Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass
Muhammad Yusuf Azzam, Mahasiswa Politeknik Manufacturi Bandung. (Foto: dok Azzam)

Netizen Mass

Potensi dan Peran Pemuda Untuk Pembangunan Umat dan Bangsa

KUNINGAN (MASS) – Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup terpisah dari orang lain. Keberadaan manusia selalu berkaitan dengan lingkungan dan sesamanya. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menegaskan konsep al-insān madaniyyun bi al-ṭab‘, bahwa manusia secara fitrah merupakan makhluk berperadaban dan bermasyarakat.

Artinya, tidak ada manusia yang mampu menjalani kehidupan secara mandiri tanpa bantuan dan peran orang lain. Oleh sebab itu, sikap saling membantu dan memberi manfaat merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, “Khairunnās anfa‘uhum linnās”, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Kesadaran akan hakikat tersebut seharusnya membentuk pola pikir setiap individu agar keberadaannya membawa manfaat bagi orang lain. Semakin besar kontribusi yang diberikan kepada lingkungan, semakin tinggi pula nilai kemanusiaannya. Kebermaknaan hidup tidak diukur dari apa yang dimiliki, melainkan dari sejauh mana seseorang mampu memberi.

Pemuda dan mahasiswa memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan umat. Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan dan kemunduran suatu peradaban sering kali dipengaruhi, bahkan digerakkan, oleh peran kaum muda. Al-Qur’an pun mengabadikan kisah-kisah pemuda sebagai teladan, seperti Ashabul Kahfi dan Ashabul Ukhdud.

Dalam sejarah Islam, perjuangan Rasulullah SAW juga didukung oleh para pemuda seperti Ali bin Abi Thalib, Mush‘ab bin Umair, dan Zubair bin Awwam. Demikian pula dalam sejarah Indonesia, peran pemuda sangat menentukan, sebagaimana tercermin dalam perjuangan tokoh-tokoh seperti Bung Tomo serta peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang menjadi tonggak persatuan bangsa.

Setidaknya terdapat tiga potensi utama yang dimiliki pemuda dan mahasiswa. Pertama, kekuatan fisik yang relatif optimal. Pada usia muda, kondisi fisik memungkinkan seseorang melakukan berbagai aktivitas produktif yang tidak mudah dilakukan oleh anak-anak maupun orang lanjut usia. Kedua, cita-cita dan ambisi yang tinggi.

Pemuda umumnya memiliki impian besar yang menjadi sumber motivasi untuk berjuang dan bekerja keras. Apabila diarahkan secara positif, cita-cita tersebut akan memberikan dampak besar bagi kemajuan individu dan bangsa. Tidak ada kemajuan tanpa mimpi dan visi masa depan. Ketiga, semangat dan keberanian yang tinggi. Pemuda memiliki daya juang serta keberanian untuk mencoba hal-hal baru, yang sangat penting bagi pengembangan diri dan kemajuan masyarakat.

Apabila ketiga potensi tersebut dioptimalkan, pemuda memiliki peluang besar untuk berperan aktif dalam pembangunan umat dan bangsa. Kesadaran akan potensi ini menjadi penting karena pemuda memegang peran strategis dalam kehidupan sosial. Pertama, pemuda berperan sebagai agen perubahan (agent of change). Berbagai ketimpangan sosial seperti ketidakadilan, kesenjangan ekonomi, dan penyalahgunaan kekuasaan membutuhkan keberanian untuk diubah. Pemuda, dengan idealisme dan independensinya, memiliki posisi strategis untuk mendorong perubahan tersebut.

Kedua, pemuda berperan sebagai agen pembangunan (agent of development). Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat cepat dan menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi. Bangsa yang gagal menyesuaikan diri akan tertinggal. Pemuda, dengan semangat dan keberaniannya dalam mengadopsi hal-hal baru, memiliki peran penting dalam memanfaatkan kemajuan teknologi untuk pembangunan bangsa.

Ketiga, pemuda merupakan calon pemimpin masa depan (the future leader). Kepemimpinan bersifat estafet. Pemimpin hari ini akan digantikan oleh generasi berikutnya, yaitu para pemuda dan mahasiswa saat ini. Oleh karena itu, mereka harus mempersiapkan diri sejak dini untuk mengemban tanggung jawab kepemimpinan, sebagaimana ungkapan, “student today, leader tomorrow.”

Peran besar tersebut tentu tidak mudah dijalankan. Karena itu, pemuda dan mahasiswa perlu melakukan berbagai persiapan. Pertama, persiapan fisik dengan menjaga kesehatan melalui pola hidup sehat. Kedua, persiapan mental dan spiritual melalui pembinaan karakter, akhlak, dan nilai-nilai keagamaan. Ketiga, persiapan ilmu pengetahuan, karena ilmu merupakan kunci utama keberhasilan dunia dan akhirat. Tanpa ilmu, berbagai peran strategis tidak mungkin dijalankan secara optimal. Keempat, persiapan jaringan atau relasi. Pembangunan bangsa membutuhkan kerja kolektif, sehingga kemampuan bekerja sama dan membangun jejaring di tingkat lokal, nasional, bahkan internasional menjadi sangat penting.

Dengan menyadari potensi dan peran strategis yang dimiliki serta mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh, pemuda dan mahasiswa dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun umat dan bangsa. Sebaliknya, jika potensi tersebut diabaikan dan masa muda dihabiskan tanpa persiapan, maka masa depan bangsa pun berisiko kehilangan harapan.

Oleh: Muhammad Yusuf Azzam, Mahasiswa Politeknik Manufacturi Bandung

Advertisement
Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Trending

You May Also Like