, proses pembuatan SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi) untuk dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kuningan masih belum mencapai 100%.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, Edi Martono, menyatakan dari total sekitar 140 dapur yang ada, hanya sekitar 120 dapur yang sudah memiliki sertifikasi. Ini menunjukkan proses masih berlangsung, dengan pencapaian sekitar 80% saat ini.
Dalam wawancaranya dengan Kuninganmas.com pada Jumat, 30 Januari 2026, Edi Martono menjelaskan lamanya proses pembuatan SLHS bukan disebabkan oleh Dinas Kesehatan, melainkan oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).
Saat ini, Labkesda yang diperlukan untuk memenuhi syarat tersebut tidak tersedia di Kuningan, sehingga harus melakukan pemeriksaan di Cirebon atau Bandung.
“Proses di Dinas Kesehatan tidak memperlambat sama sekali. Lamanya itu terjadi di Labkesda, karena ada berbagai pemeriksaan yang harus dilakukan secara detail dan alat pemeriksaannya tidak ada di Kuningan, harus ke Bandung atau Cirebon” tutur Edi.
Pemeriksaan ini mencakup berbagai aspek penting seperti sanitasi dan penggunaan air sumur yang digunakan dalam proses produksi makanan atau pembersihan. Ia juga menjelaskan pentingnya sertifikasi ini untuk memastikan kualitas makanan yang diproduksi dapur MBG di Kabupaten Kuningan.
“Dengan adanya SLHS ini kan nanti makanan yang dihasilkan memenuhi kriteria sanitasi yang baik dan aman untuk dikonsumsi masyarakat,” tambahnya.
Meski masih dalam proses, pihak Dinas Kesehatan berkomitmen untuk tidak memperlambat proses pembuatan SLHS dengan terus berkoordinasi dengan pihak terkait. Ia berharap dalam waktu dekat semua dapur sudah memiliki SLHS.
“Dengan sudah adanya SLHS kan ini demi menjaga kualitas makanan dan menjaga sanitasi, yang merupakan langkah konkret agar makanan ini Higiene,” pungkasnya. (raqib)







