KUNINGAN (MASS) – Suasana khidmat menyelimuti Aula Masjid At-Taufiq Kuningan Islamic Center (KIC), Kabupaten Kuningan, Minggu (25/1/2026). Tempat tersebut menjadi momentum Peringatan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-103 yang dirangkaikan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah.
Kegiatan Harlah juga menjadi ajang silaturahmi dan konsolidasi warga NU lintas generasi, mulai dari tokoh NU, pimpinan pesantren, hingga pengurus Muslimat dan Fatayat NU.
Acara dihadiri langsung oleh Bupati Kuningan Dr Dian Rachmat Yanuar bersama Wakil Bupati Tuti Andriani, unsur Forkopimda, jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah NU, badan otonom (Banom) NU, Muslimat, Fatayat, Banser, Pagar Nusa, serta tokoh lintas organisasi kemasyarakatan Islam.
Bupati Kuningan dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat Hari Lahir ke-103 Nahdlatul Ulama. Ia menuturkan NU memiliki peran strategis dalam sejarah bangsa sekaligus pembangunan daerah.
“NU bukan sekadar organisasi keagamaan, tetapi telah menjadi kekuatan sosial, kultural, dan kebangsaan. Selama lebih dari satu abad, NU konsisten merawat tradisi sekaligus mampu membaca tantangan zaman,” ujar Dian.
Ia juga menyoroti berbagai tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama, seperti polarisasi sosial, berkembangnya paham ekstrem di ruang digital, hingga persoalan lingkungan dan perubahan iklim.
“Kami membutuhkan pendampingan para kiai dan ulama. Membangun daerah tidak cukup hanya dengan infrastruktur dan angka statistik, tetapi juga membangun karakter, iman, dan akhlak. Di sinilah peran NU sangat vital,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia H Enda Rohenda menyampaikan, peringatan Harlah NU tahun ini memiliki makna ganda. Secara kalender Hijriah, NU telah berusia 103 tahun, sementara secara Masehi telah melampaui satu abad sejak didirikan pada 1926.
“Ini momentum double combo. NU lahir di bulan Rajab, bulan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Jika Isra Miraj adalah perjalanan spiritual Rasulullah menuju Sidratul Muntaha, maka NU adalah perjalanan kolektif umat dalam mengawal Indonesia menuju peradaban yang mulia,” ungkapnya.
Ia menegaskan, nilai-nilai Isra Miraj, khususnya perintah salat, harus menjadi refleksi bagi warga NU dalam berkhidmat kepada bangsa.
“Salat adalah tiang agama, NU adalah salah satu tiang penjaga NKRI. Maka ber-NU harus dilandasi keikhlasan dan ketulusan,” pungkasnya. (didin)







